Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Dunia kelam lagi


__ADS_3

POV Sela


Semenjak aku bekerja, aku terus menerus pulang larut malam. Dan siang adalah waktuku untuk istirahat. Sebenarnya aku takut jika mas Hendri tahu atau bahkan sudah curiga dengan pekerjaan yang sedang aku geluti. Pekerjaan kotorku dahulu, dunia kelam yang beberapa bulan lalu ku tinggalkan, kini berhasil menjeratku kembali. Aku selalu bilang pada mas Hendri, kalau aku bekerja di cafe sebagai karyawan part time, aku sama sekali tidak berani jika harus berkata jujur, mau dihajar seperti apa aku nanti oleh suami ku? Tapi jika di pikir-pikir lagi, akan lebih bahaya jika aku tidak bekerja, bisa-bisa aku tidak diberi makan dan terus dibiarkan kelaparan, karena pasti mas Hendri tidak akan memberiku rasa belas kasihan. Aku terpaksa mengambil pekerjaan ini karena mas Hendri memaksaku untuk cepat bekerja, malam itu aku teringat mas Hendri begitu kejamnya menyuruhku untuk jangan pulang sebelum aku menemukan pekerjaan. Jadilah aku menyerah pada keadaan.


Ingin aku lari jauh dan kabur saat itu, tapi dengan apa? Bahkan aku tidak punya siapa-siapa selain mas Hendri, karena ibu ku juga seorang mucikari yang dengan tega menjual putri kandungnya sendiri, di saat aku baru saja masuk usia remaja, usia dimana seorang wanita dididik dan dijaga seutuhnya oleh keluarga. Aku tidak tahu sekarang beliau ada dimana. Kondisinya seperti apa? Masih hidup atau entahlah. Akhirnya dengan tekad yang bulat, aku memasuki sebuah club malam itu, dengan bermodal tubuh yang molek dan paras yang cukup memadai, aku memberanikan diri untuk melamar menjadi salah satu p*s*k disana. Ya, hanya pekerjaan itu yang bisa aku peroleh, yang setia ku tekuni hingga saat ini, dan entah sampai kapan.


Dan selama tinggal di kontrakan berdua dengan suamiku itu, mas Hendri sama sekali tak pernah memperlakukan ku dengan baik, bahkan saat kabut nafsu itu datang, mas Hendri menggauliku dengan kasar, bahkan sama sekali tidak ada pemanasan.


Rasanya sakit, tak hanya organ tubuh ku, tetapi hatiku juga ikut hancur merasakan betapa kejinya perlakuan mas Hendri kepadaku. Ingin rasanya aku membencinya, tetapi ternyata hatiku tak bisa bohong, meskipun mas Hendri tak pernah lagi baik, hatiku tetap menjadi miliknya. Hatiku telah jatuh sejatuh jatuhnya.


Puk!


Satu tepukan di bahu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang, ternyata rekan kerjaku. Wanita dengan paras ayu, namun kotor sama sepertiku.


"Kamu di panggil pak William." Ucapnya, dan aku membalasnya dengan tersenyum tipis, dan lekas melangkah ke tempat biasa aku menemui lelaki tua, namun gagah itu. Pak William adalah langganan ku sejak pertama aku diterima bekerja disini, katanya servisku sangat memuaskan nya. Hingga ia tak segan-segan memberiku banyak uang, tetapi uang itu selalu saja dirampas oleh mas Hendri dengan dalih untuk menabung, agar ia bisa membangun bisnisnya lagi. Bodoh! Ya hanya satu kata itu yang pantas untuk kalian teriaki ditelingaku. Tak henti-hentinya hati ini luluh, meski berbanding terbalik dengan perlakuan mas Hendri kepadaku.


****


POV Kalisa

__ADS_1


Semakin hari aku semakin dekat dengan mas Rama, rasa nyaman itu mulai menelusup jauh ke lubuk hatiku. Kalau begini ceritanya aku tidak mungkin untuk tidak jatuh cinta. Bahkan sepertinya anak-anak ku sudah jatuh cinta duluan pada lelaki itu. Reyhan selalu minta di telpon kan om baik begitulah julukan untuk mas Rama dari kedua anakku. Dan anehnya, kenapa mas Rama tidak pernah sibuk untuk meladeni dua bocah yang selalu ingin tahu itu. Hingga membuat hatiku kembali menghangat, berdesir dengan aneh akan sikapnya yang selalu perhatian, bahkan tak pernah marah pada dua buah hatiku yang bukan anaknya. Dan masih terbilang orang lain, bukan begitu?


Pernah aku menyinggung tentang mas Hendri pada Reyhan, karena kalau pada May, pasti putri kecilku itu hanya manggut-manggut saja. Anak lelaki ku tidak menggubris sama sekali singgungan ku itu, ia malah terus bercerita tentang sekolahnya, tentang kebun binatang yang ia kunjungi bersama mas Rama lah, atau tentang rasa baru yang ada di restoran ayam yang kerap mereka singgahi.


Aku turut senang, Reyhan tak lagi berlarut larut dalam kesedihan, tapi aku juga harus mengingat kan mereka bukan? Kalau mereka berdua masih memiliki sosok ayah kandung yang harus mereka hormati, sebagai wujud bakti mereka. Karena bagaimanapun, mas Hendrilah yang membuat mereka ada di dunia. Aku tidak mau


, tangisku yang sering terlihat oleh Reyhan akan sampai menjadi penghalang antara Reyhan dan May untuk menyayangi ayahnya, dengan kata memumpuk rasa benci sejak mereka usia dini.


Kringg... Kringg...


Suara telpon berdering nyaring, aku yang sedang menemani Reyhan belajar, lekas mengambil ponselku yang ku taruh di atas ranjang, tepatnya disebelah May yang sedang main boneka-bonekaan.


"Kak, nda angkat telpon sebentar yah." Izinku pada si sulung, dan Reyhan mengangguk setuju. Aku menghindar dari dua bocah itu.


Mas Hendri.


Bukan lagi ku namai sebagai suamiku. Melainkan mas Hendri, seorang lelaki yang menjadi ayah dari anak-anak ku.


Aku mengusap layar itu untuk mengangkat telpon darinya, mumpung ada Reyhan dan juga May yang masih terjaga.

__ADS_1


"Hallo assalamualaikum?" Ucapku menyapa dengan sebuah salam. Ada jeda sejenak, entah dia sedang apa aku tak tahu. Lalu barulah dia menjawab salamku dengan nada riang. Sepertinya dia sedang senang.


"Ada apa mas?" Tanyaku dengan nada biasa. Aku tidak ingin ketus-ketus lagi. Hehe semuanya sudah berakhir.


"Kal, besok aku mau main ke rumah yah, mumpung aku ada waktu senggang." Balasnya, aku diam untuk menimang sebentar, besok juga mas Rama akan mengajak anak-anak pergi. Bagaimana ini? Apa aku terima mas Hendri dan membatalkan rencana pergi dengan mas Rama saja yah? Kan kalo mas Rama sudah sering main ke rumah. Kalau mas Hendri kan belum pernah. Tapi bagaimana kalau Reyhan dan May kecewa?


"Kal?" panggil mas Hendri membuat kerja otakku berhenti sejenak.


"Ah iya, jam berapa mas mau bertemu dengan anak-anak?" Lebih baik aku tanya waktunya dulu, supaya tidak bentrok. Dengan begitu aku tidak perlu membatalkan rencana pergi dengan mas Rama. Dan bisa juga mempertemukan anak-anak dengan ayah mereka.


"Eum mungkin sekitar jam 4 sore Kal, waktu kamu pulang dari toko saja begitu. Dan aku kesana bukan hanya ingin bertemu Rey dan May, tapi aku juga ingin bertemu denganmu." Jawabnya, aku kembali merasa tak enak, jika mas Hendri kembali menyinggung tentang diriku. Aku hanya ingin dia bertemu dengan anak-anak, bukan denganku.


"Eeuu... Yasudah kalo begitu, nanti aku sampaikan pada Reyhan dan juga May kalau mas mau datang. Aku tutup, assalamualaikum?" Segera ku usap icon merah untuk memutuskan panggilan itu. Aku tidak mau berlama-lama berbicara dengannya jika sudah lain yang ia bahas.


Karena kamu hanyalah kisah masa laluku yang sudah ku tutup rapat, dan tak mungkin untuk ku buka kembali. Tidak ada rasa benci, namun goresan itu masih tetap terpatri dihati ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


Mangatin dongssssss🥺🥺🥺🥺


__ADS_2