Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Bantu aku


__ADS_3

POV Rama


Suasana hari ini cukup terik. Dan aku berhasil menepikan mobilku di halaman rumah yang luas, tempat dimana aku dan keluarga kecilku akan tinggal.


Rumah yang sengaja aku beli, sebagai kado pernikahan untuk Kalisa.


Aku melirik ke arah jam yang melingkar penuh di pergelangan tanganku. Hampir pukul 12 siang. Itu artinya waktu Zuhur hampir saja menjelang.


"Pa, apa kita sudah sampai?" Ku dengar Reyhan bertanya dari kursi belakang.


Aku menoleh, dan mengangguk ke arah dua anakku. May dan Reyhan. "Sudah, Sayang."


"Yeee_"


Aku langsung memotong pekikan girang mereka dengan jari telunjuk menempel di bibir, aku membuat gerakan, memberitahu pada mereka kalau sang Bunda sedang tidur.


Mereka kompak menutup mulut, lalu memberiku jempol, tanda menurut.


Aku mengulum senyum, lalu membuka pintu terlebih dahulu. Dua pembantu, satu satpam, dan satu supir yang akan membantu kami mengurus rumah, sudah berdiri menyambut kami.


Aku menyapa mereka dengan begitu ramah. Pun sebaliknya, mereka membalas sapaanku tak kalah ramahnya.


Aku membuka pintu mobil Reyhan, lalu meminta Bi Asmi dan Mbak Darmi namanya, membantu anak-anakku untuk masuk ke dalam kamar yang ada di lantai satu, sedangkan yang lain ikut mengangkut barang-barang yang ada di dalam mobil box.


Setelah semuanya sudah aku beri arahan, aku kembali berjalan ke arah mobil, tempat dimana wanita yang aku puja, tengah terlelap dalam tidurnya.


Aku membuka pintu mobil, ku lihat Kalisa masih nyaman dengan posisinya, aku mengulum senyum, lantas memberi kecupan singkat di pipi wanitaku.


Aku berusaha menggendongnya. Membawa ke kamar kami yang ada di lantai dua.


Semuanya sudah nampak rapih, tinggal barang-barang Kalisa dan milikku yang belum tertata disana.


Aku membaringkan tubuh Kalisa pelan-pelan di atas ranjang. Membuka hijab yang membungkus kepalanya, lalu menyalakan pendingin ruangan.


Belum masuk Zuhur, aku memutuskan untuk istirahat sebentar, membaringkan tubuhku di samping Kalisa, dan mulai memeluknya.


Wanita satu ini ternyata tak merasa terganggu dengan gerakanku, dia malah semakin melesakkan wajahnya ke dalam dada, membuatku tak sengaja terkekeh karena merasa geli.

__ADS_1


"Kal, Kal. Kenapa kamu selalu membuatku jatuh cinta. Bahkan dengan melihat cara tidurmu saja membuatku tidak bisa berpaling." Gumamku seraya mengelus puncak kepalanya.


Ku hirup aroma sampo Kalisa yang terasa harum itu. Aroma yang selalu aku inginkan menyentuh indera penciumanku.


Hingga tak berapa lama kemudian, kantuk pun menyerang diriku, aku pelan-pelan mengerjap, dan akhirnya ikut terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Kalisa


Aku mengerjapkan kelopak mataku, ku hirup aroma yang berada di sekitarku dan ternyata, aroma Mas Rama yang ku cium.


Aku melirik kesana-kemari, dan ternyata aku sudah berada di dalam sebuah kamar. Kamar yang aku yakini, akan menjadi saksi bisu perjalanan cintaku dengan Mas Rama.


Jam menunjukkan pukul setengah satu. Dan kami berdua malah asyik tidur, belum menunaikan shalat Zuhur.


Aku melirik ke arah Mas Rama, wajah tenang nan damai ketika dia tidur, membuat sukmaku seolah mendapat asupan nutrisi yang cukup.


Mumpung dia sedang tidur, aku menggerakan jariku di atas bibirnya, memainkannya lalu terkekeh kecil. Benda yang kerap mencumbuku itu benar-benar menggemaskan, aku sampai iri, kenapa Mas Rama bisa memiliki bibir sebagus ini.


Lalu tanpa segan, aku menciumnya, memberikan sedikit decapan, hingga tanpa sadar Mas Rama sudah membuka mata.


Deg!


Kelakuan nakalku tertangkap basah. Secepat kilat, Mas Rama mengganti posisi, mengungkungku dengan tubuh tegapnya.


Aku tertunduk malu, sedangkan ku rasakan dia tersenyum senang.


"Sudah berani yah." Ucapnya membuatku semakin merona, sontak aku menutup wajahku dengan kedua tangan, namun dibalik itu aku senyum-senyum tidak jelas.


Pelan, Mas Rama menarik kedua tanganku. Ia mencondongkan wajahnya, hingga kedua pucuk hidung kami beradu.


Seperti sudah menjadi kebiasaan kami, kalau sedang gemas pasti Mas Rama mengusak hidungnya dengan hidungku.


Aku terkekeh, dan detik selanjutnya kekehanku dibungkam oleh ciumannya. Mas Rama tak langsung bergerak, kami saling menatap sejenak.


Hingga lambat laun, aku rasakan lumaatan lembut di atas bibirku, bibir kesukaanku itu menari-nari, memberi decap nikmat yang terasa begitu candu.

__ADS_1


Dapat aku rasakan, desiran hangat mulai menyapa, itu terbukti dari ciuman kami yang terasa semakin menuntut.


Aku mencengkram kuat dada Mas Rama, sedangkan tangan lelaki itu berusaha membuka resleting gamis yang berada di depan tubuhku.


"Mas, kita belum sholat." Rengekku, saat mata itu menggelap, berkabut nafsuu.


"Sudah terlanjur, Sayang. Makanya jangan memancingku." Ucap Mas Rama, kembali menatap dadaku yang sudah menyembul.


Aku menggigit bibir bawahku, ya ini salahku karena memancingnya. Aku melenguh, seiring Mas Rama mengulum pucuk sensitifku.


Membuat desiran itu semakin terasa hebat. Aku meremass rambut Mas Rama, hingga tiba saatnya, kami berdua sama-sama tak lagi berdaya.


Aku dan dia sama-sama sudah polos, siap mengarungi lautan kenikmatan surga dunia. Dan ku biarkan dia dengan aksinya.


Tapi tunggu, kenapa Mas Rama malah diam.


"Ada apa Mas?" Tanyaku, dan dia langsung memasang wajah suram. Bibirnya mengerucut lucu, membuatku ingin mencubitnya.


"Ada apa Sayang, kenapa wajah Mas terlihat kecewa?" Desakku meminta jawaban.


Mas Rama semakin mencebik, lalu turun dari atas tubuhku, pelan dia mencium bibirku.


"Kita tidak bisa melanjutkannya, Sayang." Ujarnya lesu. Padahal dia sangat bersemangat sekali tadi.


Lho, lho kenapa?


Aku mengernyit, tanda tak mengerti ucapannya.


"Punyamu berdarah." Ucap Mas Rama lengkap dengan wajah kecewa, dan bukannya kasihan aku justru tertawa, tawa yang membuat Mas Rama menarik tanganku menuju sesuatu yang tengah menegang hebat itu.


Tawaku menyurut, berganti dengan wajah pias.


"Bantu aku menyelesaikannya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada yang minta visual Mas Rama, kira-kira cocoknya siapa yah? Kalo othor entah kenapa ingetnya dengan dua pria. Alm. Mas Asraf, sama Mas Reza Rahadian. Kalau kata kalian cocok yang mana?

__ADS_1


__ADS_2