Karena LUSAN, Cinta Kita Kandas

Karena LUSAN, Cinta Kita Kandas
cita cita bapak


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah tepat saat waktu azan asar..


Bergegas Agnes masuk ke kamarnya, menaruh tas ranselnya dan merebahkan dirinya di tempat tidur mungilnya itu..tak perduli dengan peluh yang masih membanjiri tubuhnya setelah perjalanan melelahkan di tengah terik matahari..


Agnes hanya ingin tidur sebentar, merasakan kembali kasurnya yang ia tinggal sehari semalam..


' huhh...akhirnya kembali ke kamar ini lagi, bahkan belum genap seminggu' gumannya sambil melihat langit rumahnya..


Dilepasnya kerudung birunya dan mengambil sebuah buku tipis untuk mengipasi rambutnya yang basah kena keringat..


Bahkan setelah selesai membersihkan diri dan menuaikan kewajibannya, Agnes masih enggan keluar kamarnya..meski jam makan malam sudah datang..


'Tok tok tok!'


" Nduk, makan dulu..sudah malam" terdengar suara khas bapaknya memanggil dari luar

__ADS_1


Suara yang ia rindukan , suara yang membuatnya kembali..suara yang selama ini selalu mendukung Agnes..


Tak kuasa, airmata Agnes kembali meleleh ketika mengingat kemarin dia tlah mengambil keputusan nekat untuk pergi dari rumah, tanpa mempertimbangkan perasaan bapaknya yang mungkin akan sedih..


" Nduk?" lagi lagi suara bapaknya memanggil


" iya ,pak..nanti Agnes makan..ini mau istirahat dulu" jawab Agnes..sejujurnya Agnes belum berani keluar kamarnya dan bertemu dengan orang tuanya..malu!


Malu dengan dirinya sendiri..malu dengan sebutan "Minggat" yang memang pantas disematkan padanya, mengingat kelakuannya pergi dari rumah tanpa pamit..walaupun Agnes sudah menuliskan surat pamita, tapi tetap saja kata kata " minggat " memang lebih cocok dengan situasinya.


Tak berapa lama, terdengar suara lampu yang dimatikan, pintu rumah yang dikunci menandakan bahwa penghuni rumah itu tlah bersiap untuk istirahat..


'krucuk krucuk'


Agnes mengelus perutnya yang telah berbunyi dari tadi..Dia sadar, dari siang bahkan belum makan apa apa, wajar jika perutnya melilit dari tadi..hanya ego nya saja yang membuatnya bertahan untuk tidak menyentuh makanan yang tersedia di meja makan..

__ADS_1


Setelah dirasa rumah sepi, Agnes berjalan keluar kamarnya mengendap endap menuju ruang makan.


Dengan hati hati diambilnya nasi dan lauk yang ada, tak ingin terpergoki sedang makan, Agnes memilih membawa nasi yang sudah diambilnya ke dalam kamarnya..tak lupa dengan segelas air putih..


Sayup sayup terdengar suara obrolan di kamar orang tuanya..Agnes yang sedang mengunyah menghentikan aktivitasnya demi mendengar obrolan orang tuanya.


" Pak, Agnes sudah mau makan?" tanya ibunya


" tadi sudah tak suruh makan bu..katanya masih capek"


" tadi pulang jam berapa mereka pak?"


" bapak juga gak tau bu..bapak pulang dari sawah, Agnes sudah di kamarnya.. Bapak juga belum liat dia..kata kakaknya, dia gak keluar kamar sejak datang."


" besok ibu jangan tanya macam macam sama Agnes..biarkan dia tenang dulu..kasihan dia akan semakin tertekan..bapak tidak mau Agnes kabur lagi..dia satu satunya anak kita yang berprestasi, bu..selama ini, prestasinya di sekolah gak pernah mengecewakan..sayang kalo dia gak bisa mengejar cita citanya..lagian cuma dia yang bisa kuliah, kakak kakaknya gak ada yang kuliah..apa salahnya kita ngoyo sedikit agar dia bisa kuliah sampai selesai..kalo bapak inginnya memberikan bekal ilmu setinggi tingginya buat anak, biar bisa jadi orang ,bu..bisa membuat bapak bangga..keluarga besar kita belum ada yang kuliah..belum ada yang punya anak sarjana ,bu.." lagi lagi bapak Agnes menerawang mengingat cita citanya juga ingin mempunyai anak sarjana..

__ADS_1


Cita cita yang ia pendam sekian lama, dan harapan satu satunya hanyalah Agnes..karena prestasi Agnes di sekolah yang tidak mengecewakan, membuatnya bapaknya juga semangat untuk membiayai kuliah Agnes bagaimanapun caranya.


__ADS_2