Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Pertengkaran lagi


__ADS_3

Pov Kalisa


Hari ini aku sengaja meminta Astri dan juga Mas Rama untuk datang. Aku memasak berbagai macam makanan untuk kami makan nanti siang. Kalau kalian ingin tahu, ini pertemuan pertamaku dengan Mas Rama. Jadi tidak salah bukan aku sedikit gugup dan salah tingkah nantinya.


Untuk Sela, entahlah manusia ular itu sedang apa. Lagi pula aku tidak ingin mengganggunya hari ini. Hihi.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk dari luar, sepertinya itu Astri sudah datang. Aku lekas mematikan kompor dan membersihkan tanganku. Lalu melangkah ke depan.


Ceklek!


"Hai babyku apa kabar?" tanya Astri kepadaku. Kami tak melupakan cipika-cipiki terlebih dahulu.


Setelah itu aku melirik ke arah Mas Rama yang berdiri dibelakang Astri. Ternyata dia juga sedang menatapku. Netra kami bertemu. Sejurus dengan itu aku langsung menunduk malu.


Ah, kenapa jantungku jadi dagdigdug serrrr begini. Astaghfirullah, rasa apa ini?


Aku menetralisirnya dengan tersenyum ramah untuk menyapa Mas Rama.


"Assalamualaikum Kalisa." ucapnya, dan itu sukses membuat lidahku kelu. Padahal aku biasa mendengar suara ini ditelpon. Tapi kenapa rasanya lebih lembut dari pada biasanya.


"Wa—waalaikumussalam. Mari kita masuk." balasku sedikit terbata, tapi aku cepat-cepat mengajak kedua orang itu untuk masuk kedalam rumah. Agar aku tidak terlalu kentara sedang canggung dengan kehadiran Mas Rama.


"Kal, uler peliharaan lu mana? " tanya Astri disela-sela langkah kami.


Aku hanya mengedikkan bahu. Tidak tahu, dan tidak mau tahu.


"Kalo May?" tanyanya lagi.


"Main sama anak tetangga As." balasku, kami bertiga langsung duduk di sofa.


"Kalian berdua mau minum apa?" tanyaku, menatap Astri dan Mas Rama bergantian.


"Gue kaya biasa aja Kal, nggak tau kalo Rama." balas Astri.


"Eumm... Saya air putih hangat saja." timpal Mas Rama.


"Eeeeuu... Baiklah As, aku belakang dulu." pamitku.

__ADS_1


Aku mempercepat langkahku ke dapur, begitu sampai aku langsung memegangi dadaku yang mendadak bergemuruh. Menarik nafas, lalu membuangnya pelan.


Kenapa ini? Ada apa dengan jantungku, kenapa rasanya seperti mau copot.


*******


Esok harinya...


Aku membuka pintu rumahku, aku berjengit ke belakang begitu mendapati Mas Hendri berdiri tepat didepanku. Dia pulang?


"Mas, kamu pulang? " tanyaku dengan heran. Bukankah baru seminggu lebih lelaki itu pergi, kenapa sekarang sudah balik lagi?


Tatapannya menajam. Menghunus ke arahku. Ada apa? Pikirku.


Ia tak mengindahkan pertanyaanku, ia langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam, aku meronta, meminta untuk dilepaskan. Sebenarnya dia ini kenapa?


Ciahh!! Tanganku berhasil terlepas, ketika kami sampai diruang tamu. Lagi, dia menatap ke belakang. Ya ke arahku. Dia mengeratkan gigi depannya seperti menahan kekesalan.


"Jawab sekarang juga Kal, apa benar kemarin ada seorang lelaki datang ke rumah ini? " tanyanya dengan nada ketus. Oh ternyata masalah itu. Aku yakin dia tahu dari siapa? Siapa lagi kalo bukan ular berbisa. Sela.


"Darimana kamu tahu? " aku balik bertanya, tak mengindahkan keinginan tahuannya. Aku bicara lebih tenang, agar ia tak mencurigaiku.


"Jawab aku dulu Kal, apa benar lelaki itu datang ke rumah ini? " bentaknya. Mata elang itu berkilat-kilat penuh amarah. Mencoba mencari kejujuran dari sorot mataku.


"Kal jangan bohongi aku." dia sudah memegangi kedua bahuku seraya mengguncangnya dengan pelan.


Aku melepaskan kedua tangannya. Menatap matanya, cinta? Bukan disana tak ada lagi cinta. Tapi sebuah obsesi yang sangat tinggi, ia menginginkan aku hanya karena ia takut melancarkan bisnis ini sendiri. Ia takut bisnis ini hancur bersamaan perginya aku dari hidupnya. Bukan, bukan lagi cinta. Ia tak bisa membohongi hatinya, bahwa kini ada nama Sela juga disana. Meskipun dalam bicara ia memungkirinya.


"Kau lebih percaya siapa sekarang? Aku? Atau dia? Aku yang lebih dulu hadir dalam hidupmu, atau dia yang sudah mencuri cintamu? " tanyaku sambil menunjuk ke arah Sela. Yang ditunjuk gelagapan, menelan ludah susah payah.


"Kalisa, tapi Sela punya buktinya. Dia punya bukti kalian sedang makan berdua, dirumah ini." suaranya belum melunak. Ia belum mempercayaiku.


"Kau lebih percaya orang lain ketimbang aku? Begitu? " tanyaku lagi, aku semakin menatap matanya dalam.


"Kalisa!!! Sela itu bukan orang lain, dia juga istriku kalau kamu perlu ku ingatkan!"


Deg!


Hah, benar. Kalimat itu sudah cukup membuktikan bahwa kini Hendri telah mencintai Sela juga.

__ADS_1


Mataku menajam ke arahnya. Ku lihat dia sedikit merasa bersalah dengan ucapannya.


"Disaat kamu sedang bersamaku, kamu ingat dia istrimu? Tapi kenapa? Tapi kenapa saat kamu dengannya kamu tak ingat aku juga? Kenapa kamu melupakan aku, melupakan aku kalo aku ini ratumu? Ratu satu-satunya diistanamu! KENAPA HENDRI KENAPA? " bentakku. Aku tidak bisa menahannya. Aku memukul keras dada Hendri, ia melemas. Ia mencoba merengkuh tubuhku untuk didekapnya. Aku menolak, ku pukuli terus dia, ku dorong hingga ia mundur ke belakang. Air matanya ikut tumpah.


"Kalau kamu ingin percaya dengannya, kita akhiri saja hubungan ini." ucapku seraya berlari menuju kamarku. Tapi sebelum itu Hendri mencegahku, dia menarikku paksa masuk dalam pelukannya.


"Cukup Hen, aku sudah berusaha baik, aku sudah berusaha menerimanya.Tapi kenapa kamu malah percaya padanya. Jika memang aku tidak penting lagi untukmu. Lebih baik pulangkan aku. Pulangkan aku ke rumah orang tuaku." Lelaki itu menggeleng, ia menangkup kedua pipiku.


"Tidak Kal, aku tidak ingin kita berpisah. Maafkan aku. Aku percaya padamu." ucapnya, tapi aku hanya bisa menangis.


"Kal, ku mohon tetaplah disini! Temani aku."


"Mas." panggil Sela.


Kami berdua sontak menoleh ke arahnya.


"Mbak Kalisa tuh bohong Mas, kemarin itu bukan pacar—"


"DIAM!!! " potong Mas Hendri. Sela langsung beringsut takut mendengar bentakan Mas Hendri.


"Hen, sudahlah. Kamu sudah punya dia dan calon anak kalian. Jadi biarkan aku pergi membawa Reyhan dan juga May." ucapku.


"Kalisa tidak, aku tidak mau. Aku ingin kalian tetap bersamaku." ujarnya lagi, ia menggenggam tanganku dengan erat lalu menciuminya. Sedangkan aku melirik Sela sebentar. Aku menyunggingkan senyum sinisku ke arahnya.


Sela melotot ke arahku.


"Mas, apa kamu akan terus percaya padaku? " tanyaku, Mas Hendri beralih menatapku lagi.


"Iya Kal, aku akan selalu percaya padamu." balasnya seraya mengusap air mataku yang jatuh.


"Lalu apa hukumannya untuk orang yang berbohong? " tanyaku lagi seraya menatap Sela. Ia meremat jari-jarinya merasa tak terima.


"Mas, aku sama sekali tidak berbohong." ujar Sela meyakinkan Mas Hendri. Lelaki itu melangkah meninggalkan ku lalu mendekat ke arah Sela.


"Ikut aku!!!! "


"Mas."


"IKUT!!! "

__ADS_1


*****


Sela mau diapain Mas?


__ADS_2