Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Bantu kamu minum susu


__ADS_3

POV Kalisa


Aku buru-buru bangkit dari atas pangkuan Mas Rama. Begitu kami berdua mendengar suara ketukan pintu, di susul dengan protes anak-anak yang tengah menunggu kami untuk sarapan.


Ya Allah...


Aku sampai deg-degan. Rasanya jantungku mau copot, takut ketahuan aku habis melakukan sesuatu dengan Papa mereka.


Aku yang merasa gugup, langsung mengelap bibirku yang terasa masih basah. Sisa ciuman Mas Rama.


Saat aku mau melangkah membuka pintu, Mas Rama kembali menahan lenganku. Ku lihat dia malah tersenyum, berbeda sekali dengan sikapku yang cemas sekaligus salah tingkah.


"Jangan gugup seperti itu, Kal. Nanti anak-anak malah makin penasaran." Urainya melihat gurat cemas di wajahku.


"Sini." Ia meminta aku untuk mendekat sekali lagi, aku menurut dan ku rasakan kecupan di keningku, terasa sangat dalam, hingga benar-benar membuatku berangsur tenang.


Setelah itu, Mas Rama mengusak puncak kepalaku dengan sayang. Dia yang membuka pintu, dan menemui May dan Reyhan.


Terlihat, kedua anakku masih setia menunggu.


Sedangkan Mas Rama, langsung berjongkok di depan mereka. "Maaf yah, tadi Bunda habis bantuin Papa ngeringin rambut, jadi Bundanya lama nggak keluar-keluar." Ucap Mas Rama untuk memberi pengertian, Reyhan dan May saling menatap, mungkin bingung mau menjawab.


Akhirnya mereka berdua hanya mengangguk dengan bibir mengerucut.


"Dimaafin nggak nih?" Mas Rama masih bersuara, melihat kedua anaknya yang belum kembali ceria.


"Iya Papa. Kakak sama Adek udah maafin kok." Si besar Reyhan yang mewakili jawaban adiknya.


"Kalau begitu, mana buktinya?" Mas Rama mencondongkan wajah, kebiasaan minta cium, tanda kedua anaknya berhenti merajuk.


Ku lihat Reyhan dan May kompak memberi kecupan di pipi kanan dan kiri Mas Rama.


Sedangkan aku kembali meraba bibirku.

__ADS_1


Ah, aku juga mau.


*******


Pukul 10 pagi.


Kami berempat baru saja sampai di pusat perbelanjaan yang ada di tengah-tengah kota.


Tak seperti dulu, May gadis kecilku, tidak lagi minta digendong oleh sang Papa. Hingga akhirnya kami berempat hanya saling bergandengan tangan.


May dan Reyhan ditengah.


Begitu kami masuk, seperti biasa tujuan anak-anak adalah arena bermain. Mereka langsung melepaskan pegangan tangan kami. Dan berlari ke arah yang mereka tuju.


"Nak, sabar. Papa beli karcisnya dulu." Ucapku pada mereka yang sudah tidak sabaran.


Sedangkan Mas Rama melengang ke arah kasir, untuk membeli karcis dan juga koin.


Setelah dapat, dia memberikannya pada penjaga. Supaya Reyhan dan May bisa masuk.


Padahal aku tidak mengajak suamiku itu untuk berbelanja, lagi pula, bahan-bahan pokok di rumah masih banyak.


Dengan senyum mengembang, kedua anakku kompak mengangguk.


Belum sempat bertanya, tanganku sudah diseret oleh Mas Rama. Dan saat kami sudah terasa jauh dari anak-anak, barulah dia meminta aku gandeng.


"Takut kesasar." Godanya dengan kekehan.


Tak langsung memenuhi permintaannya, aku lebih dulu mencubit lengan kekar itu. Mencubit dengan bertubi tubi, tanda gemas.


Dan aku kembali dibuat meleleh, saat Mas Rama malah mencuri kecupan di pipiku.


"Mas, nanti ada yang lihat." Aku kembali merengek, seraya melingkarkan tangan, memeluk lengannya, celingukan takut ada yang tahu.

__ADS_1


"Makanya jangan menggodaku terus." Bisik mas Ram disela-sela langkah kami. Mencubit hidung, lalu terkekeh.


Siapa? Siapa yang menggoda.


Aku tidak bisa menebak kemana Mas Rama akan mengajakku. Aku hanya mengikuti kemana kaki suamiku itu melangkah, hingga langkah kami berhenti, tepat di depan jajaran kotak susu.


Susu promil?


Aku bergumam, tetapi sepertinya masih terdengar oleh telinga Mas Rama. Ia mengangguk sambil tersenyum ke arahku.


Lalu tanpa meminta persetujuan, dia mengambil troli belanja, dan memasukan beberapa kotak, dengan rasa yang berbeda-beda.


Masyaallah, dia benar-benar sangat menginginkannya. Bahkan aku saja tak sampai berpikir sejauh ini.


"Mas, belinya bertahap saja. Jangan langsung banyak seperti itu." Ucapku mengingatkan. Saat ku lihat, sudah ada 5 kotak dan ia ingin menambah lagi.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini untuk persediaan. Supaya kamu teratur minumnya."


"Tapi Mas_"


"Sayang, tidak ada tapi-tapi, ini bentuk ikhtiar kita supaya buah cinta kita cepat jadi."


Dan pipiku tidak bisa untuk tidak merona, entah kenapa kalau sudah membahas ke arah sana, aku selalu seperti salah tingkah.


"Nanti biar aku bantu." Ucap mas Rama tiba-tiba seraya mengusak puncak kepalaku.


"Bantu apa?" Tanyaku dengan dahi yang berlipat-lipat.


"Bantu kamu minum susu."


"Mas Rama mau minum susu promil juga?"


Dan dia menggeleng. "Kalau aku susu yang itu." Tunjuknya ke arah dadaku.

__ADS_1


Plak!


__ADS_2