Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Tersindir


__ADS_3

Pagi setelah sarapan, Kalisa bergegas untuk pergi ke toko seperti biasa. Ia juga mendadani May, karena ia akan membawa putri kecilnya itu bersamanya.


Sebelum Kalisa pergi ternyata Hendri masuk ke kamar itu. Entah ingin apa yang jelas seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Kalisa.


"Kal," panggilnya seraya mendekat ke arah meja rias dimana Kalisa dan May berada.


"Ada apa Mas? " Kalisa menyahuti panggilan suaminya dengan pertanyaan. Ia juga membalik badannya agar bersitatap dengan sang suami.


"Aku ingin bicara berdua denganmu, bisa kita keluar sebentar? " ujar Hendri, ia menggapai tangan Kalisa agar lekas mengikuti langkahnya.


Kalisa mengangguk, menyetujui untuk ikut dengan Hendri. Bukan penasaran apa yang akan Hendri sampaikan, ia hanya mengikuti alur yang sudah ia rancang.


"May, nda keluar sebentar yah. Ingat jangan kemana-mana." ucap Kalisa pada sang putri. May hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Hendri terus menggenggam tangan Kalisa hingga mereka sampai dimeja makan. Didapur tepatnya.


Hendri menarik kursi terlebih dahulu untuk Kalisa, lalu untuk dirinya.


Wajah gelisah itu sudah jelas Hendri tampakan. Kalisa tidak mungkin tidak tahu. Bahkan mungkin sudah tahu lebih dulu.


"Ada apa? " tanya Kalisa membuka obrolan, menatap wajah lelakinya lekat. Masih tetap tampan. Tak dipungkiri rasa cinta didalam hati Kalisa masih begitu besar pada lelaki dihadapannya ini. Tetapi malang, cinta suci yang ia berikan tak dibalas dengan benar. Pengorbanannya selama ini malah dibalas kesakitan yang tak berkesudahan.


Semuanya hancur dalam hitungan bulan.


Hendri terlihat sedikit gamang, antara tidak enak, atau takut ditolak.


"Kalisa, kamu tahu kan usaha Mas sedang dalam kondisi krisis? " balas Hendri, ia bahkan melontarkan pertanyaan yang sudah dipastikan Kalisa tahu akan hal itu.


Setelah Kalisa mengangguk, lelaki itu menceritakan bagaimana perkembangan bisnisnya saat ini. Tentang bagaimana modal ditarik tiba-tiba, laba yang semakin menurun, serta sisa modal yang dibawa kabur.

__ADS_1


Kalisa manggut-manggut menanggapi cerita suaminya. Seolah ia merasa perihatin. Sampai tangannya pun ikut bermain untuk mengusap lengan kekar lelaki itu.


"Sabar." ucap Kalisa, ketika Hendri sudah menyelesaikan ceritanya. Ia menampilkan wajah tegar.


Padahal dalam hati Kalisa tertawa. Ini yang dia tunggu-tunggu. Kehancuran bisnis lelaki yang sudah menghancurkan segala angan yang sudah ia rancang sedemikian rupa untuk masa depan keluarganya.


Hendri mengangguk, "Dan dengan Mas cerita seperti ini, mas juga berniat untuk —" lelaki itu menggantung kalimatnya.


"Untuk apa? "


"Mas berniat meminjam uang laba toko Kal, untuk modal usaha Mas lagi. Boleh yah." ucapnya penuh harap. Sudah dipastikan lelaki ini bingung ingin meminta pertolongan pada siapa lagi kalo bukan ke istri pertamnya. Kalisa.


Kalisa berdecih dalam hati, Saat kau susah begini, kau datang padaku lagi Hendri.


Kalisa menghembuskan nafasnya terlebih dahulu.


"Mas, bukannya aku tidak mau meminjamkan uang itu padamu. Tetapi uang laba itu memang sedang aku galang untuk memperbesar tokoku itu lagi. Lagi pula, perlu ku ingatkan, jatahku kan sudah kamu kurangi. Jadi selama ini, segala kekurangan biaya sekolah Reyhan aku ambil dari laba toko. Terlebih lagi May yang sudah mau masuk sekolah. Jadi maaf yah, aku tidak bisa, karena aku rasa masa depan anak-anakku lebih penting dari segalanya." terang Kalisa, membuat Hendri merasa tersindir. Ia jadi ingat perihal Sela. Ternyata beristri dua tak seindah lagunya. Ada tanggung jawab lebih yang harus ia emban, bukan hanya didunia tetapi juga di akhirat kelak.


Kalisa tersenyum miring. Melihat bungkamnya Hendri. Sudah dipastikan lelaki itu malu, mengingat bagaimana ia memperlakukan wanita pertamanya itu.


Tanpa mau berniat merayu Kalisa Hendri pamit untuk ke kamar Sela.


Kalisa hanya mengangguk sambil tersenyum ramah ke arah suaminya.


Bagaimana Hen? Enak?


*****


"Sel, aku hanya pinjam bukan meminta. Semuanya bisa ku kembalikan saat bisnis itu mulai berkembang lagi. Lagipula uang itu juga dariku." ucap Hendri sedikit menekan suaranya. Ia sudah sangat kesal, kesan kemari tidak ada yang mau meminjamkan uang.

__ADS_1


Sela mencebik, tidak terima jika harus uangnya yang diambil Hendri untuk usaha lelaki itu. Karena hanya dengan uang itu ia bisa berbelanja kebutuhannya, bukan apa, sudah beberapa minggu ini Hendri memang tidak menafkahinya.


"Aku tidak mau Mas. Aku kan tidak punya penghasilan seperti mba Kalisa. Harusnya mas meminta itu pada istri pertamamu saja. " protes Sela, ia sudah membayangkan dirinya yang mengerikan, hidup tanpa uang.


Hendri mendesah kesal. Bahkan ia memijit pelipisnya. Harus kemana lagi ia mencari modal untuk usahanya yang hampir bangkrut itu. Memiliki dua istri sama sekali tidak ada yang bisa diajak kompromi. Pikirnya.


Akhirnya lelaki itu bangkit, entah ingin kemana yang jelas ia menggerakan kakinya untuk keluar.


"Kalian berdua sama saja! "


Brakkk!!!


Hendri membanting pintu kamar Sela, hingga perempuan itu berjengit kaget dan hanya bisa mengusap dadanya.


*****


Sore hari, ketika Kalisa baru saja sampai dirumahnya, Astri menelpon. Dengan langkah yang ceria, Kalisa memasuki kamarnya sambil mengangkat telpon dari Astri. Kebetulan Hendri tidak ada, itu terbukti dari mobil yang biasa dibawanya tak terparkir dihalaman rumah. Begitu juga May dan Reyhan, sebelum pulang ia sudah dijemput lebih dulu oleh Maya. katanya ibu mertuanya itu rindu dengan cucu-cucu nya.


Kalisa tertawa renyah dengan ponselnya, entah apa yang sedang ia bicarakan dengan Astri, tapi itu semua cukup membuat mulutnya terasa kaku.


Semuanya hampir berakhir, Kalisa berharap akhir ini adalah yang terbaik untuknya dan Hendri. Astri sudah banyak menasihati sahabatnya itu, dan Kalisa hanya mengangguk menyetujui apa yang Astri katakan.


"Semoga kebahagiaan lekas menghampirimu Kal." ucap Astri tulus.


"Terimakasih As." balas Kalisa tersenyum penuh haru.


Setelah selesai bertelpon ria dengan Astri, Kalisa berniat untuk mandi. Ia sudah mengambil handuk, dan hendak mengunci pintu kamarnya. Tetapi tiba-tiba niatanya terhenti kala Hendri masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


Plak!!!

__ADS_1


"Biadab kamu Kalisa."


******


__ADS_2