Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Membawa Kalisa pergi


__ADS_3

Author POV


Rama tak langsung bekerja hari itu. Dia hanya membawa Kalisa untuk berkeliling, setelah meminta Haris memesan makanan untuk para karyawan.


Dia tahu ucapan Haris hanya bercanda, tetapi dalam hati Rama memang sudah berniat, untuk membelikan makan siang untuk mereka semua.


Sekitar tiga puluh menit mereka berkeliling, akhirnya Kalisa pada titik lelahnya, ditambah dia baru saja mendapatkan datang bulan.


"Sayang, cape yah?" Tanya Rama, dan Kalisa tak bisa bohong, dia mengangguk cepat.


Rasa-rasanya pun ia sudah sangat engap menggunakan masker tanpa tahu kapan Rama memberikan izin untuk melepasnya.


Rama mengusak puncak kepala Kalisa sekilas, lalu tiba-tiba tubuh semampai wanita itu mengudara, kaki itu tak menapak lagi di bumi karena Rama sudah berhasil menggendongnya.


"Mas, apa-apaan sih, ini bukan di rumah. Nanti ada yang lihat bagaimana? Aku kan malu." Protes Kalisa dengan matanya yang mengerjap-ngerjap tidak percaya.


"Tenanglah, Sayang. Lorong ini jarang dilewati karyawan, kita juga bisa pakai lift yang ada di sana, supaya cepat sampai di ruanganku." Tunjuk Rama dengan ekor matanya. Pada sebuah pintu yang bergerak otomatis itu.


Kalisa mengikuti arah gerak mata Rama, dan benar saja, di sana ada sebuah lift, dan suasana sekitar pun nampak sepi.


Wanita dengan dua anak itu, tidak jadi memprotes, dia justru menyandarkan kepala di dada Rama, membuat lelaki itu tersenyum gemas.


"Kalo nggak ada orang baru berani yah." Goda Rama dengan terkekeh pelan.


Dan hal itu, membuat tubuhnya langsung mendapat tabokan.


Rama dan Kalisa tidak tahu saja, kalau ada dua pasang mata yang memergoki kelakuan manis mereka.


"Pak Rama romantis juga yah." Kata cleaning servis yang satu. Dan mendapat anggukan dari rekannya.

__ADS_1


"Yah, namanya juga pengantin baru." Timpal yang satunya lagi, lalu keduanya terkekeh bersamaan, merasa lucu dengan tingkah kedua orang itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menyelesaikan makan siang, Rama kembali mengajak Kalisa pergi, wanita itu sama sekali tidak tahu, kemana Rama akan membawanya.


Dia hanya menurut, saat tangannya di genggam, dan kakinya melangkah keluar dari perusahaan.


Dan saat sampai di dalam mobil, Kalisa baru buka suara. "Mas kita akan kemana?" Tanyanya.


Rama lebih dulu memasang seat belt ke tubuh Kalisa, lalu mengecupi pipi wanita itu. "Nanti kamu juga tahu, Sayang. Pokoknya ini untuk masa depan kita." Jelas Rama seraya menyalakan mesin mobil.


Kijang besi itu kembali membelah jalan raya, dan dalam perjalanan itu Kalisa sama sekali tak mengeluarkan suara, matanya terkantuk-kantuk, dan akhirnya dia terlelap, dengan bersandar di punggung kursi mobil.


Melihat itu, Rama mengulum senyum, dia menyempatkan diri untuk mengelus pipi Kalisa saat mereka terhenti di lampu merah.


"Humairahku lelah yah." Gumam Rama dengan lengkungan tak habis-habis.


Rama lebih dulu membangunkan sang istri dengan memberikan ciuman bertubi-tubi. Kalisa yang merasakan pergerakan di atas tubuhnya, sontak saja langsung mengerjapkan mata.


"Sudah sampai," ucap Rama dengan tersenyum lebar.


Kalisa melihat sekeliling, dahinya mengernyit heran. Untuk apa Rama membawanya ke rumah sakit?


"Kenapa Mas membawaku ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" Tanya Kalisa dengan suara yang sedikit parau.


Dan Rama lebih dulu mencolek hidung Kalisa. "Kita akan konsultasi, Sayang." Balasnya.


"Konsultasi apa, Mas?" Kalisa semakin tidak mengerti.

__ADS_1


"Konsultasi untuk kehamilanmu,"


Deg!


Dada Kalisa berdebar kencang.


"Kamu tidak bercanda kan, Mas?" Tanya Kalisa dan lelaki itu langsung menangkup kedua sisi pipi istrinya.


Rama menggeleng. "Tidak, Sayang. Aku serius."


Mendengar itu, Kalisa kembali merasa begitu dicintai, karena Rama selalu melakukan sesuatu yang di luar dugaannya.


Kalisa mengulum senyum, dan detik selanjutnya dia mencuri kecupan di bibir suaminya. Namun, tidak akan hanya menjadi sebuah kecupan untuk Rama.


Dia sudah dipancing oleh Kalisa, maka dia akan makan umpan itu. Rama mengangkat dagu Kalisa, lalu dengan cepat menyatukan bibir keduanya.


Sama halnya seperti di baseman perusahaan, Kalisa meronta saat melihat orang-orang berseliweran di luar sana.


Dia takut, takut kelakuan mesumnya dilihat oleh mereka.


Tetapi Rama tidak peduli, dia terus menahan tengkuk Kalisa kuat, dan memagut bibir yang terasa manis itu, melumaatnya atas bawah, bahkan sesekali menggigitnya, hingga membekas merah.


Lambat laun, Kalisa justru terbuai, dia memejamkan mata, dan ikut memainkan lidahnya. Membuat Rama tersenyum di sela-sela kegiatan mereka.


Hingga saat pasokan oksigen di dalam tubuh mereka habis, barulah keduanya memutus ciuman itu. Nafas Kalisa memburu, darahnya seolah mengalir dengan hangat dan cepat, dan itu semua gara-gara lelaki yang ada di hadapannya.


Benar, Rama selalu membuatnya melayang jauh ke angkasa.


"Kita lakukan konsultasi dulu yah, baru lanjut di rumah," ucap Rama dengan menahan senyum, melihat wajah Kalisa yang sudah bergairah, membuat dia semakin sumringah.

__ADS_1


Dan Kalisa hanya mampu mengangguk dengan wajah yang merona, menuruti permintaan suaminya.


__ADS_2