Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Ide Gila!


__ADS_3

"Kal aku ingin mengenalkan seseorang padamu." ucap Astri sambil membuka ponselnya. Sekarang kami sedang berada di toko. Dua hari setelah hari itu berlalu Astri kembali menemuiku. Dan disinilah kami sekarang.


"Kenalin apa maksud kamu As? " tanyaku heran. Teman wanita kah? Atau pria kah? Atau siapa?


"Dia rekan kerjaku Kal. Dia pria yang baik. Aku rasa dia cocok denganmu." ujarnya sambil menyerahkan ponselnya yang masih menyala. Disana terpampang foto seorang pria dengan memakai kacamata. Dia berpakaian sangat rapih. Aku menggeleng. Bukan karena dia tidak tampan. Melainkan aku ini masih menjadi istri seseorang. Apa jadinya bila aku main gila sama seperti suamiku. Sungguh aku tidak akan ada bedanya bukan?


"Tidak As!!" tolak sedikit meninggi. Aku harap Astri mengerti. Tapi ternyata aku salah.


"Cobalah. Aku mau kau mencobanya. Berteman saja dulu. Aku sudah mengirim nomor dan fotonya ke ponselmu. " Astri kembali membujukku.


"As. Saat aku sudah menikah. Teman lelakiku hanya suamiku. Tidak ada yang lain! " aku masih bersikeras menolak.


"Tapi suamimu? Apa suamimu juga begitu? Menjadikan kamu satu-satunya teman wanitanya? "


Duarrr...


Pernyataan itu telak bagiku. Pernyataan itu hanya aku yang memakainya, sedangkan suamiku? Tidak sama sekali, bahkan kini dia memiliki dua wanita yang mengisi hari-harinya. Ya aku dan dia.


"Tapi As. Kamu sendiri saja belum menikah. Kenapa tidak sama kamu saja? " mencoba mencari celah untuk kembali menolak usulnya. Sungguh ini adalah ide gila.


"Nggak Kal. Dia lebih cocok sama kamu. Dia juga pernah disakiti. Tapi beryukurnya dia tak sampai memiliki keturunan. Hingga tak ada yang terluka atas perpisahan mereka." Astri membeberkan kecocokanku dengan si pria di foto itu. Haruskah yang sakit bersama yang sakit? Supaya sama-sama tidak saling menyakiti lagi? Apa hukum alam memang seperti itu.


Drtt... drtt...


Bunyi ponselku membuat percakapan kami terhenti. Ku lihat ada pesan dari Mas Hendri. Sejenak hatiku berbunga karena kembali menerima pesan darinya.

__ADS_1


Suamiku : "Kal mulai bulan ini, jatahmu dan anak-anak berkurang yah. Kan kamu tahu sendiri ada Sela dan juga anak kami yang harus aku biayai. Sekali maafkan Mas ya Kalisa."


Langsung ku tarik ucapan hatiku yang mengatakan bahwa aku bahagia menerima pesan darinya. Setelah membaca pesan itu hatiku kembali sakit. Seakan ada batu besar yang menghantam tubuhku dengan kuat.


Ya Tuhan... Sampai kapan aku seperti ini?


Tak terasa kristal bening itu luruh kembali. Aku segera menghapusnya begitu aku sadar aku sedang ada dimana dan sedang bersama siapa.


"Kal kenapa? " tanya Astri khawatir. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Dan dia malah mengguncang tubuhku.


"Kal, bilang sama gue kenapa?"


Aku sama sekali tak berniat untuk bicara. Akhirnya Astri mengambil ponsel yang ada ditanganku dengan paksa. Ku yakin dia mencari kotak pesanku bersama Mas Hendri.


"Dasar gila!!! Hendri ini sudah tidak waras yah. " maki Astri. Dia memencet tombol dilayar ponselku seperti sedang mengetikan sesuatu.


"Kal diam!!! Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Walaupun Hendri temanku. Tapi ini salah. Aku tidak mau melihatmu sakit lagi karena sikap gilanya."


Suamiku calling...


Astri menyerahkan ponsel itu kepadaku begitu ada telepon dari Mas Hendri. Entah apa yang dikirimkan Astri pada suamiku itu. Hingga dia kini langsung menghubungiku. Segera ku geser tombol hijau dilayar.


"Kalisa kamu ini apa-apaan? " teriaknya begitu panggilan kami terhubung. Aku sedikit tersentak. Baru juga bicara sudah marah-marah, bukannya aku yang harusnya begitu?


"Apa-apaan apanya? " aku tak kalah keras membalasnya. Karena aku juga tidak mengerti kemana arah pembicaraan Mas Hendri. Yang aku tahu aku sedang marah karena membaca pesannya.

__ADS_1


"Jelaskan siapa dia? Kamu tidak bisa membalas Mas seperti ini Kalisa." suaranya sudah dikuasai emosi. Dan Mas Hendri menyebut kata dia? Membuat aku semakin tidak paham pembicaraan ini mengarah kemana.


Ku lihat Astri tersenyum-senyum sendiri. Aku yakin ini ada yang tidak beres. Aku meminta penjelasan melalui sorot mataku. Dan Astri hanya mengedikan bahu.


"Kalisa. Mas mohon jangan seperti ini sayang." suaranya melemah. Cuih. Aku benar-benar muak dipanggil sayang seperti itu. Karena ku yakin setiap hari ia menggunakan kata-kata itu juga untuk memanggil wanita ular itu.


"Sudahlah lupakan. Aku ingin istirahat." ucapku. Mengikuti permainan Astri.


"Tapi Kalβ€”"


Tep... Ku putus panggilan itu secara sepihak. Dan aku disambut Astri yang tertawa terbahak-bahak.


"Kau puas? " tanyaku memandang sebal Astri.


"Haha sangat puas. Aku tidak bisa membayangkan wajah Hendri yang kalang kabut menahan cemburu kepadamu." wanita itu masih tertawa mengucapkan itu semua. Namun aku juga sedikit merasa bahagia karena Mas Hendri masih cemburu denganku. Tapi dia mencemburui apa yah?


Aku segera membuka kotak pesanku dengan Mas Hendri dan mulutku langsung menganga begitu mendapati foto lelaki tadi dikirimkan ke Mas Hendri oleh Astri.


"Haha bagaimana? "


"Ck kamu gila."


***


Slow update yahhh gaysss πŸ˜‡

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga ke #CintaLelakiBiasa 😍


__ADS_2