Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Merah kaya tomat


__ADS_3

POV Rama


Malam ini kami sudah sepakat untuk mengundang Astri ke rumah. Membicarakan tentang masalah toko Kalisa yang akan dia kelola.


Sehabis isya, tepatnya setelah makan malam. Astri memenuhi undangan kami. Dia datang membawa buah tangan, berupa kaos couple untuk kami sekeluarga.


May dan Reyhan yang terlihat sangat senang langsung masuk ke dalam kamar mereka untuk mencoba. Sedangkan aku, Kalisa dan juga Astri, duduk di ruang sofa.


Mobil Kalisa serta rumah ini sudah aku lelang. Dan semua itu diurus oleh Hilal. Karena kami berencana pindah lusa, tepatnya hari Selasa.


"Duh penganten baru, bawaannya nempel mulu kaya perangko." Cibir Astri pada kami, karena aku memang setia duduk di samping Kalisa. Bahkan melingkarkan tanganku di perutnya.


Aku tidak berhenti, meskipun Kalisa terus mencubitku bertubi tubi. Ia malu, tetapi aku lebih suka seperti ini.


"Kitakan mau pamer sama kamu, As. Biar kamu ngiler." Ucapanku yang langsung dibalas mata bulat Astri yang hampir saja keluar.


Tapi aku justru semakin senang, aku menciumi pipi Kalisa di depannya. Hingga sebuah bantal sofa mengarah kepadaku.


Bugh!

__ADS_1


"Kurang ajar banget ini orang, waktu susah mah gue bantuin. Udah seneng ngelunjak." Sentak sengor Astri. Dan aku lagi-lagi hanya bisa terkekeh.


Hingga Kalisa mencubit perutku, barulah aku berhenti, lalu kembali menyandarkan kepala di bahu Kalisa.


"Jadi begini, As." Kalisa memulai obrolan. Biarkan sajalah, biar Kalisa yang menjelaskan. Sedangkan aku menarik telapak tangan itu, menaruhnya di atas pipi.


Kalisa melirik sebentar, dan aku langsung mengulum senyum. "Sambil usap-usap sayang." Ucapku manja, dan dibalas deheman oleh Astri.


Ku lihat pipi Kalisa mulai bersemu merah, mungkin karena tak sanggup meladeni tingkahku, akhirnya dia hanya bisa menurut, mengusap pipiku yang sedikit berbulu.


"Aku sama Mas Rama, ingin kamu mengelola toko. Terserah kamu mau apakan toko itu. Anggap saja milikmu. Nanti, labanya kita bagi dua, nah bagianku kamu sumbangkan saja ke panti asuhan atau panti jompo." Jelas Kalisa dengan gamblang dan tenang. Sesuai dengan karakternya yang lemah lembut.


Sedangkan Astri nampak mengernyitkan dahi, belum mengerti dengan apa yang Kalisa jelaskan. "Maksud lo?"


"APA?" Astri langsung memotong dengan suara yang memekik. Aku sih tidak kaget, hanya Kalisa yang terlihat pias, mendengar suara cempreng itu.


Merasa tak enakan. Karena walau bagaimanapun, Astri memang ikut andil dalam hubungan kami. Kami sudah menikah, eh dia malah ditinggal pergi.


"Maaf, Kal. Gue cuma reflek." Sambungnya, tahu kalau Kalisa jadi serba salah.

__ADS_1


"Itu yang bikin pria tidak mau dekat denganmu, As. Kamu itu terlalu berisik." Cibirku. Agar dia sadar, umurnya sudah tidak lagi muda, dia butuh pendamping hidup untuk menemaninya di masa tua.


Setidaknya rubahlah sedikit demi sedikit sifat buruknya. Dan mulai menyusun rencana.


"Lo yang berisik! Udah berhasil dapetin Kalisa malah mau diajak minggat." Cerca Astri. Dengan bibir yang tertarik sinis.


Aku tahu dia hanya bercanda. Karena meskipun rasanya berat untuk terpisah dengan Kalisa. Astri pasti mengerti, kenapa aku melakukan ini.


Sebenarnya dia memang bisa bersikap dewasa, hanya saja kelakuan bar-barnya yang menutup itu semua.


Hilal saja angkat tangan kalau berurusan dengan Astri.


"Nanti aku kasih tips Mak comblang." Candaku, meraih telapak tangan Kalisa seraya menciuminya berulangkali. Hingga wanita itu kegelian. Tetapi tetap tidak bisa berontak.


"Terus aja terus. Siksa jomblo di depan mata kalian. Lagian gue gak peduli tips, yang penting Kalisa sama anak-anak bahagia. Kalo lo nyakitin mereka sekali aja. Gue potong burung lo, biar nggak bisa terbang kemana-mana." Ancam Astri dengan sorot matanya yang tak main-main.


Dia memang benar-benar menyayangi sahabatnya. Terlebih, aku juga tahu, bahwa nasib ibunya sama dengan Kalisa.


"Enggaklah As. Malah kita sudah berencana menambah anggota keluarga baru, iya kan Sayang?" Aku mengalihkan pandangan menatap Kalisa.

__ADS_1


Wanita itu bergerak salah tingkah. Entah sudah semalu apa dia dihadapan Astri. Dan aku malah semakin bersemangat untuk menggodanya. Mengusak-ngusak hidung di pipi Kalisa.


"Ck, si Rama. Nggak ngerti banget sih sifat istrinya. Lihat! Pipinya udah merah kaya tomat!"


__ADS_2