
Setelah semua camaru berkumpul dan menyelesaikan tugasnya termasuk para camaru yang pingsan, semua dikumpulkan di tengah lapangan tenis menjadi lingkaran besar..disertai semua panitia juga ikut berkumpul di area itu..
" baiklah adik adik semua..tak terasa sudah sampai di penghujung acara ospek tahun ini..sedikit evaluasi dari kami selaku panitia..apa yang sudah adik adik lalui beberapa hari ini, kekompakan, kebersamaan dan disiplin tetaplah kalian ingat dan terapkan dalam keseharian..profesi kita sebagai perawat sangat berhubungan dengan nyawa orang lain. dimanapun berada tetap junjung tinggi etika profesi, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan..dan sebagai penutup acara, kami selaku panitia menyampaikan permohonan maaf apabila selama masa ospek ini, kami menyakiti hati adik adik semua"
" dan selamat bergabung di kampus kita, kampus akper"
suara riuh dan tepuk tangan langsung mewarnai malam itu..pelukan hangat antara camaru dan panitia seperti pelukan seorang kakak kepada adiknya..
Dan senyum para camaru akhirnya mengembang dengan tulus..tak ada lagi beban disana..semua sudah mengikhlaskan termasuk perlakuan para senior yang memang untuk membentuk karakter kuat adik adik angkatnya..
Dan malam keakraban itupun akhirnya benar benar berakhir..semua peserta tlah kembali ke kamarnya masing masing dan menyiapkan diri untuk pulang besok pagi..
Dan paginya..
" Hen, kamu gak pulang?"
" gak mbak..gak nyampe waktunya..besok sudah mulai kuliah perdana..minggu depan saja pulangnya"
" trus temenmu siapa di asrama? kayaknya pulang semua?"
" ada kok mbak..Sari, ulfah, dan beberapa kakak tingkat yang rumahnya luar kota juga ada yang gak pulang"
" oh ya sudah..balik dulu ya"
__ADS_1
" iya, mbak..hati hati"
Agnes pun segera keluar asrama itu bareng dengan beberapa temannya yang mempunyai tujuan sama menuju halte untuk menunggu angkot..
Tak berapa lama angkot pun datang..dan memgantar mereka ke halte bis..
Di halte itu, Agnes berpisah dengan teman temannya yang lain yang beda kota.
" Eh, Tari? kamu baru pulang juga ? kirain dah tadi pulangnya.soalnya tadi asrama dah sepi banget" ujar Agnes menyapa Tari, teman sekotanya yang baru turun dari angkot..
" iya mbak..tadi nyuci dulu sebentar"
" tuh bis nya dah datang, yuk naik" ajak Agnes diikuti Tari di belakangnya..
Mereka berdua duduk bersebelahan di bis yang mulai sesak itu sambil masih membicarakan soal ospek semalam..
Hingga tak terasa Agnes tlah tiba di terminal..
" Tari, aku duluan ya..sampai jumpa besok" pamitnya
" iya mbak, hati hati"
Setelah 15 menit naik angkudes Agnes pun tiba di rumah dan langsung masuk kamarnya..rumahnya nampak lengang, dikarenakan masih pagi semua orang beraktivitas di luar rumah.
__ADS_1
" Nes, sudah pulang? " tanya bapaknya membuka kamar Agnes yang memang sedikit terbuka..
" iya pak,baru saja" jawab Agnes sambil menyalami dan mencium punggung tangan bapaknya..
" ibu belum pulang ,pak?"
" belum..jam segini masih dipasar lah..nanti sore baru pulang"
" makan sana dulu..ibumu tadi masak sambel tumpang kayaknya"
" iya, Pak"
Selesai makan, Agnes pun berkeliling rumahnya..sudah seminggu dia tinggalkan rumahnya, seperti sudah lama..terasa asing..
" Nes, minggu depan kita sudah pindah ke rumah yang baru..kakakmu sudah tinggal disana duluan..kami mau pindah, tapi nunggu kamu pulang dulu..nanti kalo kamu dah gak capek, kamu kemas barang barangmu ya,biar diambili kakakmu"
" iya bu.."
yah, sudah lama keluarga Agnes ,tepatnya ibunya membeli sebuah rumah hasil lelangan dari salah satu rekan bisnisnya yang bangkrut..meski harus berhutang bank, opsi itu diambil karena adanya konflik keluarga bapaknya Agnes sehingga membuat ibunya Agnes kecewa dan mau tidak mau harus keluar dari rumah yang ditempatinya sekarang dan membeli rumah baru..
Agnes yang memang sudah tau sejak lama konflik itu, hanya bisa mengikuti kemanapun orang tuanya tinggal..
Mungkin dengan berjauhan, konflik akan mereda.
__ADS_1
Beruntung mereka mendapatkan rumah yang lokasinya strategis di pinggir jalan, cocok dengan ibunya Agnes yang pedagang..ditambah dekat juga dengan lokasi sawah yang biasa dikerjakan bapaknya..belum lagi masih satu desa dengan eyangnya dari ibu..
Jadi tak ada ruginya mendapatkan rumah itu.