
Setelah makan malam selesai, Rama tak langsung ikut masuk ke dalam kamar bersama dengan Kalisa, mumpung ada Kama di sini, dia ingin mengajak adik kembarnya itu untuk mengobrol lebih banyak lagi.
"Sayang, Mas ajak Kama mengobrol dulu yah, nanti Mas menyusul," ucap Rama di ambang pintu, dia lebih dulu mengantar Kalisa hingga di depan kamar mereka. Lengkap dengan segelas susu di tangannya.
Kalisa mengulum senyum, lalu mengangguk sebagai jawaban. "Iya, Sayang. Jangan malam-malam yah, nanti subuhnya kesiangan. Dan ingat juga, besok kita ada perjalanan ke Surabaya." ucap Kalisa.
Rama manggut-manggut, lalu mengecup kening Kalisa, dan juga mencuri kecupan di bibir ranum wanita itu, membuat pipi Kalisa seketika merona, dan tersenyum malu-malu.
"Baby twins, Papa tinggal dulu sebentar yah," ucap Rama sekali lagi, sebelum benar-benar pergi. Dia mengelus sebentar perut Kalisa , lalu melangkah ke ruang kerjanya, di mana Kama menunggu dirinya.
Bi Asmi sudah menyiapkan dua gelas teh di meja, dengan kue kering yang biasa tersimpan di dalam kulkas. Namun, dia melupakan bahwa Rama bukanlah Rama yang biasanya, dia tidak meminum itu selama tri semester pertama kehamilan istrinya.
"Bi, siapkan aku air putih saja yah. Tehnya untuk Bi Asmi," ucap Rama sambil menatap teh di dalam gelas dengan wajah bergidik.
Hih. Kenapa rasanya jadi menyebalkan melihat minuman itu ada di sini.
"Oalah, saya lupa Mas. Baik biar saya ganti," ucap Bi Asmi, lalu mengambil kembali satu gelas itu dari atas meja dan berlalu dari sana.
Setelah kepergian Bi Asmi, Rama langsung berubah antusias, menatap Kama dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Mas mau menelpon Ayah sekarang?" tanya Kama, melihat Rama yang sangat bahagia membuat dia tahu, bahwa lelaki itu sedang merasa tidak sabar menunggu esok hari.
Rama menggeleng. "Tidak, Kam. Biar jadi kejutan untuk Ayah besok, aku ingin bertemu langsung saja dengannya."
"Baiklah, Mas. Sekarang apa yang ingin Mas dengar dariku?" tanya Kama.
Netra Rama melirik kesana-kemari, dia bingung ingin bertanya yang mana dulu. Banyak sekali yang ingin dia tahu.
"Setelah kalian mengetahui adanya aku di dunia ini, apa kalian senang? Apa pada saat itu kalian langsung mau menerimaku?" tanya Rama.
Mendengar itu, Kama mengernyitkan dahinya. "Mas, Mas kamu ini bertanya yang sudah jelas jawabannya. Jelas saja kami sangat senang. Bahkan Ayah langsung meminta orang untuk mencarimu ke kampung ibu. Tetapi mereka tidak menemukanmu di sana." Jelas Kama, dia mulai bercerita bagaimana usahanya untuk mencari sang kakak selama 3 bulan ini.
Malam semakin larut, tapi tidak ada tanda-tanda mereka mengantuk sama sekali. Mereka malah tertawa bersama, bahkan terbahak karena cerita lucu yang terlontar di antara keduanya, semasa mereka merintis usaha, ataupun sebelum mereka masih menjadi remaja.
Hingga akhirnya mereka merasa cukup, Rama mengantarkan Kama ke kamarnya untuk beristirahat, setelah itu barulah dia kembali ke kamarnya sendiri, di mana ada Kalisa di dalamnya.
Rama membuka pintu pelan-pelan, agar tidur Kalisa tidak terganggu, begitu pun dengan langkahnya yang sangat hati-hati, hingga nyaris tak menimbulkan suara apapun.
Dia naik ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut bersama Kalisa, dengan perlahan tangannya melingkar penuh di perut wanita hamil itu.
__ADS_1
Rama mengecup sekilas tengkuk Kalisa. "Selamat tidur, Sayang." Ujarnya, lalu memejamkan mata.
"Mas baru selesai?"
Deg! Jantung Rama mencelos saat dia mendengar suara Kalisa. Dan secepat itu pula wanita itu berbalik hingga netra mereka bertemu. Ternyata istrinya itu belum tidur, bahkan terlihat tidak mengantuk sama sekali.
"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Rama sedikit terbata.
Kalisa menghembuskan nafas, lalu tiba-tiba bermanja pada Rama dengan memeluk erat tubuh lelaki itu dan menyembunyikan wajahnya di dada. "Aku tidak bisa tidur, jika kamu tidak memelukku, Mas," ungkapnya.
Membuat Rama langsung tersenyum lebar, lalu mengecup puncak kepala Kalisa. "Yang benar?" tanya Rama.
"Iya benar, dari tadi aku coba merem, tapi nggak bisa-bisa," Kalisa merengek, kesal sendiri karena sedari tadi tak kunjung dapat memejamkan matanya.
"Kalau kamu begini, malah aku yang tidak bisa tidur, Sayang." Secepat itu, Rama mengungkung tubuh Kalisa, dapat dia lihat dengan jelas wajah cantik istrinya dari atas sana tengah merona.
Dan secepat itu pula, Rama memulai aksinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1