
POV Rama
Aku menusuk-nusuk pipi Kalisa saat kami selesai mandi, wajahku mungkin terlihat sangat sumringah sekarang, berbeda dengan Kalisa, itu terbukti dari bibirnya yang mengerucut, habis ku kerjai.
"Sayang, sudah dong. Jangan cemberut terus." Bujukku seraya melingkarkan kedua tangan di atas perutnya. Aku masih betah bertelanjang dada, belum mau bergegas memakai pakaianku.
Kalisa melirikku sebal, lalu menabok tanganku dengan pelan.
Aku terkekeh, dan Kalisa semakin membuatku gemas, dia menghentak-hentak lantai dengan wajahnya terlihat kesal.
"Mas, jangan tertawa." Rengek Kalisa manja. Wajahnya memerah, mungkin terlalu malu untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Ini pengalaman pertama kita, Sayang." Bisikku, yang langsung membuat Kalisa mencubitku bertubi-tubi.
"Aduh, aduh. Ampun Sayang. Habisnya kamu mancing-mancing Mas sih. Tahu-tahunya, sedang mimisan." Keluhku yang membuat Kalisa berhenti mencubit, dan berganti mengusap-usap.
"Aku kan tidak tahu." Ucap Kalisa menunduk, merasa bersalah. Aku melepaskan pelukanku lalu berganti berdiri di depan Kalisa.
Aku mengulum senyum, lalu meraih tangannya, tangan yang berhasil membawaku melayang dua kali di kamar mandi.
Aku mengecupinya, membuat Kalisa kembali mendongak, dia melirik dengan tatapan menyelidik, sedangkan aku senyum-senyum penuh arti. "Tidak apa-apa, yang pentingkan Humairahku ini sudah mau bantu."
Dan Kalisa langsung menarik tangannya, lalu plak!
__ADS_1
Suka sekali dia menggeplak lenganku.
*********
Setelah selesai menunaikan shalat Zuhur. Aku mengajak Kalisa untuk turun ke bawah berbarengan. Ku lihat, dia sudah memakai baju rumahan. Lengkap dengan hijab instan yang membungkus kepalanya.
Aku tersenyum, Kalisa memang selalu nampak mempesona meski terkesan sederhana.
"Cantiknya istri, Mas." Pujiku dengan mengusap kepalanya, lalu menelusupkan anak rambut yang tak sengaja ku lihat.
Kalisa tak membalas apapun, selain memeluk erat lenganku.
Aku mengecup pipi, dan bibir itu sekilas ketika kami di ambang pintu, lalu menapaki tangga dengan saling menautkan jari jemari kami dan saling melempar senyum.
Hingga rasanya aku benar-benar tidak mau berbagi dengan siapapun, ingin senyum itu hanya ditunjukkan di depanku.
Kalisa hanya milikku.
Ketika kami berdua sudah mendekati pintu dapur, aku melepas tautan jari-jari kami, berganti aku yang memeluk bahu Kalisa.
Ku lihat sudah ada Reyhan dan juga May di meja makan, menyantap makan siang dengan lahapnya, ditemani Mbak Darmi yang menyiapkan ini dan itu.
"Wah, anak Papa sudah pada makan duluan ternyata." Ucapku seraya menarik kursi untuk Kalisa. Aku mendudukkan wanita itu, lalu baru aku yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Iya Pha, makhanana enhak." Ucap si kecil May dengan mulutnya yang penuh dengan makanan, membuat aku, Mbak Darmi dan Kalisa terkekeh secara bersamaan.
Sedangkan Reyhan yang duduk disampingnya hanya geleng-geleng kepala.
"May, makanannya ditelan dulu, Nak. Nanti baru ngomong." Tegur Kalisa dengan lembut, lengkap dengan senyum tipisnya.
Dan gadis kecil itu hanya mengangguk-anggukan kepala, dengan cengiran yang menunjukkan gigi-gigi susunya.
"Maaf ya, Pak. Saya yang menyarankan anak-anak makan duluan. Takut, ibu sama Bapak masih lama." Ucap Mbak Darmi seakan tahu, apa yang baru saja kami lakukan.
Ku lihat Kalisa merasa tak enakan. Ia sedikit menghirup nafas, lalu mengarahkan tatapannya ke arah mbak Darmi.
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya malah seneng, anak-anak udah pada makan. Saya asyik tidur tadi. Maaf ya, harusnya itu tugas saya sebagai ibu." Balas Kalisa, melihat Reyhan dan May secara bergantian, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini kan termasuk tugas saya juga, nanti saya yang bantu ibu, buat urus mereka." Timpal mbak Darmi lagi.
Ya, dia memang seseorang yang akan aku tugaskan untuk membantu Kalisa, mengantar dan menemani wanitaku kemanapun dia pergi, sebut saja asisten pribadi, begitulah ya kira-kira.
Sedangkan Bi Asmi sendiri yang akan mengurus rumah, dan memasak makanan untuk kami semua.
Dan akhirnya, obrolan itu terputus, karena aku yang menjelaskan tugas Mbak Darmi pada Kalisa, wanita itu hanya manggut-manggut, lalu aku mengajaknya untuk makan bersama, sepiring berdua.
Hihi, mumpung Reyhan dan May sudah selesai, dan kembali ke kamar untuk tidur siang. Ini saatnya, aku mengajak Kalisa romantis-romantisan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...