
Setelah pertemuan itu, Erina akhirnya memutuskan untuk datang ke perusahaan Rama, dia ingin memastikan kembali bahwa yang dia lihat adalah sesuatu yang nyata.
"Pak, ke perusahaan Great Expectations." Ucapnya pada seorang supir taksi.
Lelaki dengan tubuh gempal itu mengangguk, lalu melajukan kijang besi biru itu ke jalan raya, menuju perusahaan yang dikelola oleh Rama.
Di sepanjang perjalanan, Erina terus berselancar di dunia maya. Dia mencari akun sosial media Rama, dan tiba-tiba dia menjadi stalker yang begitu handal, dia terus menelusuri setiap postingan lelaki itu.
Hingga dia menemukan sebuah foto, foto pernikahan Rama dengan seorang wanita anggun, lengkap dengan hijab besar yang membungkus kepalanya.
Lelaki itu memberi keterangan pada foto tersebut.
[Kalisa... Bidadari surga yang tak memiliki sayap. Insyaallah, mulai hari ini, aku adalah rajamu, dan kamu adalah ratuku, ratu yang akan selalu aku ingat, hingga damai yang kamu tawarkan, membawa kami sekeluarga ke puncak Ridho-Nya.]
"Jadi dia sudah menikah lagi? Benarkah dia bisa melupakan aku? Aku harap itu semua hanya palsu, dia tidak mungkin secepat itu melupakan semuanya." Gumam Erina sambil meremat ponselnya.
Entah alasan apa, dadanya bergemuruh melihat foto mesra Rama dengan istri barunya, dia tidak terima lelaki itu bahagia. Sedangkan dia harus kembali bersusah payah, demi kehidupannya yang selalu foya-foya.
Tak berapa lama kemudian, taksi yang membawa Erina sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi, tempat yang dulu sering sekali dia kunjungi, tetapi kini tidak lagi.
Setelah melakukan pembayaran, Erina langsung melenggang masuk, dan berjalan ke arah meja resepsionis.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan mas Rama." Ucapnya tanpa basa-basi, bahkan terkesan angkuh.
Dua resepsionis itu nampak bingung, mereka sudah bekerja cukup lama disini, hingga mereka dapat mengenali Erina, wanita yang telah menjadi mantan istri dari bos mereka.
"Maaf, Bu. Apa sebelumnya ibu sudah memiliki janji dengan pak Rama?" Tanya salah satu resepsionis tersebut, dengan begitu sopan.
Erina memicingkan matanya, dan menggebrak meja resepsionis dengan tiba-tiba. "Aku tidak perlu membuat janji dengannya, asal kalian tahu, kapanpun aku mau, aku bisa menemuinya." Ucapnya tanpa tahu malu.
Kedua resepsionis itu saling memandang. Mereka tak bisa asal membuat sebuah keputusan, apalagi menyangkut hal pribadi bos mereka.
"Maafkan kami, Bu. Tapi pak Rama berpesan, seseorang yang tidak membuat janji dengannya, maka beliau tidak akan menemuinya. Kecuali anak dan istrinya."
Dia berniat langsung ke ruangan Rama.
Namun, niatnya terhenti begitu dia melihat lelaki yang pernah mengisi hatinya, berdiri tepat dihadapannya, Rama dan Haris baru saja keluar dari lift, rencananya mereka akan meeting di luar.
Deg!
Rama sedikit terkejut mendapati Erina tiba-tiba datang. Dan dia langsung memutuskan pandangan matanya pada wanita itu, mencari objek lain.
Sementara Erina langsung tersenyum senang, matanya berbinar melihat Rama yang tampak semakin tampan. "Mas." Panggilnya begitu lembut.
__ADS_1
Rama tak menoleh, dia hanya menyahuti panggilan Erina dengan kalimat. "Ada apa?"
"Mas, aku dateng buat kamu." Rengeknya manja, bahkan wanita itu begitu berani ingin menggapai tangan Rama. Tetapi takan semudah itu, Rama langsung menghindar.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Erina, entah kenapa Rama merasa tidak suka, bahkan terkesan jijik. Begini kah dia dahulu, saat menggoda lelaki lain? Pikiran Rama langsung tertuju ke arah sana.
"Maaf, tapi sekarang kehadiranmu bukan lagi yang aku tunggu. Aku mencintai istriku." Ucap Rama dengan lugas, dia ingin memberi Erina ketegasan, bahwa kini dia sudah tidak ada di masa itu.
Tujuan hidupnya sekarang hanya Kalisa dan anak-anaknya.
"Mas, aku tahu kamu bohong. Kamu nggak mungkin lupain aku secepat itu. Aku mau kita balikan!"
Heuh, Rama mendengus mendengar kalimat frontal, bahkan terkesan tidak tahu malu itu, untuk pertama kalinya Rama menatap dengan sorot matanya yang menajam, dia benar-benar sangat muak.
"Dengarkan aku! Aku ini manusia, bukan sebuah mainan yang bisa kamu buang dan kamu ambil sesuka hati, kalau memang sejak awal kamu hanya membutuhkan sebuah kebebasan, hidup saja di hutan." Jelas Rama dengan gamblang, kemudian dia melangkah dengan kaki lebar, Haris mengekor sambil melirik Erina yang terlihat pias.
Namun, di bawah sana tangannya terkepal kuat, dia tidak menyangka kalau Rama ternyata bisa sejahat itu padanya.
Ramanya bukanlah Rama yang dulu.
"Kalau begitu, lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk kebebasanku."
__ADS_1