
"Yah, hati ibu kok nggak tenang gitu yah. Ibu kepikiran Lisa terus." Ucap ibu Kalisa pada sang suami selepas sarapan. Beliau duduk bersebelahan dengan lelaki tua itu tepat didepan rumah. Mereka sedang menikmati Minggu pagi yang cerah, dengan dua cangkir teh. Bukan iklan sari Wang!
Ayah Kalisa menurunkan sejenak bacaannya. Lalu menatap sang istri yang memang terlihat gelisah.
"Bu, semalam kan kita baru saja telpon Lisa. Dan dia bilang kalau dia itu baik-baik saja. Lalu apa yang ibu pikirkan?" Tanyanya.
Namun lain dengan naluri seorang ibu, walaupun Kalisa bicara bahwa dirinya baik-baik saja, ibu tetap tidak percaya. Beliau yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan putrinya itu.
"Yah, kalau kita jenguk Lisa bagaimana, sekalian jengukin cucu-cucu kita juga. Kita kan sudah lama tidak kesana." Saran ibu Kalisa, beliau ingin memastikan sendiri bahwa keadaan anaknya memang tidak seperti apa yang beliau pikirkan.
Ayah Kalisa menimang sebentar ucapan istrinya. Ada benarnya juga mereka menjenguk Kalisa. Lagi pula, memang mereka sudah lama tidak bertemu May dan juga Reyhan. Cucu mereka.
"Baiklah Bu, kita siap-siap sekarang." Ujar ayah Kalisa mantap. Ibu tersenyum sumringah, karena akhirnya suaminya ini setuju . Dengan hati yang penuh bunga, ibu Kalisa bersiap untuk menemui putri dan juga cucu-cucunya.
*****
Beberapa jam telah berlalu, kereta api telah membawa sepasang suami istri yang sudah masuk ke usia senja di kota dimana putri satu-satu mereka berada. Sesampainya di Stasiun, ayah Kalisa langsung memanggil taksi untuk mengantarkan mereka ke rumah Kalisa.
Dan disinilah mereka sekarang, rumah yang tampak asri, dimana banyak pot bunga menghiasi rumah itu. Namun, terlihat sepi karena seperti nya Kalisa dan keluarga sedang tidak ada dirumah. Mereka yakin kalau Kalisa ada di tokonya.
"Bu lebih baik ibu telpon saja Lisa suruh pulang dulu." Titah ayah Kalisa pada sang istri, istri nya itu mengangguk menyetujui, lalu dengan cepat beliau membuka tas dan mencari ponselnya untuk menghubungi Kalisa.
Hanya dengan tiga kali getaran, akhirnya panggilan terhubung, karena memang Kalisa tidak sedang melayani pelanggannya.
"Assalamualaikum, Bu ada apa?" Tanya Kalisa heran. Tak biasanya ibunya ini menelpon siang-siang.
"Waalaikumussalam, Lis, ayah sama ibu sudah ada didepan rumahmu." Ucap ibu antusias, beliau menyangka anaknya itu akan terkejut bahagia dengan kedatangannya. Benar, Kalisa sangat terkejut, namun bukan terkejut seperti yang ibunya maksud, bahkan kini ia langsung termangu. Ia belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya kepada orang tuanya. Namun, kenapa tiba-tiba orang tuanya sudah ada didepan rumah. Biasanya, ayah dan ibunya itu akan menghubungi nya terlebih dahulu, tapi kini tidak? Apa ini saatnya, mereka harus tau semuanya?
"Lis?" Panggil ibu berkali-kali, tapi Kalisa tak menjawabnya. Namun untuk yang ke lima kalinya, akhirnya Kalisa tersadar dalam lamunannya.
__ADS_1
Astaghfirullah...
"Iya Bu. Kalisa pulang sekarang yah." Ucap Kalisa buru-buru, lalu langsung mematikan sambungan telpon itu.
"Yah, Lisa kok aneh yah. Sepertinya perasaan ibu benar, Lisa menyembunyikan sesuatu dari kita." Ucap ibu, lalu ayah Kalisa manggut-manggut. Beliau langsung merengkuh pundak istrinya menenangkan, karena beliau yakin putri nya itu akan bercerita hal yang sebenarnya pada mereka. Kalaupun tidak, maka ayah Kalisa akan menanyakan nya.
Beberapa menit kemudian, Kalisa sampai dirumahnya. Dan benar saja, kedua orangtuanya sudah duduk menunggu nya diteras rumah. Kalisa berjalan terburu-buru sambil menggandeng tangan May dan Reyhan.
"Nak, kasih salam sama nenek dan kakek." Titah Kalisa pada kedua anaknya, lalu Reyhan dan May serempak memberi salam pada dua makhluk paruh baya tersebut.
Setelah itu, Kalisa langsung menatap wajah tua ibu dan ayahnya. Terbesit kembali rasa sakit itu, perlahan ia melepaskan genggaman nya pada Reyhan dan May, tak kuasa ingin segera memeluk sang ibu. Bidadari didunianya.
"Bu..." Lirih Kalisa, ibu yang menyadari bahwa anaknya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja langsung memeluknya erat. Seerat mungkin. Dan Kalisa kembali menumpahkan air matanya disana, dipundak sang ibu. Merasa tak nyaman berada diluar, ayah Kalisa menyarankan untuk masuk ke dalam rumah.
Reyhan dan May digiring oleh kakek mereka untuk langsung masuk ke kamar, dan meminta cucunya agar tidur siang. Setelah itu, baru beliau menyusul sang istri yang masih setia memeluk putrinya diruang tamu.
Ibu Kalisa terus mengusap-usap punggung yang penuh beban itu. Air matanya ikut mengalir, bersedih karena melihat keadaan putri nya yang tak seperti biasa.
POV Kalisa
Usai ayah menepuk-nepuk bahuku, aku segera melerai pelukanku dari ibu. Merasa sedikit puas karena sudah menumpahkan kesedihanku dipundak seseorang yang telah melahirkan ku. Aku mengusap sisa air mata yang masih mengalir. Menatap ayah dan ibu bergantian. Aku harus siap menerima murka dari kedua orang tua ku, karena aku telah menyembunyikan masalah sebesar ini pada mereka. Aku harus siap dihadapkan kembali dengan rasa sakit yang harus aku ceritakan ulang, sesuatu yang selalu menjadi batu besar yang mengganjal didadaku. Sesak.
"Ceritakan." Titah ayah, meski suaranya lembut namun pembawaan nya penuh kewibawaan.
"Bu, ayah...." Panggilku, tak kuasa, air mataku kembali menderas. Bibirku bergetar hebat. Sebisa mungkin aku mengatur nafasku, menarik dan menghembuskannya perlahan.
"Aku dan Mas Hendri...." Aku menggigit bibir bawahku. Tenggorokanku tercekat, hingga akhirnya aku kembali memeluk ibu. Aku kembali terisak kencang disana. Aku tidak kuat ya Allah...
"Lis," panggil ibu, aku bergeming. Aku hanya mampu menangisi takdirku yang menjadi wanita malang, karena tidak bisa menjaga suamiku dari godaan orang ketiga.
__ADS_1
"Lisa... Sebenarnya ada apa?" Cerca ibu, beliau sudah ikut menangis.
Aku menatap ibu penuh pilu, menyampaikan lukaku dengan sorot mataku.
"Lisa dan mas Hendri sudah bercerai Bu." Ucapku lemah, lalu memeluk ibu erat. Ku rasakan tubuh ibu menegang. Hanya ada lelehan air mata yang tumpah mengenai lenganku, dan ku tahu itu milik ibu. Dan saat ku lirik ayah, beliau hanya menajamkan matanya penuh murka.
Ku tahu ibu dan ayah pasti tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya, karena selama ini aku hanya bilang bahwa aku baik-baik saja untuk menjawab ketakutan ibu. Aku tidak mau membuat mereka kepikiran, bahkan sampai sakit hanya karena masalahku. Toh akhirnya aku dan dia kini telah selesai.
Ayah bangkit dari duduknya, melenggang ke arah dapur, lalu tak berapa lama kemudian beliau membawa dua gelas air putih ditangannya. Beliau menyodorkan gelas itu ke arahku dan juga ibu. Beliau sosok yang paling aku jadikan panutan untuk mencari seorang suami. Dan saat itu aku melihatnya pada mas Hendri, tetapi ternyata prasangka ku salah. Waktu telah merubahnya.
"Minumlah dulu. Setelah itu cerita kan pada ayah." Titahnya, aku mengangguk lalu meraih gelas itu, pun dengan ibu.
Setelah aku merasa tenang, dan aku sudah bisa menguasai diri, akhirnya aku mulai buka suara. Aku menceritakan hal yang sebenarnya, awal mula masalah dalam rumah tanggaku, tentang hadirnya orang ketiga yang ternyata pura-pura hamil untuk menjerat mas Hendri untuk masuk dalam perangkap nya. Aku terus bercerita tanpa dikurangi ataupun dilebih-lebihkan seolah aku yang paling teraniaya, toh memang kenyataannya begitu. Aku kan yang paling menyedihkan? Ku lirik ibu menangis tersedu-sedu dipelukan ayah yang wajahnya sudah terlihat sangat kesal. Sementara aku berusaha meyakinkan pada kedua orang tua ku, bahwa aku bisa membesar kan May dan Reyhan tanpa sosoknya. Aku baik-baik saja.
Tiba-tiba ayah bangkit, dan meminta ruang untuk duduk diantara aku dan ibu. Dengan tangan terbuka, beliau memeluk kami berdua. Tangan kokoh yang tidak pernah menyakiti kulitku mendekap penuh kenyamanan. Pikiran mengenai kemurkaan ayah menguap, melihat sikap ayah yang malah dengan suka rela memberikan ketenangan ini.
"Maafkan Kalisa ayah, ibu." Ucapku dengan terisak. Aku merentangkan tanganku memeluk perut ayah.
"Sebagai sesama lelaki ayah malu, bukan karena kamu putri ayah, tetapi kelakuan nya sudah seperti bukan pejantan saja. Ia tak melihat putrinya, bagaimana jika nanti putrinya disakiti seperti apa yang ia lakukan padamu? Apa dia akan diam? Dan malah membenarkan? Jika iya, berarti ia tidak bisa disebut sebagai seorang ayah. Ayah memaafkan kamu nak, karena kamu berhasil melepasnya. Kalau saja belum, mungkin ayah sudah mengajak ibu pergi dari rumah ini. Setelah ini, ayah pastikan ia tidak bisa melihat anak-anaknya lagi." Ucap ayah dengan tegas, aku memejamkan mataku sejenak, merasa terharu dengan sikap ayah. Namun, ada rasa tidak terima pada kalimat terakhirnya. Aku mendongak untuk menatap wajah gagah itu.
"Ayah, sebagai seorang ibu, aku mengerti bagaimana anak-anak ku. Meskipun ia sudah banyak menoreh luka. Dia tetap ayah dari May dan Reyhan yah. Kalisa tidak mungkin memungkiri itu. Kalisa tidak bisa jika harus memisahkan mereka. Kalisa akan tetap mengizinkan mereka bertemu, karena walau bagaimanapun Reyhan dan May tetap butuh sosoknya." Ujarku dengan lemah lembut, berharap apa yang aku ucapkan ini bisa diterima oleh ayah.
Ayah bergeming cukup lama, mencerna apa yang aku ucapkan, mungkin berat baginya. Karena beliau sudah terlalu benci pada mas Hendri.
"Baiklah... Ayah izinkan. Tetapi hanya untuk Reyhan dan May. Kamu jangan." Ucap ayah dengan tegas. Aku mengangguk, dengan hati yang lega. Aku sedikit mengulas senyum.
"Terimakasih yah."
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...