Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Ke Pemakaman


__ADS_3

Malam harinya Kalisa membiarkan sang suami tidur dengan ayahnya. Karena dia ingin memberikan waktu bagi kedua pria itu untuk saling menguapkan rindu di hati masing-masing.


"Kamu yakin, Sayang, tidak mau tidur denganku?" tanya Rama, meskipun dia menginginkannya, tetapi dia tetap mengutamakan Kalisa.


Wanita hamil itu mengusap rahang suaminya dengan lembut. "Sangat yakin, selama ini kamu sudah tidur berdua denganku. Jadi aku tidak mungkin menghalangimu untuk tidur semalam dengan ayah."


Bibir Rama langsung melengkung dengan sempurna, inilah yang ia suka dari Kalisa. Wanita itu selalu pengertian dan terkadang bisa bersikap lebih dewasa.


Cup!


Kecupan singkat Rama berikan di kening sempit Kalisa. "Terima kasih sudah mau memberikan waktu untukku dan ayah."


Sebelum keluar dari kamar yang dihuni oleh istri dan anak-anaknya, Rama menyempatkan diri untuk mengelus perut Kalisa. "Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Maaf Papah tidak bisa menemani kalian malam ini."


Mendengar itu, Kalisa langsung mengulum senyum. Membuat Rama tak tahan untuk tidak melumaat bibir Kalisa yang begitu candu.


Setelah puas berciuman, Rama baru keluar dan menyambangi kamar Akbar. Di sana ternyata Akbar sudah berbaring, dan dengan gerakan perlahan Rama ikut naik ke atas ranjang, tidur di samping ayahnya.


Merasakan sebuah pergerakan di sampingnya, Akbar akhirnya kembali terjaga. Dia menoleh ke arah Rama dengan raut wajah yang nampak terperangah.

__ADS_1


"Kenapa kamu di sini, Nak?" tanya Akbar, kini dia tahu bahwa sosok yang bersamanya adalah Rama. Karena dia sudah mampu membedakan kedua putranya.


"Malam ini aku akan tidur dengan ayah. Untuk pertama kalinya aku akan memeluk orang yang sudah membuatku ada di dunia ini," balas Rama sambil merentangkan tangan untuk memeluk tubuh Akbar.


Rasanya Akbar ingin kembali menangis, tetapi sesegera mungkin dia membalas perlakuan Rama.


"Maafkan ayah ya, Nak."


"Tidak perlu minta maaf terus, Ayah. Sekarang lebih baik kita istirahat."


Rama tak ingin membuat Akbar terus-menerus merasa sedih. Sehingga akhirnya pria paruh baya itu pun patuh pada ucapan anaknya.


Malam itu mereka tidur di ranjang yang sama, berbagi rindu yang sudah menggunung dan melebur menjadi satu.


***


Satu keluarga itu sarapan terlebih dahulu, dan setelah itu mereka sepakat untuk pergi ke tempat pemakaman ibu Akbar, yaitu nenek Rama dan Kama.


Cuaca cukup cerah, hingga membuat tubuh mereka basah oleh keringat meski sudah memakai payung.

__ADS_1


Akbar menatap gundukan tanah itu dengan wajah sayu, andai saja sang ibu tidak melakukan hal keji itu, mungkin Rama dan istrinya akan tetap bersama dia sampai detik ini.


Namun, lagi-lagi dia disadarkan oleh tamparan takdir. Sehingga dia tak bisa lagi menyalahkan ibunya yang sudah terkubur di dalam tanah.


"Aku datang membawa Rama, Bu. Dia cucu ibu yang begitu kuat, hingga dia bertahan sampai Kama menjemputnya," ucap Akbar dengan bibir bergetar.


Sementara yang lain menaburkan bunga yang sebelumnya mereka beli di pinggir jalan.


"Hatinya benar-benar mirip seperti Laila. Karena dia tak sedikitpun menaruh dendam pada kami. Aku sangat bersyukur bisa menemukannya, Bu. Tenanglah di sana, karena aku akan selalu meminta pengampunannya untukmu," sambung Akbar, yang akhirnya dia tergugu.


Rama langsung menundukkan tubuhnya ke arah kursi roda Akbar, tanpa ba bi bu dia memeluk sang ayah.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Ayah. Baik aku, nenek dan kalian semua itu sama. Kita manusia yang tak luput dari dosa, jadi aku tidak mungkin memendam kebencian terhadap keluargaku sendiri. Karena dengan kejadian ini kita bisa mengambil beberapa hikmah. Aku yakin, Ibu juga sudah memaafkan nenek, mereka sudah tenang di sana," balas Rama dengan tutur katanya yang selalu mampu menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya.


Bahkan Kalisa semakin dibuat takjub. Dia benar-benar merasa beruntung, karena berdiri di sisi seorang laki-laki yang begitu mulia hatinya. Bahkan menerima dia apa adanya, yang memiliki status janda.


"Lebih baik kita doakan Nenek dan Ibu saja," timpal Kama, dan semua orang setuju.


Mereka semua duduk di depan gundukan tanah kering itu, lalu memanjatkan doa yang dipimpin langsung oleh Rama.

__ADS_1


***


Biar gak dikira gantung ya gaes, maaf lama jaraknya, baru santuy🙈🙈


__ADS_2