
Hingga akhirnya, sesuai jadwal, jam 3 sore ujian pun selesai.
Agnes kembali ke masjid dimana Sito menunggunya.kali ini pemuda itu sudah duduk bersandar dengan mushaf mininya.
Dia segera menutup mushafnya ketika Agnes mendekat.
" sudah selesai?" tanyanya
" sudah Mas..kita salat dulu baru
pulang ya" jawab Agnes.
Selesai asar, mereka kemudian berboncengan pulang.Berbeda dengan saat berangkat, kali ini Sito melaju dengan kecepatan sedang, seakan akan tidak ingin momen ini cepat berlalu.
Padahal Agnes takut kemalaman di jalan, mengingat mereka hanya berdua.Agnes tau orang tuanya pasti cemas mengingat perjalanan yang ditempuhnya kali ini sangat jauh.
Berkali kali Agnes mengingatkan Sito untuk menambah laju motornya, tapi hanya ditanggapi dengan senyuman oleh pemuda itu.Hingga hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk berbuka di warung pinggir jalan.
" Mas, kita berhenti dulu magrib sama buka ya" pinta Agnes yang diangguki oleh Sito..
Dia juga pegal sedari tadi memegang stang motor tanpa jeda istirahat.
" Mas, mau makan apa?" tanya Agnes begitu mereka berada di warung makan itu setelah menuaikan 3 rekaat magrib di masjid dekat warung itu.
__ADS_1
" apa saja, dik.."jawabnya mengambil tempat duduk
" bu, nasi pecel sama ayam 2, minumnya teh manis hangat ya" pesan Agnes yang kemudian duduk di depan Sito.
" capek ya mas..kita nanti sampe rumah jam berapa ya ? pasti malam banget" gerutu Agnes, mengingat magrib saja mereka masih di Gontor.
Sito tersenyum melihat wajah manyun Agnes yang menggemaskan.
" ini mbak , pesanannya.."
" ayok Mas..dimakan..nambah kerupuk juga boleh" tawar Agnes yang memilih meminum teh manisnya.
Sudah kebiasaan Agnes tidak langsung makan berat saat buka, tapi karena sedang perjalanan, terpaksa dia berbuka langsung dengan nasi.
Dan benar saja, baru separo makan, dia sudah kekenyangan setelah menhabiskan segelas teh manis.
" Mas...kayaknya aku gak habis deh.kebanyakan tadi porsinya" keluhnya menatap nasi pecel yang masih separo itu dengan malas
" tinggal sedikit, pasti habis..pelan pelan makannya" hiburnya
" beneran, aku gak habis..kalo dipaksakan nanti malah muntah,Mas."
" jangan buang buang makanan, dik"
__ADS_1
" habis gimana, sayang juga sebenarnya..Mas mau bantuin ngabisin gak?" tanya Agnes
" ya sudah..sini aku habisin" akhirnya Sito memilih menghabiskan sisa makanan Agnes setelah melihat gadis itu benar benar kepayahan.
Setelah membayar makanannya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Memasuki jalanan menuju desa mereka yang agak sepi, Sito memelankan motornya.
" Dik, boleh minta upah gak?" tanyanya sedikit nakal
Agnes mengernyit heran dan waspada
" upah apa? uang?"
" bukan ..upah yang lain"
" maksudnya apa?" suara Agnes mulai meninggi merasa ucapan Sito mulai tidak sopan.Didekapnya tas ransel yang sengaja ia letakkan di tengah agar dia tidak bersentuhan langsung dengan pemuda itu.
Sito yang menyadari Agnes mulai terpancing emosi menjadi salah tingkah.
" Dik..jangan salah paham..aku hanya ingin kamu pegangan sama aku..sejak berangkat tadi, kamu gak pegangan ke aku.malah menempatkan tas ranselmu diantara kita. gak takut jatuh?"
l
__ADS_1
" aku dah pegangan di belakang Mas..dan maaf ya..aku bukan cewek gampangan yang suka pegang pegang cowok sembarangan.sengaja aku naruh tas ku di tengah ,biar kita gak kontak fisik." jawab Agnes setengah emosi.
Sito yang menyadari Agnes sedang marah kemudian memilih meminta maaf dan menyesal.Dia tak menduga Agnes yang suka menggoda itu, ternyata menjaga dirinya cukup baik.Membuat Sito semakin kagum pada gadis itu.