Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Kabar


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Pagi itu, Kalisa baru saja selesai membantu Bi Asmi memasak. Dia masuk ke kamar untuk memanggil sang suami, karena sarapan telah siap.


Begitu masuk, dia mendapati Rama baru saja selesai mandi, lelaki tampan itu menggunakan handuk sebatas pinggang. Rama mengulum senyum ke arah Kalisa, dengan tatapan yang entahlah.


Wanita itu tak bisa mengartikannya. Kalisa berjalan ke arah Rama, dia melirik sekilas ke arah ranjang, sudah dipastikan Rama belum memakai apa-apa sekarang, terbukti dari pakaian dalam yang masih tergeletak di atas sana.


"Kenapa tidak dipakai di dalam kamar mandi sih, Mas?" Kalisa mengambil kain berbentuk segitiga itu, lalu menyerahkannya pada Rama.


Sebelum Kalisa menarik tangannya, Rama lebih dulu menahannya. "Mas maunya dipakein sama kamu." ucapnya menggoda.


Kalisa mencebik, lalu memukul dada Rama sekilas. Semakin hari, suaminya itu semakin mesum.


Rama terkekeh, lalu menarik Kalisa untuk masuk dalam rengkuhannya, sedangkan wajahnya langsung melesak diantara ceruk leher Kalisa, lalu menciumi pipi kiri wanita cantik itu.


"Apa salahnya, Sayang?"


"Mas itu semakin mesum."


"Mesum ke istri sendiri memangnya tidak boleh?"


"Boleh tapi_"


Sebelum Kalisa meneruskan kalimatnya, Rama membalik tubuh wanita itu, dan menggiringnya hingga ke sisi ranjang. Rama menatap lekat, dan Kalisa membalas tatapan mata itu.


"Mas, sekarang itu waktunya sarapan. Kalo kamu berleha-leha, nanti kamu terlambat mengantar anak-anak ke sekolah, kamu juga terlambat bekerja, kamu hmpt!"


Belum sempat Kalisa meneruskan kalimatnya, bibir tipis itu sudah dibungkam oleh Rama, dibungkam oleh sesuatu yang paling ampuh, ciuman.


Kalau sudah begini, Kalisa tidak bisa berbuat apa-apa. Rama memang selalu bisa membuatnya tak berkutik, lelaki itu melumaat habis bibir Kalisa yang sangat terasa manis.

__ADS_1


Decapnya mengisi ruang sunyi di kamar mereka. Beberapa kali Rama menyesap lidah Kalisa, membuat hasratnya kembali terbakar seketika.


Hingga suara dering ponsel salah satu dari mereka, menghentikan semuanya. Kalisa sedikit mendorong dada Rama, karena ponsel yang berdering itu adalah miliknya.


"Mas, ada telepon," ucap Kalisa, dan Rama mengangguk.


"Angkatlah dulu, siapa tahu dari ayah dan ibu." Rama menarik tubuhnya, dia mengusap pipi Kalisa dan mengecup bibir itu sekilas.


"Aku angkat telepon, Mas siap-siap yah."


"Iya, Sayang." sekali lagi, lelaki itu mengecup puncak kepala istrinya, sebelum dia benar-benar mengenakan pakaian, dan bersiap untuk bekerja.


Kalisa menggapai gawainya yang tergeletak di atas nakas. Lalu membaca nama si penelepon.


Astri?


Tanpa ba bi bu, Kalisa langsung mengusap layar untuk menerima panggilan dari Astri.


Tetapi untuk beberapa saat, suasana nampak hening, dengan setia Kalisa menunggu sahabatnya itu kembali bicara.


"Kal."


"Ada apa, As?"


Terdengar helaan nafas panjang di ujung sana.


"Kal, Hendri ditangkap polisi."


Deg!


Hampir saja ponsel itu jatuh dari genggaman tangan Kalisa.

__ADS_1


"As, kamu tidak bercanda kan?"


"Aku serius, Kal."


Dan Astri pun menceritakan semuanya, tentang kejadian pagi ini, bahwa Hendri telah ditetapkan menjadi tersangka, dan siap untuk mendekam di penjara, dalam kasus hutang piutang, sebanyak 500 juta.


Dan semua uang itu tidak tersentuh sedikitpun oleh Hendri, semuanya adalah ulah Bima yang mengatasnamakan dirinya.


Kalisa terkesiap, dia merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan perasaan ini tidak lebih, hanya sekedar empati, tidak ada perasaan lain lagi.


Panggilan itu terputus.


Rama yang menyadari perubahan wajah Kalisa lantas mendekati istrinya itu, Rama terlihat sudah lengkap dengan setelan kerjanya. "Sayang, ada apa?"


Mendengar Rama mengajaknya bicara, Kalisa mendongak, wajahnya masih terlihat pias serta manik mata yang tak berhenti menatap sekeliling.


"Hei, ada apa, Kal?" Rama menangkup kedua sisi wajah Kalisa, hingga pandangan mereka bertemu. Tak bisa bohong, Rama menemukan kegelisahan dalam manik mata wanita itu.


"Tadi Astri memberi kabar, Mas."


"Kabar apa?"


Sejenak Kalisa bergeming, dia meneguk ludahnya kasar, mencari kesadaran dari keterkejutannya.


"Mas Hendri. Mas Hendri di penjara," lirih Kalisa, dan masih didengar oleh Rama.


"Innalilahi... Ada masalah apa, Kal?"


Kalisa kembali menceritakan secara rinci semua yang diceritakan oleh Astri pada Rama. Sama halnya dengan Kalisa, Rama pun merasa prihatin.


Rama merengkuh tubuh Kalisa untuk masuk dalam dekapannya, lelaki itu tahu apa yang dikhawatirkan istrinya. "Tenanglah, Sayang. Kita pelan-pelan bicarakan ini pada Reyhan dan May. Insyaallah mereka akan mengerti posisi Hendri."

__ADS_1


Dalam dekapan itu, Kalisa mengangguk. Dia mencoba yakin, semoga kedua anaknya itu bisa menerima kondisi ini. Kondisi bahwa sang ayah yang terancam masuk ke dalam jeruji besi.


__ADS_2