
Seperti biasa, saat fajar menyingsing. Kalisa dan Rama berburu untuk saling bangun lebih dulu. Tetapi hari ini ada yang berbeda, karena Rama terbangun dengan rasa yang bergejolak dalam perutnya.
Dia terus merasa diaduk-aduk, hingga sepagi ini dia sudah berdiri di depan wastafel, untuk mengeluarkan apa saja yang ada di dalam perutnya.
Kemarin dokter Susan menjelaskan, bahwa Rama akan mengalami hal semacam ini, setidaknya sampai Kalisa melewati tri semester pertamanya.
Namun, dengan rasa syukur lelaki itu tak mengeluh, hanya saja kini dia sudah terlihat lesu, dengan wajah pias. Sedangkan keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Mas, maaf yah. Gara-gara aku kamu begini?" Kalisa ikut merasa prihatin, dia terus mengusap tengkuk Rama dengan lembut, cairan kuning yang terasa pahit telah melewati tenggorokan lelaki itu.
Mendengar Kalisa meminta maaf, Rama buru-buru membasuh mulutnya, lalu menghadap wanita itu. Dia menggenggam tangan Kalisa, dan menempelkannya ke pipi.
"Sayang, kamu ini bicara apa? Kamu hamil juga karena aku. Ini resiko yang harus kita jalani sama-sama. Aku tidak apa-apa," ujarnya lembut.
Membuat Kalisa setidaknya bisa tersenyum kecil. Lalu tangan yang bertengger di pipi itu berganti mengusap-usap.
"Tapi apa Mas akan sanggup ke kantor kalau seperti ini terus? Rasanya aku tidak tega Mas," ucap Kalisa, dia menatap Rama dengan tatapan teduhnya.
Rama mengecup bibir ranum Kalisa sekilas.
"Tenanglah, Mas bisa cuti selama tiga bulan. Dan menemanimu di rumah." Tangan Rama mengusak puncak kepala Kalisa, dan menatap perut yang masih terlihat rata itu.
Sedangkan wanita beranak dua itu mengernyit bingung.
"Kok begitu?"
__ADS_1
Rama terkekeh dengan reaksi Kalisa. "Suka-suka aku lah, kan aku bosnya."
Jawaban nyeleneh Rama membuat Kalisa melandaskan sebuah cubitan yang cukup keras.
"Aduh sakit, Sayang," keluh Rama, tetapi masih terkekeh.
"Mas, sih kalau ngomong suka sembarangan." Kalisa mencebikkan bibirnya. Membuat Rama semakin gemas.
"Hehe, maaf deh. Kalo nggak sembarangan nggak dapet cubitan kan?"
Rama melingkarkan tangannya di pinggang Kalisa, dan pandangan mereka bertemu.
"Ya nggak lah."
"Mas." Menahan dada Rama. Tetapi gagal, karena kini tubuhnya sudah dikunci.
Tatapan Rama mulai berbeda, binarnya jelas menginginkan sesuatu yang lain. Dan Kalisa sudah tahu apa yang diinginkan lelaki itu.
"Sekali," ucap Rama membalas kernyitan di dahi Kalisa, wanita itu mengulum senyum, lalu mengangguk, memberi persetujuan pada Rama atas tindakan lelaki itu di atas tubuhnya.
Terkekeh, Rama mengusak gemas pucuk hidung Kalisa dan berakhir melabuhkan ciumannya.
Menyambut dengan senang hati, Kalisa menerima setiap perlakuan Rama, ia merasakan sesapan lembut tak habis-habis. Hingga tubuhnya terangkat, Rama membawanya melangkah ke arah ranjang.
Lelaki itu terlihat memangku istrinya. Hingga gaun malam Kalisa tersingkap, dengan tangan yang melingkar sempurna di leher Rama.
__ADS_1
"Kamu bisa ambil kendali tidak, Sayang?" tanya Rama hati-hati, seraya terus memperhatikan wajah cantik Kalisa yang merona.
Ditanya seperti itu, sumpah demi apapun, Kalisa sangat malu untuk menjawab. Ingin dia berkata ya, tetapi lidahnya seolah kelu, hingga menyatukan bibir mereka lebih dulu, adalah jalan yang Kalisa pilih.
Rama tersenyum dalam hati.
Ruang panas tiba-tiba tercipta, di pagi yang dingin dengan semilir angin yang terdengar syahdu.
Sesyahdu suara derit ranjang yang beradu dengan gesekan kulit yang berpeluh. Di atas tubuh Rama, Kalisa bergerak lincah, memainkan sebuah peran baru untuk menyenangkan hati suaminya.
Sedangkan Rama tak berhenti mengerang, menikmati setiap hentakan yang meluluhkan kesadarannya.
Hingga tak berapa lama kemudian, gelombang itu datang serentak, membuat Kalisa dan Rama sama-sama merasakan getaran sukma yang menggelora.
Keduanya bernafas dengan deru terengah-engah, Rama menyingkap anak rambut Kalisa ke belakang telinga, dan membawa tubuh itu untuk berbaring di sampingnya.
Rama mengulum senyum, membuat Kalisa tersenyum pula. "Terimakasih, Sayang." Ucapnya seraya mengecup puncak kepala Kalisa cukup lama.
Wanita itu mengangguk, lalu membalas mengecup pipi Rama sekilas. "Sama-sama, Mas." Tertunduk malu-malu.
"Habis ini kita mandi, dan sholat Subuh yah." Ucap Rama.
Dan Kalisa hanya mampu menganggukkan kepala. Dia tidak sanggup untuk menatap wajah suaminya, apalagi setelah kegiatan yang membuat Kalisa merasa kalau itu bukanlah dirinya.
Bukan Kalisa yang seperti biasanya.
__ADS_1