Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Pertemuan


__ADS_3

POV Rama


Aku keluar dari apartemen yang ku sewa, melangkah ke arah baseman untuk mengambil mobilku. Ku tekan tombol yang ada di kunci, hingga si merah berbunyi titttt, mempermudah aku mengetahui dimana aku memarkirkan kendaraan ku itu, lalu dengan semangat aku langsung masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas, dan ku arahkan kijang besi ku ini menuju pintu keluar, hari ini aku berniat pergi ke perusahaan yang baru ku bangun disekitar daerah dekat rumah Kalisa, entah dengan alasan apa aku ingin membangun nya disini, padahal masih banyak rekomendasi tempat yang lebih baik.


Beberapa bulan sudah berdiri, namun aku baru menginjakan kakiku satu kali saat peresmian, karena aku masih sibuk di area Jakarta, dan perusahaan yang disini ku percayakan pada sahabat ku. Aku hanya sesekali meminta bertemu dengan sahabat ku itu untuk meminta laporan, dengan membawa berkas yang harus aku tanda tangani. Jadi hari ini ku putuskan untuk kesana, ingin menyapa kembali semua karyawan ku.


Aku membeli sarapan terlebih dahulu di warung nasi uduk pinggir jalan. Aku tidak pernah menuruti gengsi, dengan alasan lokasi pedagang yang katanya kurang higienis lah, inilah, itulah. Umi dan Abi tidak pernah mengajarkan itu padaku, jadilah begini aku, dengan apa adanya meskipun sudah menjadi pimpinan dua buah perusahaan. Alhamdulillah, walaupun perusahaan kecil, tapi aku membangun nya dengan jerih payahku sendiri.


Tin...


Aku mengklakson begitu aku ingin masuk ke gerbang perusahaan ku, ku lihat pak Toto menghampiri ku dengan satu orang yang baru pernah ku lihat, namun wajahnya terasa tak asing. Aku menajamkan penglihatan ku, mataku yang rabun jauh ini tidak salah mengenali, bahwa sosok disamping pak Toto adalah Hendri, mantan suami Kalisa. Dia jadi satpam juga? Itu terbukti dari seragamnya yang sama dengan milik pak Toto, dan tertera lah disana nama Hendri.


"Pagi pak?" Ucap pak Toto sambil mengangguk hormat padaku. Pun dengan Hendri yang mengangguk sekilas, ia menelisik sesuatu yang ada padaku. Apa dia mengenaliku? Karena setahuku Astri pernah bercerita, kalau madu Kalisa pernah mengirimkan foto ku hanya berdua dengan Kalisa saat makan siang kala itu pada Hendri.


Tapi aku tidak ingin menerka-nerka, jika dia tahu, lantas dia juga mau apa? Apa dia akan memukuliku? Rasanya dia tidak memiliki keberanian itu.


Aku memecah lamunanku sendiri, kembali menatap pada pak Toto yang masih setia berdiri disamping mobilku.


"Pagi pak, oh iya ini ada nasi uduk, saya tadi beli lebih. Buat pak Toto sama yang lainnya yah." Balasku, seraya menyerahkan satu kantong kresek berisi beberapa bungkus nasi uduk kepada pak Toto, lelaki itu meraihnya dengan antusias. Hingga membuatku tersenyum,merasa senang karena bisa berbagi pada sesama.

__ADS_1


"Makasih banyak pak." Ucap pak Toto, dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu pamit untuk memarkir kan mobilku, dan masuk ke dalam perusahaan.


Masih dengan pikiran yang tak bisa ku jelaskan. Antara pertemuan pertama ku dengan Hendri. Di perusahaan ku sendiri?


******


POV Hendri


Aku merasa tidak asing dengan wajah lelaki yang baru saja masuk ke dalam perusahaan tempatku bekerja, lelaki yang ku taksir usianya sama denganku, memiliki postur tubuh ideal, tampan dan ku yakin dia adalah pemilik perusahaan ini. Karena katanya bosku itu masih sibuk bolak-balik mengurusi kantor pusat yang berada di Jakarta. Ia hanya sesekali kemari untuk meminta laporan pada pak Hilal, manager perusahaan. Dan hari ini, aku baru saja melihat tampang aslinya.


Ku akui dia baik, bahkan ramah sekali. Dia tidak memandang rendah aku dan pak Toto yang hanya menjadi seorang satpam dikantornya ini.


Tapi sebenarnya dia siapa? Wajahnya benar-benar tidak asing, tapi tidak bisa ku ingat sama sekali. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya ? Dimana?


"Buat makan siang Hen, biar nggak keluar duit. Hihi." Ucap pak Toto sambil bercanda. Aku hanya mengangguk dan akhirnya menerima nasi uduk itu. Benar juga katanya, itung-itung hemat, begitulah kehidupan ku yang sekarang. Karena aku selalu menyisihkan uang untuk kehidupan dua anak-anak ku, aku tidak mungkin melepaskan tanggung jawab ku sebagai seorang ayah. Siapa tahu dengan begitu, Kalisa bisa ku ajak rujuk dan aku akan menceraikan Sela saat itu juga.


"Pak, apa dia bos kita yang sesungguhnya?" Tanyaku penasaran, membuat pak Toto menghentikan kunyahannya. Lalu menatapku.


"Oh iya, kamu belum kenal ya Hen. Iya itu namanya pak Rama, bos kita. Aku tahu dia pas peresmian aja. Soalnya abis itu nggak kesini-sini lagi. Kalo minta laporan juga paling pak Hilal yang menemuinya. Inget nggak yang tiga Minggu berturut-turut pak Hilal ngasih kita makan siang gratis, nah itu dari pak Rama. Katanya kalo ketemu di restoran ayam terus. Pokoknya baik deh orangnya." Jawab pak Toto, mulutnya begitu membangga-banggakan bos kami. Tapi, memang tidak bisa aku pungkiri orang bernama Rama itu karisma kesantunan nya sangat kuat.

__ADS_1


"Tapi sayang Hen. Dia duda." Ucap pak Toto lagi. Dan aku sedikit terhenyak. Rama seorang duda? Duda kaya raya begitu julukannya?


"Masa sih pak? Kenapa nggak nikah lagi? Kan dia mapan?" Tanyaku kembali dibuat penasaran dengan penuturan pak Toto. Merasa tak percaya saja, orang setampan Rama, bahkan memiliki banyak uang malah memilih menduda.


"Iya Hen, dari rumor yang saya denger sih dia ditinggal istrinya. Istrinya main gila di belakangnya. Nggak mau hamil lagi katanya, pengen nya hura-hura aja gitu hidupnya, padahal katanya pas kenal nggak begitu." Beber pak Toto, beliau sampai menaruh nasi uduk itu di meja, tak lagi berselera makan sepertinya. Beliau malah lebih senang bercerita tentang bos kami itu.


Aku manggut-manggut, jadi itu alasannya ia menduda. Tapi kenapa tidak mencari lagi? Kan banyak wanita yang pastinya mau menjadi istrinya. Bahkan suka rela menyerahkan dirinya pada Rama.


"Kasian juga ya pak. Saya kalo jadi dia juga udah saya ceraikan dari dulu wanita macam begitu. Nggak sudi saya." Balasku sungguh-sungguh. Merasa benci sendiri pada wanita yang sifatnya seperti itu.


"Terus kenapa dia nggak nikah lagi pak?" Sambung ku, masih merasa penasaran dengan latar belakang hidupnya yang sepertinya sangat kesepian.


"Dia lagi deketin orang sini Hen." Bisik pak Toto, tidak ingin pembicaraan kami terdengar yang lain. Padahal kami hanya berdua di pos satpam ini.


Apa itu alasan dia membangun perusahaan nya disini, karena ia ingin mendapatkan wanita yang ada di kota ini? Wah kalau iya, hebat juga perjuangan nya yah. Aku doakan sajalah, supaya ia segera mendapatkan nya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


Aamiin in doa mas Hendri 🤗🤣


__ADS_2