
Berhari hari sejak hari itu, Agnes memilih untuk tidak lagi berharap dengan Saleko..ia lebih suka mengubur perasaannya dalam dalam..bahkan diapun juga mulai menjaga jarak dengan Sutar.
Lebih baik dia menghindari semua hal yang berhubungan dengan Saleko, agar bisa segera move on..Life must go on..
Dan masa depannya masih panjang..lebih baik fokus sama persiapannya ikut sipenmaru beberapa bulan lagi.
" Nes, tolong buatkan minum untuk tamu ibu" pinta ibunya Agnes yang nampak baru turun dari boncengan motor seorang pria muda ..pria yang masih asing buat Agnes
" iya, bu" jawab Agnes sambil membuat minum ke dapur
" Duduk sini ,Nes..tolong temani mas nya ini dulu. ibu mau mandi dulu, baru ke pasar lagi" pinta ibunya Agnes sambil berlalu meninggalkan Agnes dan pria asing itu.
Agnes hanya mengiyakan dan duduk terdiam, jauh dari pria asing itu sambil asyik dengan membaca soal soal ujian masuk perguruan tinggi..
Sementara pria asing yang nampak berusia 25 tahunan itu, memandangi Agnes tanpa jeda. sesekali tersenyum manis melihat Agnes yang nampak serius dengan bukunya.
Hingga suara ibu Agnes memecah keheningan di antara mereka.
" loh kok didiamkan minumannya" ibu Agnes ikut duduk di sofa rumah itu.
__ADS_1
Pria itu mendehem dan segera meraih segelas teh manis yang disuguhkan Agnes padanya.
" Nes, tadi masak apa?" tanya ibunya
" kering tempe ,Bu"
" Tolong ambilkan buat ibu..pengen nyicipi masakan kamu"
Agnes segera ke dapur dan mengambilkan pesanan ibunya.
" ini, bu. Agnes ke kamar dulu ya bu..mau melanjutkan belajar di kamar"
Di kamar itu Agnes merebahkan di tempat tidur sempitnya dan melanjutkan membaca..
Masih terdengar suara obrolan pria asing itu dengan ibunya ,yang dia ketahui ternyata adalah salah satu petani cabe langganan ibunya di pasar. Dan sukses bertani cabe di usianya segitu, tapi masih belum berumah tangga..
Terdengar juga ibunya menceritakan tentang Agnes kepada pria itu.
Tak lama kemudian ibunya pamit ke pasar lagi berboncengan dengan motor sport milik pria itu.
__ADS_1
Kedatangan pria asing itu bersama ibunya, sontak menjadi bahan perbincangan tetangga Agnes..karena setau mereka, selama ini Agnes diketahui sedang menjalin hubungan Saleko..
Apalagi kemudian, pria itu juga sering ke rumah Agnes dengan alasan disuruh ibunya mengambil sesuatu.
Agnes yang memang sedang menutup dirinya, dan fokus melanjutkan kuliahnya..nampak mulai terganggu dengan pria itu.
Desas desus berkaitan dengan pria yang sering ke rumah Agnes pun akhirnya diketahui tetangganya sebagai calon yang akan dijodohkan ibunya itu, setelah ibu Agnes sendiri yang membenarkan perihal perjodohan itu..
Para tetangga pun mulai heboh..hingga akhirnya berita itupun sampai ke telinga Agnes..
Sungguh demi apapun, Agnes syok dengan berita yang disampaikan tetangganya itu. Apalagi tetangganya itu juga mengatakan kalo ibunya Agnes gak akan mengalah dengan keinginan Agnes untuk kuliah..Dia akan tetap memaksa Agnes menerima perjodohan itu bagaimanapun caranya..
Agnes merasa sendiri, merasa tidak dianggap bahkan oleh ibunya sendiri..alasan macam apa itu? ibunya tega memutuskan harapan Agnes sekolah tinggi dengan alasan ,anak perempuan sekolah tinggi buat apa, ujung ujungnya juga di dapur..lagian pria yang dijodohkan Agnes ini, sudah cukup mapan..dah punya rumah sendiri, punya sawah luas dan juga sudah siap menikah..jodoh yang sempurna..begitu yang ada di pikiran ibu Agnes.
Sungguh pemikiran kolot yang berbanding terbalik dengan bapak Agnes yang memberikan kesempatan anaknya untuk bersekolah setinggi tingginya..
Agnes tak mampu lagi berfikir jernih. bayang bayang nikah muda, berkutat di dapur , ngurus anak anak dan suami, sungguh menyiksanya..hingga dia berpikir untuk mengambil jalan pintas.
.
__ADS_1