
" Nes, minggu depan Saleko pulang lho.Dah tau belum?" tanya Sutar saat mereka bertemu di teras masjid usai mengajar TPA sore itu
" Beneran?? "
"iya, kemarin aku habis telpon. katanya dapat cuti 3 hari, makanya dia mau pulang sekalian ada yang mau diurusi disini"
"oh..kamu sering ya telponan ma dia?"
" gak sering sih. kadang kalo kangen, akunya yang main ke Bandung sama Tris, adiknya.nginep beberapa hari disana..dia kan tinggal di asrama sendiri..memangnya kamu gak pernah telponan ma dia?"
" belum pernah. lagian aku juga gak tau no telponnya..emangnya boleh aku telpon dia lewat kantornya? apa gak kenapa napa?"
" ya paling nanti ditanya sih..telpon dari mana? trs siapanya? ya dinterogasi gitu..namanya juga tentara"
" susah ya.."
" tenang saja, nanti sama aku. dijamin aman"
"serius?"
"iyalah, kalo mau besok aku antar ke wartel..nanti aku dulu yang nyambungin, kalo sudah ketemu baru kamu yang ngomong, gimana?"
" boleh deh. besok jemput aku ya habis dhuhur aja yang longgar"
" oke, besok ku jemput ya"
__ADS_1
----------'---
Tut tut tut..
" Halo, selamat siang. bisa ketemu dengan Saleko..dari keluarganya di kampung" suara Sutar bergema di bilik wartel.sementara disampingnya, Agnes menunggu dengan hati berdebar..ini pertama kalinya dia menelpon seorang cowok, meski cowok itu adalah.
kekasihnya..tapi Agnes masih merasa canggung.
" Ya halo, dengan Saleko disini" terdengar suara Saleko menjawab telpon dari seberang.
Sutar pun segera memberikan gagang telpon itu ke Agnes, dengan bahasa isyarat dia meminta Agnes mendekat, sementara dia memberi kode untuk menunggu di luar bilik..
" Hhh halo..Assalamualaikum, mas" suara Agnes terbata memberi salam
Nampak Saleko terkejut dengan suara yang didengarnya..apakah ini mimpi,?
Agnes menelponnya?
" Yang, benarkah ini kamu?" tanya Saleko masih tak percaya
" iya Mas ,,ini Agnes. aa pakah Agnes mengganggu?"
" oh..tidak! sama sekali tidak. Mas senang sekali yayang mau menelpon mas..Maaf kalo Mas sekarang jarang kirim surat ya"
" iya gak pa pa mas.Agnes ngerti kok. mas, kapan pulangnya?"
__ADS_1
" InsyaAllah minggu depan mas pulang, ada yang mau mas urusi di rumah..nanti yayang kerumah ya..Mas pengen ngobrol banyak sama yayang..kalo di rumahnya yayang, mas gak leluasa ngobrolnya dan gak bisa puas cerita..ntar kayak dulu itu, niatnya apel malah ngobrolnya sama ortunya yayang" tawa Saleko mengingatkan momen pertama kali dia apel ke rumah Agnes
" emang gak papa mas kalo ketemuan di rumah Mas? orang tua mas gimana? Agnes juga malu mas"
" gak papa ,Yank. keluargaku sudah tau hubungan kita kok..tenang saja..lagian kan kita gak ngapa ngapain..cuma ngobrol saja"
" iya mas, insyaAllah..sudah ya mas, pulsanya gak cukup nanti. salam kangen"
" salam kangen juga, yayangku"
"assalamualaikum"
" waalaikumsalam"
tutttttt...lega, itulah yang dirasakan Agnes setelah mendengar suara Saleko..ternyata, Saleko masih menganggapnya kekasih.
" sudah puas telponnya?" tanya Sutar yang melihat Agnes keluar dari bilik
" belum sih. tapi uangnya nanti gak cukup kalo kelamaan" sahut Agnes sembari membayar biaya telponnya ke kasir wartel..
" 78.500 rupiah mbak," mas penjaga wartelnya memberikan slip biaya panggilan dan menerima uang 100 ribuan dari Agnes.
Yah..demi bisa menelpon kekasihnya, Agnes harus merelakan uang tabungannya selama 2 bulan itu..pacaran jarak jauh, memang berat di ongkos..
hufft..lagi lagi Agnes harus berkorban demi cinta dan kesetiaannya..
__ADS_1