Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Papa atau bukan?


__ADS_3

Rama menatap wajah ibunya yang ada di ponsel milik Kama. Sebuah foto yang warnanya hampir memudar, dan Kama membidiknya ulang, agar gambar itu tidak hilang.


Dia menelisik dengan seksama, dengan air mata yang senantiasa menderas, seolah takkan pernah habis, netra itu tak berhenti untuk menangis.


Rama memindai semuanya. Tangannya terulur untuk mengusap wajah yang tengah tersenyum ke arah kamera itu, hatinya kembali tersayat, tetapi dalam tangis itu, dia mencoba untuk ikut tersenyum, meski getir.


"Cantik," gumamnya dengan bibir bergetar.


Gumaman itu masih terdengar oleh semua orang termasuk Kalisa, dia mengusap lengan Rama, membuat lelaki itu menoleh, kedua mata itu memerah dengan bulu mata yang basah.


"Jangan menangis terus, Sayang. Nanti ibu ikut sedih, tersenyum lah pasti dari atas sana, ibu senang karena melihat kalian berdua sudah bertemu," ucap Kalisa dengan bibir yang melengkung.


Bagai matahari di hidupnya, Kalisa selalu bisa menerangi hati Rama. Lelaki itu mencoba menggerakkan bibirnya, hingga tangan Kalisa terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi suaminya.


Lelaki itu menganggukkan kepala, bibirnya melengkung mengulum senyum. Membuat Kama yang menyaksikan itu ikut tersenyum pula, dia mengusap bahu kakak kembarnya itu.


Dan detik selanjutnya, Rama lebih dulu memeluk Kama, dia akan selalu bersyukur dengan takdir hidupnya, karena sejatinya, Tuhan tidak membiarkan sesuatu itu hilang, melainkan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.


"Ayah sangat ingin bertemu denganmu, Mas. Beliau selalu menyuruhku untuk mencarimu, hingga akhirnya beliau jatuh sakit, tetapi sekarang beliau pasti sangat senang, jika akhirnya aku bisa membawamu pulang." Jelas Kama saat pelukan itu sudah terlepas.


Dia menatap lekat lelaki di hadapannya. Dia yakin, sangat yakin sifat lemah lembut Rama berasal dari ibu mereka. Netra lelaki itu selalu meneduhkan hati, setiap siapa saja yang melihatnya.


Rama mengangguk antusias. Menepuk bahu kanan Kama. "Nanti kita temui Ayah sama-sama, semoga beliau selalu diberi kesehatan, dan selalu bisa mendampingi kita berdua."

__ADS_1


"Aamiiin, Mas."


Setelah haru biru itu, Rama meminta agar Kama tinggal di rumahnya sebelum mereka pergi ke Surabaya. Bersyukur pekerjaan Kama di ibu kota selesai hari itu juga.


Karena Rama adalah klien terakhirnya. Jadi mereka tak perlu menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu sang Ayah.


Ketiga orang tersebut sampai di rumah saat sore hari. Mereka disambut antusias oleh penghuni rumah, bahkan May dan juga Reyhan berlari keluar rumah.


Namun, netra mereka membulat sempurna saat Kama ikut turun dari mobil mewah tersebut, dia tersenyum ke arah semua orang, lalu menatap sekeliling. Rumah besar dengan fasilitas yang terlihat lengkap.


Lagi-lagi dia sangat bersyukur kakak kembarnya itu tidak kekurangan apapun.


Mbak Darmi menyenggol lengan Bi Asmi yang terus melongo, hingga kesadaran wanita paruh baya itu pulih. Mereka saling memandang denga tanda tanya besar di kepala. Siapa dia?


Rama merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk May dan Reyhan. Dia mencium pipi dua bocah itu bergantian. Lalu membawa May dalam gendongannya.


May menatap wajah Rama dengan lekat, lalu berganti melihat Kama.


"Papa, kok Papa ada dua? Apa dia pakai topeng?" tanya May dengan matanya yang berbinar polos menunjuk Kama.


Mendengar itu, semua orang terkekeh gemas.


"Aku bukan Papa mu, aku yang pakai topeng," ucap Rama membohongi gadis kecilnya itu.

__ADS_1


May dengan tingkah lucunya memegang wajah Rama, lalu menarik bulu-bulu halus yang memenuhi wajah Rama. Hingga lelaki itu sedikit meringis. "Aw! Kok bulu Papa dicabut?"


"Tadi katanya kamu bukan Papaku? Katanya kamu pakai topeng."


Rama semakin terkekeh dibuatnya, dia mengusak hidung mungil May. "Pintar yah anak Papa, tidak bisa dibohongi."


"Jadi kamu Papa aku atau bukan?" tanya May lagi masih penasaran.


"Ayo coba tebak, mana Papa May yang sebenarnya?" Rama membalas dengan pertanyaan pula.


May dan Reyhan kembali memperhatikan wajah Rama dan Kama dengan seksama. Dan detik selanjutnya kedua bocah itu memeluk Rama. "Yang ini." Pekik mereka girang.


"Kok bisa tahu itu Papa?" Kini Kalisa ikut menimpali.


"Karena tadi pagi Papa pakai baju ini, bukan baju yang itu." Reyhan yang menjawab, dan dibenarkan oleh May, gadis kecil itu hanya ikut-ikutan.


Semua orang tergelak mendengar alasan yang sangat terdengar simpel itu.


"Ahh pintarnya anak Papa." Satu tangan Rama mengusak puncak kepala Reyhan, sementara bibirnya mencium pipi gembul May.


Melihat itu, Kama tersenyum lega. Dia juga jadi ikut rindu dengan anak dan istrinya yang berada di rumah.


Dan hari itu, Rama memperkenalkan Kama pada semua penghuni rumah besar tersebut. Sebagai adik kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2