Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Pemeriksaan


__ADS_3

Jantung langsung berdegup kencang. Pelan, dia meraba perutnya yang masih rata dengan uluman senyum bahagia.


Benarkah kini dirinya tengah hamil? Hamil buah cintanya dengan Rama?


Hingga tak terasa air matanya menetes, dan dia langsung usap begitu May dan Reyhan memekik kegirangan memeluk kakinya.


"Nda, Dede bayinya udah ada yah?" tanya May begitu antusias, mata lembutnya berbinar memancarkan kebahagiaan.


Kalisa bergeming, tetapi dalam hatinya terus mengamini. Wanita itu mengusap puncak kepala dua buah hatinya, kemudian berjongkok mensejajarkan diri.


"Bunda sama Papa belum tahu, Sayang. Nanti Bunda cek dulu yah." Ucap Kalisa sungguh-sungguh.


"Semoga adik Reyhan kali ini laki-laki." Reyhan menimpali dengan mengangkat tangannya ke udara.


Membuat May mencebikkan bibirnya, tidak suka. "Ish, itu adiknya Adek, Kak."


"Iya tapikan adiknya Kakak juga." Reyhan tak mau kalah. Dia juga ikut menatap May dengan membusungkan dada.


"Nggak mau. Itu adiknya May kan Bunda?" Gadis cilik itu mencari pembelaan.


Mbak Darmi yang melihat tingkah lucu May dan Reyhan menjadi gemas sendiri. Dia geleng-geleng kepala, lalu terkekeh.


Sedangkan Kalisa yang tak mau membuat kedua anaknya ribut, meraih satu tangan May dan Reyhan lalu digenggamnya.


"Adik sama-sama, Sayang."


Namun, May masih tidak terima, wajahnya berubah cemberut. "Ah, Bunda. Kakak suruh buat adik sendiri aja." rengeknya.

__ADS_1


Belum sempat menjawab, kedatangan Rama menghentikan celoteh mereka semua. Baru muntah beberapa kali, raut wajah lelaki itu sudah terlihat sangat lesu.


Kalisa bangkit, lalu mereka semua menghampiri lelaki yang terlihat memprihatinkan itu.


"Mas, kamu nggak usah ke kantor yah. Wajah kamu keliatan pucet." Ucap Kalisa, dia memeluk erat lengan Rama, sedangkan tangan yang lain menyeka peluh yang membanjiri dahi lelaki itu.


"Iya, Papa. Papa jagain adik bayi aja." ucap May sambil menunjukkan gigi-giginya yang putih.


Rama yang belum mengerti apa-apa, hanya bisa mengernyitkan dahi. "Adik bayi? Adik bayi siapa, Sayang?"


Kalisa mengulum senyum, lalu mengusap pipi Rama dengan sayang. Hingga pandangan kedua insan itu bertemu.


"Aku belum tahu ini benar atau tidak, Mas. Tapi kata Mbak Darmi kita perlu memeriksakannya." Jelas Kalisa.


"Maksud kamu?"


"Masya Allah, Sayang. Baik, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang." Rama langsung berubah antusias, bahkan dia melupakan sarapannya.


Akhirnya atas saran Mbak Darmi. Rama dan Kalisa pergi ke rumah sakit, setelah mengantar Reyhan dan juga May ke sekolah.


Raut wajah Rama yang terlihat memucat itu berubah sangat sumringah. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan pemeriksaan, berharap semua harapannya menjadi kenyataan.


Kalisa hamil buah cintanya.


Sambil menunggu antrian, Rama terus menggenggam tangan Kalisa, mengecupinya berulang kali, tanda dia sangat bahagia.


Hingga nama Kalisa dipanggil, mereka langsung bangkit, menuju ke ruang pemeriksaan. Dengan setia Rama mendampingi wanitanya, di samping Kalisa, Rama terus mengulum senyum tiada habis.

__ADS_1


"Bagaimana, Dok?" tanya Rama.


Sama halnya dengan Kalisa dan Rama. Dokter Susan pun ikut mengulum senyum.


"Selamat, ya Pak. Istri anda benar-benar hamil."


"Ya Allah... Alhamdulillah."


Mendengar itu, Rama langsung mengucap syukur dan mengecupi puncak kepala Kalisa beberapa kali, hingga kecupan terakhir dia berikan sangat dalam.


Setelah itu, Dokter Susan menjelaskan bahwa janin tersebut masih sangat kecil, dan wajib dijaga dengan ekstra hati-hati. Ditambah asupan yang cukup, serta tidak melakukan aktivitas berat.


"Selain itu, saya memprediksi, bahwa ibu Kalisa akan mengandung bayi kembar."


Kedua orang itu terperangah.


Bahkan netra Rama langsung membulat sempurna, dengan mulut yang sedikit terbuka, merasa tak percaya. Apa? Kembar?


"Mas." Kalisa memanggil suaminya itu, dan menyadarkan Rama dari rasa keterkejutannya.


Rama menoleh ke arah Kalisa. "Ya Allah, Sayang anak kita kembar."


Dan Kalisa mengangguk sebagai jawaban.


Sumpah demi apapun Rama sangat bahagia mendengarnya, dia sampai meneteskan air mata, dan kembali berterima kasih sebanyak-banyaknya pada Kalisa.


Dia berjanji akan menjaga Kalisa dan calon buah hati mereka dengan sangat hati-hati. Dia tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi pada Kalisa.

__ADS_1


Ya Allah... Terimakasih atas amanahmu.


__ADS_2