Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Aku mencintaimu


__ADS_3

Tengah malam, pasangan sejoli yang baru saja resmi menikah itu belum juga terpejam. Seperti sebuah dahaga Rama ingin terus meneguk Kalisa sebanyak-banyaknya.


Hingga entah di permainan ke berapa, keduanya akhirnya tumbang secara bersamaan. Saling melempar senyuman, lalu tangan Kalisa melingkar di perut Rama.


Rama menyelipkan anak rambut Kalisa yang menjuntai tak beraturan, mengusap pipi yang merona itu dengan sayang.


Lalu kembali mengecup bibir Kalisa sekilas.


"Aku mencintaimu Kalisa." Bisik Rama dengan merdu, seolah lagu cinta sedang ia nyanyikan untuk sang wanita pujaan, Kalisa.


Kalisa semakin melebarkan senyumnya, ia mencubit hidung Rama gemas sambil berkata, "Tapi aku belum mencintai mu." Ia menjulurkan lidah meledek suaminya.


"Mana mungkin. Kalau kamu belum mencintai ku, kamu pasti tidak akan menangis, begitu tahu aku tidak menghubungi mu sama sekali." Ucap Rama sedikit meledek.


Kalisa cemberut, ia memukuli dada Rama bertubi-tubi menggunakan tangannya.


"Menyebalkan!!!" Rengeknya.


Dan Rama hanya terkekeh.


"Kenapa kamu melakukan ini, kamu mau mengerjaiku ya mas?" Tanya Kalisa, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.


Rama memegang dagu wanita itu, lalu mengangkatnya agar mata mereka bertemu.


Saat ini bola mata Kalisa berputar-putar, menghindar dari tatapan Rama.


"Lihat aku." Titah Rama, seketika Kalisa menghentikan acara putar-putar bola matanya.


Perlahan ia memberanikan diri menatap netra pekat milik suaminya. Hanya dengan jarak seperkian centi, ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Rama yang menerpa wajahnya.

__ADS_1


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Sekaligus membuktikan bahwa kamu memang benar-benar sudah mencintai ku. Dan harapanku sesuai. Kalisaku ternyata memang sudah mencintai ku, wanita cantik ini menangis sedih begitu tahu aku tidak datang, wanita cantik ini kecewa begitu tahu aku tidak jadi berjuang. Rasanya hatiku sangat bahagia Kalisa, begitu tahu kebenarannya. Terimakasih yah sudah menerima cinta dari seorang Rama." Terang Rama.


Setelah menyudahi kalimat singkatnya, ia kembali mengikis jarak, menggapai kembali bibir Kalisa untuk di pagutnya.


Rakus, satu kata itu boleh kalian lontarkan untuk kedua sejoli ini. Keduanya sama-sama tak ingin menyudahi, hingga akhirnya Rama dan Kalisa kehabisan oksigen.


Barulah mereka terlepas, dan kembali menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Titah Kalisa, ia ingin mendengar sendiri cerita tentang Rama yang tiba-tiba bersekongkol dengan ayahnya untuk mengerjainya.


Keterlaluan, tetapi tak di pungkiri memang ia sangat bahagia, begitu tahu Rama lah yang menjadi suaminya.


Seorang pria yang beberapa bulan terakhir ini, mengisi kekosongan hati.


"Eummm... Cerita tidak yah..."


"Cerita dong mas, nanti aku kasih hadiah." Kalisa memberi penawaran. Berharap Rama akan tertarik.


"Jadi, hari itu umi dan abi menghubungi ku, memberi tahu kalau aku akan di jodohkan dengan anak sahabat mereka. Sahabat yang tinggal jauh dari perkampungan kami. Awalnya aku menolak—"


"Kenapa di tolak?" Potong Kalisa.


"Dengarkan dulu sayang... Awalnya aku memang menolak, bahkan tak mau sama sekali mendengarkan umi dan abi. Alasannya hanya satu, yaitu kamu. Tetapi begitu Abi mengirimkan foto wanita yang akan di jodohkan denganku..."


"Ahhh... Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin, menyuarakan bahwa aku bahagia. Ternyata wanita itu adalah kamu, Kalisa. Wanita yang ku janjikan untuk ku perjuangkan."


Kalisa tersenyum melihat mimik wajah Rama, selalu lucu jika sedang bercerita.


"Jadi dengan alasan itu, kamu jadi berniat untuk bersekongkol dengan ayah? Dan hari itu kamu sebenarnya sudah tahu?" Tanya Kalisa, dengan cepat Rama mengangguk.

__ADS_1


Senyum yang sedari tadi tersungging sama sekali tak tertanggal.


"Aku meminta nomor telpon ayahmu pada Abi, lalu mulai merencanakan sesuatu untukmu. Sebagai kejutan, dan aku benar-benar berhasil membuatmu terkejut bukan?"


"Iya, kamu membuatku putus asa, saat itu aku benar-benar pasrah dan mencoba lillahi ta'ala. Aku percaya, bahwa Allah akan mengirimkan bahagia, meski bukan dengan kamu—"


"Tapi ternyata memang aku bahagiamu." Timpal Rama sebelum Kalisa melanjutkan kalimatnya.


Kalisa mencebik, tetapi akhirnya ia tersenyum juga.


"Aku mencintaimu mas Rama." Lirih Kalisa hampir tak terdengar, ia langsung melesakkan wajahnya di dada bidang Rama. Malu.


Rama terkekeh melihat tingkah manja istrinya, wanita yang selalu malu-malu, namun terlihat manis di matanya.


"Aku lebih mencintai mu Kalisa..."


"Jadi apa boleh aku meminta hadiah ku?" Tanya Rama, Kalisa langsung mendongak, ia mencuri kecupan di bibir Rama, lalu kembali menenggelamkan wajahnya.


"Sudah..." Ucap Kalisa.


Rama merasai bibirnya yang baru saja di kecup oleh Kalisa.


"Hadiahnya lumayan, tapi..."


Rama langsung kembali mengambil posisi, dirinya sudah ada di atas tubuh Kalisa lagi. Menumpu tubuhnya dengan dua tangan kekarnya.


"Aku mau lebih dari ini..."


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2