Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Kenyataan


__ADS_3

Setelah keempat orang itu duduk, Kalisa menyarankan agar mereka memesan makanan atau minuman terlebih dahulu, agar tak terlihat begitu tegang.


Hingga akhirnya wanita hamil itu memanggil seorang pelayan untuk mendekat, dia memesan makanan ringan dan juga minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing.


"Ada lagi yang mau dipesan, Bu?" tanya pelayan wanita yang memakai seragam hitam dan putih itu.


Kalisa lebih dulu bertanya pada yang lain, dan semua mengatakan cukup, dan akhirnya pelayan itu pamit undur diri, untuk membawa pesanan itu ke dapur, Kalisa mengangguk sopan sambil mengulum senyum.


Setelah kepergian pelayan itu, Rama kembali menatap Kama, rasanya dia masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya, ternyata selama ini dia memiliki kembaran, dan keluarga kandungnya masih hidup.


"Kama, namamu Kama?" tanya Rama dengan bibir yang bergetar.


Pelan, Kama mengangguk dengan mengembangkan senyumnya. "Iya, Mas. Namaku Ikhwan Kama. Ibu yang memberi nama pada kita berdua." Jelasnya masih dengan senyum yang tak memudar.


Mendengar itu, Rama semakin berkaca-kaca. Dia sudah membayangkan bagaimana bentuk wajah ibu dan ayahnya. "Di mana ibu dan ayah sekarang? Apa mereka masih hidup?"


Kama sedikit meneguk ludahnya, mengingat senyum ibunya yang hanya bisa dia lihat lewat gambar yang hampir memudar. "Ayah tinggal bersamaku, Mas. Tapi ibu...."

__ADS_1


"Ibu kenapa?"


"Ibu sudah meninggal, Mas. Tidak lama dari beliau melahirkan kita berdua," jelas Kama ikut berkaca-kaca.


"Innalilahi."


Kompak semua orang, Kalisa langsung mengelus punggung lebar suaminya, memberi kekuatan, dia tahu kenyataan itu pasti sangat pahit untuk suaminya.


Tak terasa air mata Rama mengalir begitu saja, melihat itu Kalisa segera meraih tangan Rama dan menggenggamnya di bawah sana.


"Lalu? Apa kamu tahu bagaimana awal semuanya? Kenapa aku bisa terpisah dari kalian?" tanya Rama, dia ingin mengetahui alasannya.


"Apapun, Kama. Apapun alasan ibu dan ayah, aku pasti terima," ucapnya meyakinkan.


Di samping lelaki itu, Kalisa juga tak berhenti untuk meneteskan air matanya. Dia ikut merasa terharu.


Kama lebih dulu memejamkan matanya sejenak, salivanya terasa tercekat, dalam hatinya terus bertanya, benarkah Rama akan menerima alasannya? Alasan mengapa dirinya ditinggalkan di panti asuhan.

__ADS_1


"Kama...." panggil Rama, dia sudah menyiapkan hatinya. Sekuat tenaga, dia akan berusaha menerima semuanya.


"Ibu dan ayah, hubungan mereka itu tidak direstui oleh nenek, Mas. Ibu dari ayah kita. Semua itu hanya karena ibu wanita miskin, wanita sederhana yang tak punya keluarga, ibu sebatang kara. Dan pada saat ibu melahirkan kita berdua, ayah sedang ada tugas di luar kota. Semua itu dimanfaatkan oleh nenek untuk mengusir ibu...."


Air mata Kama menderas, dia tergugu di tempatnya mengingat semua cerita sang ayah, tentang penderitaan ibunya selama hidup, bertahan demi melahirkan mereka berdua, dan bertahan agar mereka tetap memiliki seorang ayah.


Sama halnya dengan Kama, Rama tak kalah sedihnya. Jantungnya serasa di remas, bak diiris sembilu rasanya sangat perih, mengetahui kenyataan ini.


"Apa pada saat itu membawaku bersamanya?" tanya Rama.


Pelan, Kama mengangguk. "Benar, Mas. Nenek memberi ibu pilihan untuk membawa salah satu di antara kita, dan ibu lebih memilih membawamu pergi, karena aku memiliki riwayat jantung bawaan, ibu takut tidak bisa mengobatiku. Ibu pergi malam itu juga entah kemana, karena dia tidak memiliki tujuan lagi, dan tak lama dari itu, ibu dikabarkan meninggal dunia. Mungkin setelah dia menitipkanmu di panti asuhan. Dan itu semua baru kami ketahui sebelum nenek meninggal tiga bulan yang lalu, Mas. Ampuni nenek, Mas... Ampuni beliau..."


Kama tak berhenti meminta pengampunan untuk sang nenek. Bagaimana pun, beliau lah yang selalu menjaganya saat dia butuh sosok ibu.


Tangis Rama semakin pecah, kesedihan itu tak bisa disembunyikan lagi, Kalisa buru-buru memeluk suaminya erat. Dadanya terasa sesak melihat Rama yang seperti ini.


"Kal...." ucap Rama lirih, dia terus sesenggukan dalam pelukan Kalisa, siapa orangnya yang tidak akan sedih mengetahui fakta seperti ini, ibunya wanita mulia, bidadari tanpa sayapnya terus menderita demi dirinya.

__ADS_1


"Sabar, Mas. Sabar." Kalisa mengeratkan pelukannya.


Hingga akhirnya, Haris yang tak bisa menahan dirinya, dia keluar dari ruangan itu, tak sanggup untuk mendengarkan apapun lagi. Sudah cukup hatinya ikut berdenyut, dengan gelegak rasa sakit.


__ADS_2