
Esok hari ibu Kalisa hendak memasak untuk keluarga putrinya, namun ketika beliau membuka kulkas ternyata persediaan bahan-bahan masakan sudah habis. Beliau berniat izin pada suaminya dan juga Kalisa untuk pergi ke pasar.
Kebetulan Kalisa juga mau melangkah ke dapur. Jadi keduanya berpapasan dipintu menuju ruangan dapur tersebut.
"Bu habis apa?" Tegur Kalisa, melihat ibu yang baru saja keluar dari dalam dapur.
Ibu mendongak ke asal suara, "Ini Lis, tadinya ibu mau masak, eh bahan-bahan makanan kamu sudah pada abis. Jadi ibu mau ke pasar dulu deh." Balas ibu.
"Oh yah? Kalo gitu biar Kalisa aja Bu yang ke pasar, ibu disini aja sama ayah." Ucap Kalisa, tak mengizinkan sang ibu untuk pergi ke pasar, ia sama sekali tak ingin merepotkan ibunya. Dan memang seharusnya dialah yang melayani ibu dan ayahnya bukan?
"Lis, kamu kan harus ngurusin Reyhan sama May, udah nggak papa biar ibu aja yah." Izin ibu, tetap kekeuh dalam pendirian nya. Setelah dipikir, benar juga, ada Reyhan dan juga May yang harus ia urus terlebih dahulu.
Akhirnya dengan terpaksa Kalisa mengangguk, dan ibu tersenyum lebar. Sebelum ibu kembali melangkah , ayah Kalisa keluar dari kamarnya. Menghampiri dua wanita yang sangat beliau cintai itu.
"Bu, mau kemana?" Tanya ayah.
"Ibu mau ke pasar yah, beli bahan makanan, di kulkas abis ternyata." Jawab ibu, lalu ayah manggut-manggut.
"Kalo gitu biar sama ayah aja Bu." Ujar ayah, dan ibu langsung tersenyum sumringah dan menggandeng tangan ayah. Hingga membuat Kalisa ikut tersenyum juga. Dua makhluk tua ini ternyata masih romantis saja, tak peduli dengan usia mereka yang sudah tak remaja.
Lalu detik selanjutnya keduanya keluar rumah, melangkah untuk pergi ke pasar hanya berdua.
*****
Ibu Kalisa celingukan mencari suaminya, saat beliau memilih cabai suaminya itu masih disampingnya, tetapi begitu beliau hendak ke pedagang selanjutnya, ayah Kalisa malah menghilang entah kemana. Mana pasar sedang ramai, jadi beliau sedikit sulit untuk mencari sosok pria pemilik hati nya itu.
Akhirnya beliau memutuskan untuk menelpon suaminya itu terlebih dahulu, beliau mencari tempat yang aman, lalu dengan cepat membuka ponselnya untuk menghubungi ayah Kalisa.
Hingga 3 kali berdering tak kunjung di angkat juga, beliau mendesah kesal.
"Nih kakek-kakek kemana lagi ngilangnya." Gerutu ibu Kalisa, sambil terus menghubungi suaminya. Namun dari arah depan tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya menghampiri nya.
Plak!
__ADS_1
"Kemana aja sih yah?" Tanya ibu Kalisa dengan nada kesal. Tak lupa geplakan keras ditangan lelaki itu pun sudah disematkan.
"Maaf Bu, tadi liat-liat topi buat ke kebun. Eh pas balik ke tukang cabe ibu udah nggak ada." Balas ayah, deru nafasnya masih terlihat sangat ngos-ngosan karena beliau tadi melangkah dengan kaki yang begitu lebar.
Akhirnya ibu Kalisa hanya bisa menghela nafas panjang mendengar alasan suaminya. Lalu kembali melanjutkan langkah mereka untuk berjalan ke pedagang selanjutnya.
*****
Di siang yang begitu terik, sesosok lelaki yang masih berbadan kokoh berjalan dengan wajah lesu. Sudah beberapa perusahaan yang ia datangi tak kunjung jua menerima lamaran pekerjaan nya. Padahal pengalaman yang ia punya cukup mumpuni, tetapi tak dipungkiri memang zaman sekarang bekerja itu butuh orang dalam.
Tenggorokan nya terasa kering dan perutnya keroncongan karena ia memang belum sarapan, akhirnya dengan sisa uang yang ada, ia mendekat ke arah warung makan dekat jalan yang ia lalui.
Ia memilih menu seadanya, yang sekiranya uang itu cukup untuk membayar nya. Enak tidak enak harus ia telan, ini jalan hidup yang sudah ia pilih. Ia hanya bisa banyak berdoa, agar Allah lekas mengeluarkan ia dari karmanya. Syukur-syukur bisa kembali lagi dengan istri pertamanya. Kalisa.
"Kal, kenapa kamu setega ini padaku." Lirih Hendri, melamun mengingat masa-masa indahnya bersama Kalisa, saat Kalisa meladeninya untuk pergi bekerja, memasakan menu favoritnya, kecupan serta senyum manisnya kala menyambut pagi, dan masih banyak lagi. Kini Hendri hanya mampu mengenang nya, karena masa itu telah sirna.
Ibu penjaga warung menyadarkan Hendri dengan menyuguhkan nasi beserta lauk pauk yang dipesan lelaki itu. Hanya kuah sayur, dan dua tempe goreng yang dibubuhi sambal diatasnya. Karena kali ini, ia harus pandai-pandai menyimpan uang untuk kelangsungan hidupnya tanpa Kalisa. Bahkan ini saja uang hasil menjual cincin kawinnya.
Namun langkah kakinya terhenti kala ia merasa ada orang yang mengikuti nya dari arah belakang. Tetapi begitu ia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Akhirnya ia berpikir bahwa itu hanya halusinasi nya saja.
Hendri melangkah dengan semangat masuk ke pelataran gedung itu. Baru saja bertanya pada satpam, tapi lagi-lagi ia harus menerima penolakan.
"Ah, sial! Kenapa sulit sekali sih mencari pekerjaan." Gerutu Hendri kembali berjalan dipinggir trotoar yang nampak lumayan sepi dari kendaraan bahkan pejalan kaki seperti dirinya.
Karena perasaan kesal, dengan sekuat tenaga ia menendang kaleng bekas minum yang tercecer dijalan itu.
Bugh!
Hendri mencari masalah. Atau buaya memang sudah masuk dalam perangkapnya?
"Heh, kurang ajar." Ucap seseorang dari arah depan. Hendri langsung mendongak dan mencari asal suara. Tatapannya menajam, tak terima disebut kurang ajar. Ia tak takut, meski didepan sana terlihat dua orang preman yang berbadan besar.
"Apa?" Ketus Hendri.
__ADS_1
"Aku tidak punya uang asal kalian tahu." Sambung Hendri, ia kira preman itu akan memalaknya. Jadi ia jujur saja kalau ia sedang tidak punya uang. Dan masalah selesai.
Satu preman yang dipenuhi tato itu membanting kaleng yang ditendang Hendri tadi tepat didepan kaki lelaki itu.
"Kamu kira kami tidak punya uang hah? Dasar bocah ingusan tidak tahu diri, sudah menendang kaleng sembarangan, malah menuduh kami mau malak lagi." Ucap salah satu dari mereka.
Hendri meneguk ludahnya, namun tak lekas meminta maaf atas perbuatannya. Ia masih saja tak terima dikatai kurang ajar. Dan kini bertambah bocah ingusan.
"Memangnya kenapa? Lagi pula, ini kan kaki ku, terserah lah mau menendang apa saja. Itu bukan urusan kalian." Ucapnya dengan lantang, membuat dua preman itu mengeratkan gigi mereka, dengan tangan terkepal preman-preman itu melangkah mendekati Hendri, lelaki itu langsung waspada, sama sekali tak niat kabur, karena kalau saja itu sama saja membuat dirinya menjadi pengecut.
Bugh!
Satu tendangan tak mampu Hendri tolak, hingga membuatnya tersungkur dijalanan.
"Hahaha, baru segitu saja kamu sudah jatuh." Ucap satu preman itu dengan tertawa mengejek Hendri.
Hendri mencoba bangkit sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri, ia berdecih kesamping. Lalu menatap dengan berani dua orang preman itu. Dengan memasang kuda-kuda Hendri siap untuk melawan mereka, ia tak mau kalah.
Dua preman itu kembali tersenyum mengejek satu sama lain. Lalu
Bugh!
Preman itu kembali melayangkan tinjunya, namun ditepis oleh Hendri. Satu preman itu memberi kode pada temannya, lalu perkelahian kembali dimulai. Beberapa kali Hendri menangkis tetapi ia kalah lawan karena ia hanya sendirian.
Badannya yang kekar itu dipegang dengan kuat oleh satu teman preman tersebut, lalu yang satunya memukuli Hendri dengan membabi buta.
"Akhhh. Akhhh..." Suara Hendri menahan sakit di tubuhnya.
Tampak beberapa mobil berseliweran dijalan itu, tetapi naasnya tak ada yang mau berhenti untuk membantu Hendri. Hingga untuk yang terakhir kalinya, preman itu kembali memberi pukulan telak. Dan Hendri jatuh tersungkur dengan pipi yang membiru itu menempel aspal, dan sudut bibir serta hidungnya mengeluarkan darah segar.
"Cabut." Instruksi dari satu preman itu pada temannya, lalu dengan tanpa belas kasih keduanya meninggalkan Hendri sendiri dengan kondisi tak berdaya.
"Kalisa... Tolong mas." Lirih Hendri, jarinya terjulur mencoba menggapai sesuatu. Dan sesuatu dalam bayangannya adalah sosok Kalisa.
__ADS_1