Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Pelampiasan kekesalan


__ADS_3

POV Hendri


Brak!


Sesampainya dirumah aku langsung membanting pintu dengan sangat keras, tak peduli para tetangga akan mendengarnya atau tidak, yang jelas sekarang aku benar-benar sangat kesal. Hari ini aku banyak berharap bisa memperbaiki hubungan ku dengan Kalisa, tapi malah sebaliknya. Aku malah di pukul mundur oleh anakku sendiri.


Duniaku sangat hancur, hati ini seperti terkoyak-koyak. Mendapati kenyataan bahwa bukan hanya Kalisa yang sulit untuk menerima ku kembali, tapi juga anak sulungku, Reyhan. Dia sudah benar-benar membenciku dengan hatinya, apa ini karena bujukan Kalisa? Apa dia yang mempengaruhi Reyhan agar ikut membenciku? Atau anak sulungku itu mengerti situasi yang sebenarnya?


"Akhhh!"


Crank... Crank... Crank


Aku melempar semua benda yang ada didalam kamarku, melampiaskan segala apa yang berkecamuk di dalam dada ini. Hatiku bak diiris sembilu, dan kulitku seperti disayat dengan pisau tajam tak kasat mata. Rasanya benar-benar sakit dan perih mendapati kenyataan ini.


"Hikss.... Kenapa begitu menyakitkan ya Tuhan..." Aku memegangi dadaku yang semakin terasa sesak. Udara di sekitar tak membuatku bisa bernafas dengan lega. Air mataku turun dengan lancang tanpa bisa ku cegah.


Dunia seakan sedang menertawakan ku, memberiku sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana aku harus mengatasinya? Bagaimana aku harus membuat Reyhan dan Kalisa kembali percaya? Bagaimana?


"Hiks....hiksss..."


Di saat aku sedang menangis tersedu-sedu tiba-tiba suara langkah kaki berjalan semakin mendekat, ku rasakan ada tangan lembut yang mengusap punggung ku dengan pelan.


"Mas, ada apa?" Tanya nya dengan hati-hati.


Bukannya senang, amarahku malah semakin ingin ku lampiaskan. Dan orang ini, adalah sasaran terempuk, untuk menjadi pelampiasan kekesalanku.


Aku langsung memicingkan mata ku. Melihat ke asal suara. Dan disana, menampilkan wanita yang paling ku benci saat ini. Induk dari segala permasalahan ku selama ini.


"Kau?" Ucapku dengan dingin. Menelisik tubuhnya, ia membatu, tak berani membalas tatapanku.


Aku mencengkeram rahang Sela dengan cukup kuat, ingin rasanya aku membunuh wanita iblis satu ini sekarang juga. Kalau saja aku tidak bertemu dengannya, semuanya takkan seperti ini. Pasti semuanya masih baik-baik saja.


"Mas, sakit." Rintih Sela sambil mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Ini belum seberapa Sela, ketimbang semua rasa sakit yang di peroleh Kalisa, gara-gara kamu semuanya hancur berantakan." Ucapku dengan menggebu-gebu, mataku semakin menajam melihat wajah so lugunya itu.


Cuih! Aku meludah ke samping.


Sela menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata tipuan itu mengalir dari sudut-sudut matanya. Aku tidak akan tertipu lagi. Aku sudah hafal sikapnya ini.


Tapi tiba-tiba mataku menangkap kejanggalan dalam anggota tubuh Sela. Bagaimana bisa dia?


Aku melepas cengkraman ku dari rahangnya, lalu berganti menarik kerah baju Sela dengan kasar, dan di belakang leher itu terlihat beberapa tanda percintaan, aku tidak pernah melakukannya, lalu siapa yang membuat tanda di leher ini?


"Wanita ja*lang!!!"


"Wanita biadab."


"Wanita Dajjal."


"Dasar pembawa sial!!!"


Plak!


"Mas, sakit." Pekik Sela. Tapi aku tidak menghiraukan nya, rasa benci itu semakin bersarang, menggunung bersama rasa kecewaku akan penolakan Reyhan.


"Kamu pikir, kamu siapa? Bisa bermain api di belakang ku? Hah, jawab! Siapa lelaki itu?"


Sela hanya bisa menangis sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat perbuatanku.


"Jawab sialan!"


"Aku—"


"Heuh! Apa kau juga ingin melakukannya denganku sekarang?" Tanyaku menantang, dan ia menggeleng cepat, ia tahu betapa ganasnya aku saat melakukan itu bersama nya, makanya ia begitu ketakutan. Tapi bukan aku namanya, kalau tidak senang dengan kesakitan Sela.


"Kau menerima lelaki lain tetapi menolak bercinta dengan suamimu sendiri?" Tanyaku tepat di telinganya, dia semakin menangis. Lalu akhirnya tubuhnya ambruk dibawah kakiku. Dia memeluk kakiku dengan cukup erat.

__ADS_1


"Maafkan aku mas." Lirih Sela. Aku yang sudah benar-benar muak malah menendangnya hingga ia tersungkur dilantai.


"Aw!" Pekik Sela, dan aku sama sekali tidak peduli. Aku malah semakin puas melihatnya menderita seperti ini, aku menarik tangannya dengan kasar, lalu membanting tubuhnya di atas ranjang.


"Mas cukup, aku mohon, aku mohon jangan lakukan." Sela memohon dengan mengatupkan tangannya, wajahnya terlihat sangat memelas, tapi aku tidak ingin membuatnya lebih membangkang, selama ini aku sudah meremehkannya. Membiarkan dia bersikap sesuka hati, tapi ternyata dia berani bermain api.


"Kenapa? Kau takut melayani suamimu ini?" Aku semakin mendekat ke arahnya, dan ia beringsut mundur dengan pelan-pelan.


Dan aku semakin tertantang, dengan cepat aku menarik bajunya, dengan satu kali tarikan lengan baju itu robek. Aku menyeringai. Sepertinya itu terlihat sangat menakutkan di mata Sela, ia malah semakin menangis sambil memegangi robekan bajunya. Apa kau ingin terlihat seperti orang yang di perkosa?


"Bukankah kau menyukai sentuhanku ini? Bukankah dulu kamu yang menggodaku untuk menikmati bagian dadamu yang terlihat sangat besar itu? Lalu kenapa kamu takut? KENAPA???" Otakku semakin tak bisa di ajak berpikir, dua bagian yang menonjol itu ku remat dengan pelan, hingga akhirnya Sela mengeluarkan suara-suara aneh itu, ku buka penutup itu dengan tidak sabaran, menghisapnya bergantian meski Sela terus meronta dibawah kungkunganku.


"Diam!!!" Bentakku.


Ya Tuhan... Apakah ini adalah akhir dari hidupku? Apakah aku akan mati di tangan mas Hendri? Gumam Sela dalam hatinya.


Tanpa menunggu Sela merasakan klimaks, senjataku ingin segera menerobos masuk, agar wanita ini sadar, apa yang ia perbuat itu adalah salah besar. Meski aku tak lagi mencintai nya, tapi jangan coba-coba untuk bermain gila. Bukan karena aku kecewa, tapi apa yang telah menjadi mainanku, tidak boleh di pakai oleh orang lain.


Aku terus memaju mundurkan tubuhku, menikmati setiap sensasi percintaan sore ini, aku sangat puas melihat wajah Sela yang kesakitan. Aku menunduk dan membuat beberapa tanda percintaan ditubuhnya.


"Bagaimana? Kau suka?" Tanyaku dengan nada meledek, ia semakin menangis, meringis menahan perih. Aku memacu permainan ku dengan cepat, dikala puncak itu akan segera tiba, aku tidak peduli pada kepuasan Sela. Yang penting kenikmatan itu aku terima. Dan akhirnya lahar panas itu berhasil aku keluarkan, ku tebarkan di perut Sela.


Kamu memang jahat! Memang sebaiknya aku pergi meninggalkanmu. Tidak alasan lagi aku bertahan dalam hubungan ini. Maafkan aku mas Hendri. Gumam Sela dalam hati.


Dan...


BUGH!!!


******


Maafin Dede yah udah lama nggak up, kemarin dd sakit, dan Alhamdulillah ini baru mendingan, sebenarnya sih ide berseliweran tetapi kondisi tubuh nggak memungkinkan. Jadi kemarin dd nggak bisa maksain diri, semoga kalian pun memaklumi, bahwa di masa pandemi ini, tubuh memang lagi bener2 banyak di serang virus. Stay safe buat kalian semua yah, biar health terus sekeluarga.


Kasih semangat buat dd napaaaaa😫😫😫

__ADS_1


Big love buat kalian semua♥️


__ADS_2