Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Ayah seorang pembohong


__ADS_3

"Kalisa ?" Panggil Hendri, motornya langsung masuk ke halaman rumah Kalisa karena gerbang itu tidak di tutup sama sekali, bahkan Kalisa sedang memegang ujung gerbang tersebut itu artinya Kalisa membukakan pintu gerbang untuknya.


Apa jangan-jangan Kalisa menunggu ku datang?


Mendengar Hendri memanggil, Kalisa langsung memutus pandangannya pada mobil milik Rama yang sudah berbelok keluar dari gang rumahnya.


Alhamdulillah.... Batinnya mengucap syukur, karena Rama sudah pergi lebih dulu, kalau saja kedua lelaki itu bertemu, sudah di pastikan Hendri akan mencari masalah dengan Rama. Dan Kalisa tidak ingin itu terjadi. Akan ada saatnya, hubungan ia dan Rama akan ia tunjukkan pada dunia, termasuk kepada lelaki yang baru saja datang ini.


Mengingat hubungannya dengan Rama yang sudah semakin meningkat, Kalisa jadi senyum-senyum sendiri.


Mas Rama, kenapa kamu membuatku jadi seperti orang gila. Gumam Kalisa.


Hendri cepat-cepat memarkirkan motornya, lalu dengan langkah lebar ia mendekati Kalisa. Kalisa yang menyadari langkah Hendri langsung merubah mimik wajahnya, senyum diwajah lelaki itu sungguh mengganggu pandangan mata Kalisa.


"Kal, kamu menunggu ku datang?" Tanya Hendri dengan percaya diri, senyum sumringah di bibir Hendri selalu ditujukan pada mantan istrinya itu.


Kalisa menutup gerbang terlebih dahulu, lalu berbalik menghadap Hendri.


"Maaf mas, aku—aku nggak lagi nunggu mas Hendri kok." Balas Kalisa sedikit gagap, bingung juga ia harus memakai alasan apa? Karena kejadian ini memang terlihat seperti ia yang sedang menunggu Hendri datang.


"Tapi buktinya kamu berdiri di depan gerbang? Terus tadi kamu juga senyum-senyum sendiri gitu pas aku dateng." Hendri semakin tersenyum sumringah, ia yakin Kalisa masih mencintainya. Ia semakin mendekat ingin menjangkau tubuh wanita itu. Tapi sebelum itu, Kalisa menghentikan Hendri.


"Eumiya, aku memang menunggu mas Hendri, karena tadi mas kan sudah mengirim pesan kalau sedang berjalan kemari." Ucap Kalisa, tak ingin semakin terjebak pertanyaan pertanyaan Hendri lagi. Biarkan sajalah, mau senang atau tidak dengan jawaban Kalisa, wanita itu tetap tidak akan peduli lagi dengan Hendri.


Akhirnya Kalisa mengajak Hendri untuk masuk ke dalam, lelaki itu mengambil barang bawaannya yang masih ada di motor, lalu lekas menyusul Kalisa masuk ke dalam rumah.


Hendri duduk di ruang tamu, sedangkan Kalisa membuatkan minum terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian Kalisa kembali dengan satu cangkir teh ditangannya. Melihat tidak ada tanda-tanda anaknya, Hendri sedikit bersyukur karena bisa berduaan dengan Kalisa, tanpa ada yang mengganggu.

__ADS_1


"Kal, anak-anak mana?" Tanya Hendri sambil pura-pura celingukan, mencari Reyhan dan May di sudut-sudut ruangan.


"May dan Reyhan sedang tidur." Balas Kalisa, Hendri langsung mengernyitkan dahi.


"Tidur? Bukankah biasanya anak-anak sudah bangun? Tidak biasanya jam segini mereka masih tidur?" tanyanya penuh selidik.


"Ah itu, mereka baru saja pulang. Aku habis mengajak mereka jalan-jalan, kan ini akhir pekan, jadi kayanya mereka kecapean." Ujar Kalisa dengan tenang, ia ingin menunjukkan pada Hendri,bahwa anak-anak tidak akan kekurangan apapun setelah perpisahan nya ini. Bahkan akan sangat bahagia.


Hendri tersenyum kecut, ia mengambil teh yang di sediakan Kalisa, lalu menyesapnya sedikit.


Melihat Hendri yang seperti itu, Kalisa yakin, ada sesuatu di belakang ini semua, sepertinya ada sebuah rencana di otak lelaki itu. Ia tidak boleh lengah.


"Yaudah, aku panggilin anak-anak dulu yah. " Ucap Kalisa sambil bangkit dari duduknya, namun Hendri segera memegang lengan Kalisa tak ingin wanita itu pergi. Meskipun hanya sebentar untuk membangunkan anak-anak.


"Kenapa?" Tanya Kalisa, ia segera melepaskan tangan Hendri yang masih melingkar dilengannya, ia merasa tak nyaman dengan ini semua.


Kalisa tersenyum, merasa lucu dengan sikap Hendri ini. Untuk apa datang kemari dengan alasan ingin menjenguk anaknya kalau mereka tidak bertemu keduanya?


"Mas, aku mengizinkan kamu kemari untuk bertemu May dan juga Reyhan, bukan untuk yang lainnya. Dan kali ini, kamu bertindak hanya sebagai seorang tamu. Jadi tolong, bersikaplah semestinya." Ujar Kalisa, lalu dengan cepat berlalu untuk membangunkan kedua anaknya.


Hendri hanya mampu terdiam, mungkin ia terlalu cepat bertindak, jadi Kalisa langsung menolaknya, tapi ia yakin dengan perlahan Kalisa akan kembali ke pelukan nya.


Dengan susah payah Kalisa membujuk Reyhan untuk menemui ayahnya, namun usaha itu cukup membuahkan hasil, karena kini Reyhan sudah duduk tepat dihadapan Hendri, samping Kalisa.


"Rey, May anak-anak ayah apa kabar?" Tanya Hendri basa-basi.


Bukannya menjawab Reyhan malah melengos, tak ingin melihat wajah sang ayah sedikitpun. Nampaknya, ia sudah sangat muak.

__ADS_1


"Kakak, ayah tanya loh. Dijawab dong nak." Ucap Kalisa sambil mengelus-elus kepala Reyhan dengan sayang. Sedangkan May asyik tiduran di paha Kalisa sambil memeluk boneka bayinya.


"Rey nggak mau ngomong sama pembohong kaya ayah." Jawab Reyhan ketus. Bocah lelaki itu sama sekali tak melihat ke arah Hendri.


"Rey, apa yang kamu bicarakan nak?" Tanya Hendri dengan nada sedikit meninggi, tidak terima dikatai seperti itu.


Kalisa pun sama terkejutnya, tak menyangka kalau Reyhan berani berkata demikian pada ayah kandungnya.


"Ayah tanya kenapa Rey berkata seperti ini? Ini karena ayah memang seorang pembohong. Mana janji ayah tidak mau membuat bunda menangis? Mana janji ayah akan selalu bahagiakan bunda? Rey tahu bunda sering menangis sendiri di kamar, bahkan Rey tahu ayah sering memarahi bunda hanya karena Tante jahat itu. Tapi Rey diam, hingga akhirnya Rey tidak mau membuat bunda nangis lagi, Rey putuskan Rey akan ikuti keinginan bunda untuk biarkan ayah pergi dari rumah ini. Dan sekarang untuk apa ayah kembali?" Terang Reyhan, entah pemikiran darimana? Yang jelas apa yang Reyhan katakan adalah sebuah fakta, tapi kenapa bisa bocah sekecil itu bicara seperti ini? Bahkan bibirnya saja bergetar disetiap ia mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan itu.


Air mata Kalisa turun tanpa permisi mendengar anak lelaki nya berkata seperti itu pada ayahnya, ia segera mendekap Reyhan yang sudah ikut menangis.


"Rey, dengarkan ayah. Ayah benar-benar minta maaf, ayah salah." Ucap Hendri dengan wajah memohon, tangannya ingin menyentuh kepala Reyhan, namun tangan kekar itu langsung ditangkis oleh tangan mungil milik Reyhan.


"Ayah tahu? Bunda adalah segalanya untuk Rey. Apapun yang membuat bunda sakit, itu sama saja menyakiti Rey. Dan ayah sudah melakukan itu pada bunda. Jadi minta maaf lah pada bunda, jangan padaku."


"Lagi pula Rey, bunda dan May tidak butuh ayah lagi. Kita sudah punya om baik, orang yang akan membahagiakan kami bertiga." Si sulung Reyhan bangkit, melepaskan pelukan Kalisa, ia menarik tangan May agar adik kecilnya itu mengikuti langkahnya.


"Ayo dek, kita pergi. Orang ini bukan ayah kita lagi." Ujar Reyhan, May hanya mengangguk lalu segera mengikuti langkah sang kakak untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Tiba-tiba dada Hendri terasa nyeri, melihat dengan jelas penolakan anak sulungnya yang secara terang-terangan. Bahkan ia tidak diakui sebagai ayah mereka lagi, dan dikatai pembohong? Ya dirinya memang pembohong, janji sucinya pada sang Tuhan saja ia ingkari. Apalagi janji pada sang anak yang sama sekali tidak ia ingat. Manik mata lelaki itu sudah sangat berair, dengan sedikit kedipan maka air itu akan tumpah dengan mudahnya.


Bukan hanya di benci, bahkan tadi Reyhan mengatakan kalau ada orang lain yang akan membahagiakan mereka bertiga. Secepat itukah? Siapa?


"Mas, kamu dengar sendiri apa yang Reyhan ucapkan? Aku mohon, pergilah dulu. Aku akan bicara dengannya. Jika kamu memang menyayangi nya, pelan-pelan ambil lagi hati anak-anakmu, agar mereka kembali menghargaimu. Aku ke dalam dulu."


Hendri mematung...

__ADS_1


__ADS_2