Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Permintaan


__ADS_3

Pov Hendri


Aku mulai bisa bernafas dengan lega sekarang. Mendengar ucapan Kalisa yang sungguh-sungguh akan menerima Sela dengan baik dalam hidup kami berdua. Membuka sebuah kisah dilembaran kertas baru yang sama sekali belum kami tulis.


Ya walaupun ku akui Kalisa sedikit berlebihan mengenai tanda tangan itu. Tapi tidak papa, yang penting Kalisa kembali dalam pelukanku. Dan dia akan tetap menjadi wanitaku tanpa aku harus melepas Sela. Bahkan malam ini Kalisa memintaku untuk kembali tidur dikamar kami. Ah, rasanya seperti mimpi.


Aku duduk ditepian ranjang, memperhatikan gerak-gerik Kalisa dari ia keluar kamar mandi, hingga kini ia duduk didepan meja rias. Wanita itu kini sedang mengoles cream malam untuk mempercantik kulitnya. Ia melirikku sekilas lalu tersenyum, dan aku membalas senyumannya.


Setelah selesai berkutat dengan dunianya, Kalisa melangkah ke arah ranjang. Membaringkan tubuhnya sambil menarik tanganku agar mengikutinya. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya dengan sempurna. Aku bahagia. Benar hatiku sangat bahagia karena sikap Kalisa benar-benar berbeda dari sebelumnya.


Mata kami saling menatap, namun mulut kami seakan terkunci karena tidak ada yang bicara sama sekali. Dengan segala debaran di jantungku yang melompat seperti orang yang sedang jatuh cinta, aku memberanikan diri, mendekat dan meraih bibir Kalisa. Dia tidak menolak bahkan membalasnya. Yes, Kalisa menerimaku kembali, hatiku bersorak gembira.


Aku memperdalam ciuman kami, bertaut dalam rasa yang baru aku dapat kembali. Kenapa begitu membuncah, dan rasanya begitu berbeda saat aku bersama Sela. Mungkin karena efek aku terlalu mencintai Kalisa.


Lama-lama aku tak bisa menguasai diri lagi. Darahku mendidih. Jiwa kelelakianku meminta lebih dari ini. Begitu tidak sabaran, aku ingin cepat membuka pakaian yang Kalisa kenakan.

__ADS_1


"Jangan." ucap Kalisa, menahan tanganku yang sudah bertengger di kancing piyamanya. Tanganku melemah. Hah siapa yang bisa menahan gejolak api asmara yang sudah membara? Detak jantungku saja rasanya masih melompat dengan sekuat tenaga.


"Kenapa? " tanyaku berubah sendu. Pasalnya hasratku sudah begitu menggebu-gebu. Tapi Kalisa malah menolak aku melakukan itu.


"Aku lelah Mas, lagi pula aku inikan baru pulih dari sakitku." balasnya, dan aku membenarkan ucapan Kalisa. Aku merasa kecewa, tetapi tak ku tunjukkan dihadapannya. Tak apa, masih ada hari esok dan seterusnya. Aku juga tak ingin membuat Kalisa berubah pikiran dan malah menolakku lagi. Perlahan tapi pasti hati Kalisa akan mencintaiku kembali, seperti dulu.


"Yasudah, kita tidur saja yah." aku mengalah, dan dia malah menggeleng. Lalu kita akan melakukan apa? Rasanya aku ingin malam ini cepat berlalu begitu saja, daripada harus menahan sesuatu yang tak bisa aku lepaskan. Bisa-bisa Kalisa aku terkam.


"Kenapa sayang? " tanyaku lagi karena merasa heran.


"Aku ingin kita bicara lagi, dan ini menjadi permintaanku yang terakhir kali." jawabnya sungguh-sungguh. Aku dapat merasakan ketulusan itu lagi. Binar mata yang seakan redup kini bersinar kembali.


"Aku ingin Sela tinggal dengan kita." dia menunduk sambil memainkan jarinya di kancing bajuku.


Deg!

__ADS_1


Aku menatapnya tidak percaya. Sebenarnya apa tujuan Kalisa melakukan ini semua. Apa ia akan mencelakai Sela dan bayinya? Ah itu tidak mungkin, Kalisaku berhati lembut, ia tidak akan melakukan hal buruk itu. Jelas-jelas dia sangat menyayangkan bayi itu meski ia dari hasil hubungan haramku. Jadi mustahil Kalisa punya niat terselubung dalam keinginannya ini.


"Kenapa harus seperti itu sayang? Jujur aku tidak ingin lagi kalian bertengkar." tanyaku dengan hati-hati tak mau menyinggung perasaannya.


Dia lebih dulu membuang pandangannya sebelum kembali bicara.


"Selama ini kan dia tinggal bersamamu disana. Waktu bersama kalian lebih banyak, sedangkan aku? Aku hanya punya waktu seminggu denganmu? Apa Mas tidak berpikir aku cemburu dengan itu? Dan apa kamu pikir itu adil untukku? Aku tahu dia memang asli orang sana, makanya dia ikut tinggal bersamamu. Maka dari itu aku minta dia tinggal disini, bersamaku. Agar kita seimbang dalam memilikimu." terangnya. Aku sedikit berpikir, dan lagi-lagi membenarkan ucapan Kalisa, benar selama ini aku tidak berlaku adil pada keduanya. Waktu ku lebih banyak dengan Sela. Ya walaupun disana sebenarnya aku bekerja, tapi tetap saja pulangnya wajah Sela lah yang menyambutku dan tempatku melepas lelah.


Aku sedikit ragu, sudah benarkah dengan keputusanku. Aku tak ingin gegabah.


"Apa kamu tidak papa Kal? " tanyaku padanya. Menghilangkan segala keraguan yang bersarang diotak dan hatiku. Karena rasanya seperti ada yang mengganjal, terlebih aku takut mereka berdua akan banyak ribut. Aku tau bagaimana Sela, pasti dia tidak mau kalah. Dan Kalisa, dia juga cukup keras kepala.


"Aku tidak masalah Mas, yang penting kamu nasihati dia agar bersikap baik padaku. Dan aku minta agar kamu menyembunyikan statusnya sebagai istrimu. Aku tidak mau kalo Reyhan dan May sampai tahu. Aku melakukan ini agar mereka tidak berburuk sangka padamu. Jadi biar kelak aku yang menjelaskan semuanya. Pasti kedua anakmu akan mengerti dengan situasi ini."


Aku begitu senang mendengar ucapan Kalisa yang betul-betul menjaga nama baikku didepan anak-anak. Aku akan menyetujui idenya. Puas dengan segala penuturan istriku tercinta. Dan karena aku yakin pelan-pelan kedua istriku akhirnya akan saling menerima. Ya Kalisa dan Sela.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wkwkwk geer kamu Mas


__ADS_2