Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Bertemu Ayah


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, sebelum berangkat ke Surabaya Rama kembali mengalami rasa mual yang hebat. Dia terus berdiri di depan wastafel dan memuntahkan apa saja isi dalam perutnya.


Di belakang Rama, Kalisa memijat tengkuk lelaki itu sambil memberi minyak kayu putih. Dia tak kalah nelangsa menyaksikan Rama terus-menerus seperti ini setiap pagi.


"Mas tidak perlu menyetir, kita bawa supir saja. Lagi pula ada Kama, mereka bisa bergantian," ucap Kalisa, rencananya Rama tidak akan membawa supir, karena dia yang akan menyetir, tetapi mengingat kondisinya yang seperti ini. Kalisa pun tidak akan mengizinkannya begitu saja.


Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Rama buru-buru mencuci mulutnya. Nafas lelaki itu terdengar memburu, netranya terlihat begitu sayu, tak menjawab ucapan Kalisa, Rama justru menyambar bibir istrinya.


Kalisa sedikit terhuyung, tetapi Rama dengan cepat menahan tubuhnya, dan membawa Kalisa merapat di dinding. Aneh, rasa mualnya menghilang jika dia sudah berdekatan dengan Kalisa dan mencumbu bibir ranum itu.


"Mas," lirih Kalisa dengan nafas yang tak kalah tersengal. Bibir yang sudah sedikit dipoles itu kembali berantakan karena perbuatan suaminya.


"Aku akan bawa supir, Sayang. Kamu duduk di belakang denganku yah," balas Rama dan langsung mendapat anggukan dari Kalisa.

__ADS_1


Dia paham dengan kondisi Rama yang sulit berjauhan dengannya, apalagi di pagi hari seperti ini, frekuensinya jauh lebih tinggi.


Akhirnya pagi itu mereka sekeluarga berangkat ke Surabaya. Rama sudah membuat surat izin pada pihak sekolah untuk putra dan putrinya.


Semua itu Rama lakukan, karena dia ingin memperkenalkan keluarga kecilnya pada sang ayah tanpa kurang siapapun.


Rama juga sudah mengabari Safa dan Ridwan, yang merupakan orang tua angkatnya. Dia mengatakan yang sejujur-jujurnya, tentang Kama dan tentang orang tua kandungnya.


Tetapi semua itu langsung ditepis oleh Rama, dia mengatakan bahwa Ridwan dan Safa tetap orang tua terbaik untuknya, dia tidak akan mungkin melupakan kasih sayang yang mereka berikan untuknya, meski dia tidak terlahir dari rahim Safa, tetapi tulus cinta wanita itu begitu berbekas di hatinya.


Safa dan Ridwan tetap menjadi orang tua untuk Rama selamanya.


Di dalam mobil, Kalisa dibuat kerepotan karena bayi besarnya enggan terlepas darinya. Namun, sungguh hal itu tak membuat Reyhan dan May keberatan, keduanya paham ini semua karena bawaan adik mereka yang ada di dalam kandungan.

__ADS_1


Reyhan dan May justru asyik mengobrol dengan Kama. Sepanjang perjalanan itu, Kama menceritakan tentang kedua anaknya yang usianya tak jauh dari Reyhan dan May.


Hingga tak terasa kijang besi itu sudah masuk ke wilayah kota Surabaya. Kini Kama yang menyetir, dia mulai meninggalkan jalan raya dan masuk ke dalam sebuah gang.


Kama menyusuri jalan yang sering dilewatinya, seketika Rama memperhatikan sekitar, kini dia sudah berada di kota kelahirannya. Sebentar lagi dia akan bertemu sang ayah, tak ada sedikitpun yang Rama lewatkan, hingga Kama memberhentikan mobil tersebut di rumah yang memiliki halaman yang begitu asri, karena banyak tanaman hias di sana.


Pagar hidup dengan tatanan yang rapih, serta gerbang kecil berwarna putih membuat rumah itu tampak begitu nyaman dan damai. Rama termangu, dia menatap lurus dengan pandangan mata yang berkaca-kaca.


Di depan sana, lelaki paruh baya duduk di sebuah kursi roda, sedang bermain dengan kedua cucunya. Netra lelaki tua itu menatap ke arah mobil milik Rama, bertanya-tanya, siapakah yang datang.


Melihat itu seketika air mata Rama meleleh, cairan bening itu tak lagi terbendung, bibirnya terus bergetar dengan ludah yang terasa tercekat di tenggorokan.


"Ayah..." Lirih Rama.

__ADS_1


__ADS_2