
POV Rama
Pukul 3 dini hari aku terbangun, ku lirik ke samping Kalisa masih tertidur pulas, tanpa membangunkannya, aku bergegas membersihkan diri, berniat untuk menunaikan shalat tahajjud.
Selesai dengan ritual mandi, aku tak langsung mengambil wudhu. Aku memakai pakaian lengkap, kembali ke arah ranjang, tepat di samping Kalisa. Aku ingin membangunkannya.
Ku pandangi mata indah yang terpejam itu, bulu mata lentiknya, turun ke hidung yang cukup mancung itu, lalu turun lagi ke bibir.
Bibir ranum yang kerap ku sesap tiada henti jika kami sedang bercinta. Seperti memiliki rasa manis, aku takkan pernah bosan untuk meneguknya.
Aku mengulum senyum, ku gerakan tanganku perlahan menggapai pipi mulus itu, pipi yang kerap memerah saat aku goda. Masya Allah, tubuh ini berdesir, saat telapak tanganku menyentuh lembut kulitnya.
Aku mengelus-elus pipi Kalisa dengan sayang, ku condongkan tubuhku ke telinganya untuk berbisik. "Sayang, bangun." Ucapku mendayu.
Namun, wanitaku belum memberi reaksi apapun. Dia masih bergeming, enggan untuk lepas dari alam bawah sadar.
Tanganku berganti naik ke atas kepalanya, riapan rambut itu ku selipkan ke belakang telinga, agar tak menghalangi wajah cantiknya.
"Kalisa, bangun Sayang." Panggilku sekali lagi, kini ku beri guncangan sedikit di bahunya. Mengingat waktu tahajjud sudah semakin terbuang sia-sia.
Dan tak berapa lama kemudian, mata teduh itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya.
Kalisa mengucek pinggiran matanya lalu menatapku setengah menyipit. "Pangeran." Ucapnya pertama kali, dan aku langsung terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Ada apa dengannya?
"Sayang, jangan menggodaku. Ayo kita sholat dulu." Ajakku pada Kalisa, tapi bukannya lekas bangun, wanita itu justru kembali pada dramanya.
"Apa aku sedang bermimpi? Kenapa ada pangeran di sini?" Oceh Kalisa dengan mimik wajahnya. Yang, ah. Aku menggigit kepalan tanganku.
Lalu aku melipat bibir, menahan tawa. Sumpah demi apapun, aku gemas sekali melihatnya.
"Kalisaaaa...."
Dan dia malah tersenyum-senyum, lalu kembali memejamkan mata. Benar-benar dia ini yah...
"Sayang bangunlah, nanti waktunya keburu habis." Ucapku dengan sabar. Ku tusuk-tusuk pipinya membuat dia menggeliat merasa terganggu.
Biar saja, biar dia cepat bangun.
Kenapa tingkahnya sangat menggemaskan begini?
Apa karena efek kemarin setelah kita bercinta? Bahkan dia seberani ini menggodaku lebih dulu.
Satu kecupan manis melandas di pipi mulusnya. "Sudah, ayo. Nanti kita lanjutkan setelah sholat Subuh."
Dan Kalisa benar-benar langsung bangun, dia tersenyum dan membalas mengecup pipiku sebelum berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Ku raba pipiku yang baru saja dicium oleh wanitaku, lalu kembali geleng-geleng kepala.
Kalisa, Kalisa.
Aku menunaikan shalat tahajjud terlebih dahulu, saat ku ucap salam ke kanan dan ke kiri, Kalisa sudah berada di belakangku.
Sebelum berzikir, aku menghadapnya terlebih dahulu. "Sudah wudhu?" Tanyaku dan langsung dijawab anggukan olehnya.
Lalu ku biarkan dia shalat. Sedangkan aku duduk di depan tepat sisi kirinya untuk berzikir dan berdoa.
Selesai dengan shalat tahajjud, tanpa melepas mukena dan sarung yang ku pakai. Aku meminta Kalisa untuk meletakkan kepalanya di atas pahaku. Sambil menunggu shalat Subuh.
Aku mengusap kepala berbalut mukena itu. Kami berdua bergeming, hanya bisa saling tatap lalu mengulum senyum.
"Kita seperti ABG ya Mas." Ucapnya tiba-tiba. Dan aku mengangguk setuju.
"Aku akan selalu membuatmu muda Humairah." Ucapku dan Kalisa mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh bibirku.
Dia meraba-rabanya sebentar, dan aku hanya bisa diam. "Aku suka bibir Mas. Kalau kamu bagaimana? Apa yang Mas suka dari diriku." Tanyanya, tanpa berhenti menggerak-gerakkan jarinya.
Aku menangkap pergelangan tangan itu, hingga Kalisa kembali mendongak. Aku mengecup sekilas keningnya sebelum menjawab. "Tidak ada yang tidak aku suka darimu, Kal. Semua yang ada padamu semuanya adalah kesukaanku. Karena kini, kamu adalah benda paling berharga yang aku miliki. Kamu satu-satunya ratu di istanaku."
Ku lihat pipi itu merona dengan senyuman manis menghiasi bibir tipisnya.
__ADS_1
Kata-kata bukan untuk menggoda. Melainkan aku ingin membuat dia percaya, bahwa seorang raja yang baik, tidak akan melupakan ratunya.
Aku tidak akan lupa kamu ratuku, Kalisa❤️