
Seperti janjinya, wanita yang baru saja masuk kepala tiga itu benar-benar menunggu suaminya di dalam kamar. Selagi Rama sedang mengantar kedua anak mereka ke sekolah, Kalisa duduk di depan meja rias.
Karena sudah tiga hari ini, May juga mulai bersekolah, di taman kanak-kanak yang ada di kampung mereka. Anak gadisnya itu sangat pintar, ia selalu meminta Kalisa untuk tidak menungguinya sampai pulang.
Kembali dengan wanita cantik yang berniat menyenangkan suaminya, Kalisa membuka jilbab dan mulai menggeraikan rambut panjangnya. Bagian tubuh yang teramat disukai oleh Rama.
Kalisa memandang pantulan wajahnya di depan cermin, ia mengulum senyum merasa bertambah muda setelah menikah dengan Rama.
Ia memoles wajahnya dengan sedikit riasan, dan menambah lipstik di bibir tipisnya.
Tak hanya itu, setelah selesai dengan bagian atas tubuhnya, kini Kalisa berjalan ke arah lemari. Membuka dan memilah-milah baju mana yang akan ia gunakan untuk menggoda sang suami.
"Ah, kenapa aku jadi seperti wanita nakal." Tangannya sudah mengambil satu set lingerie berwarna hitam. "Tidak, tidak. Aku bukan wanita nakal, Rama itu kan suamiku, jadi aku bebas memakai apapun di depannya. Bahkan jika dia memintaku untuk melepas semua pakaian ini, aku harus menurut. Dia berhak atas tubuhku." Gumam Kalisa meyakinkan diri.
Selama satu minggu ini, mereka memang baru melakukannya beberapa kali. Si Kalisa yang pemalu, dan Rama yang tidak pemaksa.
Mereka benar-benar pasangan yang cocok.
Lelaki bergelar suami itu selalu pengertian, bilamana Kalisa tidak sedang menginginkannya, maka itu tidak akan menjadi masalah, toh hasrat siapa yang tahu, kalau sudah tidak terbendung, pasti akan mencuat dengan sendirinya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan penampilan, Kalisa duduk di tepian ranjang, memainkan ponsel seraya menunggu Rama datang.
Dan tak berapa lama kemudian, suara pintu terbuka, membuat jantung Kalisa memacu dengan cepat, desiran darah mengalir hangat sedangkan tangannya berkeringat dingin, seolah mereka baru saja akan melakukan, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Di ujung sana, Rama tampak tak berkedip, ia memandangi tubuh indah sang istri yang begitu sempurna. Dan bersyukurnya, keindahan ini hanya ia yang dapat melihatnya.
Jiwa perkasa itu mulai menggelora, Rama meneguk ludahnya, hingga jakun itu terlihat naik turun. Pelan ia melangkah, tidak lupa untuk mengunci pintu kamar. Seutas senyum terbit dari bibir lelaki itu, begitu Masyaallah, Rama memuji makhluk di depan matanya. Dan makhluk itu adalah Kalisa.
Baru kali ini, Kalisa memakai pakaian seperti ini setelah mereka menikah.
Sedangkan Kalisa melengoskan wajah, tak mampu bertatap dengan netra sang suami. Sumpah demi apapun, ia sangat malu sekarang.
Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rona merah di pipi yang terasa menyembul meski tanpa memakai blush on.
Pelan, Rama menyingkirkan tangan itu dari wajah cantik Kalisa, menarik dagu runcing itu hingga kedua netra pekat mereka bertemu.
"Jangan ditutup, nanti aku tidak bisa melihat kecantikanmu." Ucap Rama lembut. Wajah tampan itu tersenyum manis, serta menatap teduh dirinya.
Kalisa meleleh oleh tingkah Rama, ia meremat tangannya sendiri, mencoba menahan gejolak itu. Ingin rasanya ia meraih bibir yang memiliki belahan tengah itu, ingin ia secepatnya memeluk Rama, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.
__ADS_1
Namun, dia tidak memiliki keberanian sebesar itu, ia hanya bisa menahan, hingga saat Rama menyatukan bibir mereka, mata Kalisa membulat sempurna.
Gerakan lembut terasa begitu nikmat, bahkan sesekali saling menyesap rasa manis yang tiada habis.
Lambat laun, tubuh keduanya seolah tidak ada di bumi. Rama membawanya melayang ke atas awan, hingga ia tidak merasakan tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang.
Tangan besar itu merayap, karena tersentak Kalisa sedikit menahannya, dan Rama menatap bola mata itu, seolah bertanya kenapa?
Namun, hanya semu merah jawabannya. Rama mengerti, Kalisa belum terbiasa lagi, selembut mungkin ia melakukan pemanasan.
Hingga saat mereka benar-benar cukup, Rama membantu Kalisa untuk membuka kain tipis itu, tubuh polos nan putih lengkap dengan dua sembulan yang terlihat cukup sintal itu memanjakan mata Rama.
Dengan perhatian lelaki itu menutup tubuh polos Kalisa dan juga dirinya, dan mulai menyatukan diri, setelah mengucapkan doa sebelum melakukan jima'.
Pagi itu, percintaan panas tercipta dengan nikmat, Rama dengan buncahan bahagia, benar-benar sudah merasa diterima oleh Kalisa.
Lenguhan kecil terdengar dari bibir wanitanya, dan Rama membekapnya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang membuat kegiatan mereka semakin menggelora.
Dan dalam tiap hentakkan itu, keduanya selalu berdoa, agar dapat dikaruniai lagi seorang anak yang baik, sholeh ataupun shalehah.
__ADS_1