Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Hiburan


__ADS_3

Pov Sela


Aku tidak mengerti kenapa Kalisa tiba-tiba menerima ku seperti ini. Sepertinya ia sengaja memaksa Mas Hendri agar aku ikut tinggal bersama dirumah itu. Aku yakin, Kalisa menyiapkan sesuatu dan aku harus berhati-hati dengannya.


Mas Hendri selalu saja bilang agar aku menjaga sikap, terlebih aku tidak boleh mengaku kalo aku ini istrinya didepan anak-anaknya. Sialan, sebenarnya apa yang Kalisa rencanakan.


Aku tidak mau gegabah, Mas Hendri kini sedang memihaknya, berbicara tentang segala kebaikannya. Jadi, lebih baik aku mengalah.


Aku segera mengemas barang-barangku yang ada dirumah singgah Mas Hendri yang ada dikota ini. Aku asal saja memasukan pakaian-pakainku, toh nanti juga aku bisa membeli barang-barang mahal lainnya disana, menggunakan uang Mas Hendri.


Tapi sejenak aku berpikir setelah ini aku tidak akan bebas lagi. Ah, Mas Hendri pasti lebih banyak waktu dengannya ketimbang denganku.


Sial, sial, sial Kalisa sialan.


"Sel, apa kamu sudah siap? " tanya Mas Hendri mengagetkan ku. Aku sedikit berjengit namun masih bisa menahan keseimbangan tubuhku.


"Sudah Mas." balasku dengan tersenyum.


"Baiklah, kita berangkat sekarang yah. Kalisa bilang dia sudah menyiapkan semuanya." ujar Mas Hendri membuatku berdecih dalam hati.


Menyiapkan apa dia?


Aku bergelayut manja ditangan Mas Hendri. Membuat ia jadi menatapku.

__ADS_1


"Mas, kamu nanti harus adil yah. Awas saja jika kamu hanya akan tidur dengan Mbak Kalisa." rengekku, dan dijawab anggukan olehnya. Hatiku bersorak gembira. Aku ingin membuat Kalisa mundur pelan-pelan, dan meninggalkan Mas Hendri dengan sendirinya.


"Aku akan adil pada kalian berdua." balasnya lagi, membuatku semakin percaya bahwa Mas Hendri kini sudah benar-benar menerimaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan benar-benar membuatnya ada. Aku mengelus perutku.


"Yasudah, ayo kita berangkat ." ajak Mas Hendri, tapi aku lebih dulu meminta ia menciumku, dan dengan patuh ia akhirnya meraih bibirku.


****


Pov Kalisa


Aku menunggu dua orang jahanam itu diruang tamu, Mas Hendri bilang ia sudah hampir sampai, jadi aku ingin menyambutnya. Yah sebagai salam perjumpaan kita berdua.


Bosan menunggu akhirnya memutuskan untuk ke dapur terlebih dahulu, tetapi langkahku terhenti begitu deru suara mobil sudah masuk ke petarangan rumahku.


Aku membuka pintu.


Hah, kenapa? Hatimu kepanasan? Eh bukannya kamu tidak punya hati yah? Ingin aku bicara seperti itu, tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku kembali fokus menatap Mas Hendri.


"Kal, kamu cantik sekali malam ini." pujinya tepat ditelinga, memang aku sengaja berdandan secantik mungkin malam ini. Demi menyenangkan dia. Dan benar, Mas Hendri memujiku. Hehe aku sih biasa aja dipuji seperti itu. Aku lebih senang dengan wajah Sela yang tertekuk karena melihat kemesraanku dengan suami tercintanya. Haha aku ingin tertawa sekeras-kerasnya.


"Yaudah masuk yuk. " ajakku seraya menggandeng tangan Mas Hendri. Sebelum melangkah ia lebih dulu menahanku.


"Sayang, aku harus bantu Sela dulu membereskan barang-barang." ucapnya, sambil melirik sebentar ke arah Sela. Oiya, dia kesinikan membawa istrinya yah. Istri kedua.

__ADS_1


"Oiya, aku sampai lupa jika ada Sela. Yasudah aku juga bantu beres-beres yah." aku melangkah ke arah Sela, wanita itu berusaha tersenyum. Yah aku tahu kamu terpaksa. Tapi ya bodo amat yah. Toh aku juga pura-pura.


"Sel, apa kabar?" sapaku sambil menjabat tangannya. Aku tersenyum semanis mungkin.


"Aku, aku baik Mbak, Mbak sendiri bagaimana apa sudah baikan? " tanyanya balik.


Aku tersenyum sedikit mengejek kalo kalian ingin tahu "Seperti yang kamu lihat, aku baik. Karena ada suamiku yang merawatku dengan baik pula." aku melirik Mas Hendri, dia membalasku dengan tersenyum.


"Ah yasudah kita masuk yah. Aku tahu pasti kamu lelahkan. Apalagi kamu kan sedang hamil." aku memutus obrolan.


Aku membimbing mereka masuk ke dalam. Membawa satu tas Sela, yang entahlah isinya apa. Mungkin barang-barang laknat semua.


"Kamar ini sudah aku bereskan tadi, tapi malam ini Mas Hendri tidur dikamarku ya Sel." ucapku, ia sedikit meremat tangannya.


"Iya Mbak." balasnya singkat.


Aku beralih menatap ke arah Mas Hendri "Sayang, aku tunggu dikamar. Jangan lama-lama, karena malam ini aku ingin kita bercinta. Kamu ingin aku hamil bukan seperti Sela." aku sengaja mengeraskan suara agar Sela mendengarnya. Entah kenapa wajahnya yang kesal kini menjadi hiburan tersendiri untukku.


Mas Hendri sedikit kikuk ditempatnya melirikku lalu melirik Sela.


Sebelum berlalu aku lebih dulu menyapu bibirnya.


"Jangan sampai ada bekas dia." bisikku.

__ADS_1


*****


Hehe, pengen ketawa aja aku


__ADS_2