
Acara sudah selesai tepat di jam 4 sore. Kedua pengantin itu sudah berganti pakaian masing-masing, karena Rama pun sudah membawa baju gantinya dalam satu koper kecil.
Dan begitu acara selesai, Astri, Sela dan juga Hendri langsung izin kembali ke rumah mereka. Kalisa dan Rama sempat menahannya, namun ketiga orang itu menolak.
Terlebih ayah Kalisa juga melarang mereka untuk menginap, lelaki paruh baya itu masih saja kesal dengan lelaki bernama Hendri. Bahkan rasanya selalu ingin emosi.
Akhirnya, kedua pengantin baru itu merelakan kepergian ketiga orang tersebut. Sekaligus berterimakasih telah menyempatkan hadir di pesta pernikahan keduanya.
Seusai makan malam Kalisa mengantar kedua anaknya terlebih dahulu untuk istirahat, karena dirinya pun ingin segera merilekskan tubuh nya. Terlebih hatinya.
Ia harus menginterogasi Rama malam ini juga. Bisa-bisa nya lelaki itu membohongi dirinya, kalau ternyata lelaki yang di jodohkan ayah nya itu adalah Rama.
Kalau tahu begitu, itu tidak perlu bersedih ataupun menangis. Malah sangat bersyukur.
Mas Rama menyebalkan! gerutu Kalisa dalam hatinya.
Ingin rasanya ia memaki, bahkan memukuli tubuh lelaki itu.
Tapi tiba-tiba tubuhnya membatu, lidahnya kelu saat dirinya dan Rama hanya berdua di dalam kamar mereka.
Rama langsung mengunci pintu, sedangkan Kalisa mematung sambil memandangi suaminya yang kini sudah berjalan ke arahnya.
Kalisa berubah jadi gugup begitu Rama sudah berada tepat didepannya. Reflek ia memegangi dadanya, seperti ada sesuatu yang ingin loncat keluar dari sarangnya.
Rama tersenyum, merasa lucu dengan ekspresi wajah Kalisa, kalau boleh jujur, ia sangat menikmatinya.
Sejenak keduanya seperti melakukan hening cipta. Hingga akhirnya Rama yang memutusnya.
"Kal... Bolehkah?" Tanya Rama dengan lembut, hingga suaranya mampu membuat bulu-bulu halus Kalisa meremang.
Terlebih pertanyaan nya. Kalisa berusaha menelan ludahnya susah payah.
Benarkah dirinya dan Rama akan melakukan nya malam ini juga? Hanya dengan memikirkannya ternyata mampu membuat pipi Kalisa merona.
Rama semakin dibuat gemas melihat reaksi wajah Kalisa.
Kalisa menunduk malu, "Kalau mau melakukan itu, bukankah kita harus sholat dulu?"
Wanita itu memandangi kakinya sendiri, sambil menilin-nilin bajunya. Semakin gugup.
Rama menahan tawanya agar tidak pecah. Melihat Kalisa yang seperti itu, menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Terbesit lah untuk menggoda.
"Aku hanya izin untuk melihat rambutmu Kal, bolehkah aku yang membantu membuka hijabmu? Memangnya seperti itu perlu melakukan sholat dulu?" Tanya Rama, ia semakin mengikis jarak yang terbentang diantara keduanya.
Kalisa reflek mundur, hingga tubuhnya membentur kursi di meja rias.
Semburat merah semakin bermunculan dimana-mana, ingin rasanya Kalisa tenggelam ke dasar bumi saja. Pikirannya seperti nya sudah terlampau jauh, atau memang Rama sengaja melakukan itu.
Sengaja ingin Kalisa berpikir yang tidak-tidak.
Dan itu sukses membuat Rama terkekeh. Sedikit demi sedikit Kalisa mendongak, mendengar Rama yang tak berhenti terkekeh, malah terdengar semakin keras. Sampai-sampai lelaki itu memegangi perutnya.
__ADS_1
Benarkan Rama mengerjainya?
"Kamu sedang menggodaku?" Tanya Kalisa, lalu mencebik. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Aku hanya tanya itu saja Kalisa, kamu malah sudah berpikir jauh." Jawab Rama jujur sambil mengetuk hidung Kalisa, ia memang hanya ingin membantu Kalisa membuka hijabnya, tetapi wanita itu malah memberinya kesempatan untuk menggoda. Beginilah jadinya.
"Tapi ucapanmu ambigu." Kalisa kesal, ia semakin cemberut karena Rama malah tidak mau mengaku salah.
"Ucapan ku yang ambigu, atau....." Rama menggantung kan kalimatnya, ia melihat Kalisa sambil menahan senyumnya, membuat Kalisa semakin ingin menyembunyikan wajahnya.
"Mas Rama...." Ucap Kalisa menunjukkan sisi manjanya, ia bahkan tanpa sadar memukuli dada Rama. Kesal begitulah cerita nya.
Rama sengaja tak menghindar ataupun melawan. Tetapi hanya dengan kalimat yang Rama ucapkan, mampu membuat Kalisa menghentikan sendiri aksinya.
"Apa istri cantikku ini mau membunuh suaminya sendiri? Di malam pertama lagi." Kalisa langsung berhenti, ia tak sengaja menatap netra milik Rama.
Lelaki itu mengedipkan matanya semakin menggoda.
Sebelum Kalisa kembali memukul, Rama lebih dulu memeluk tubuh istrinya. Wanita yang sangat ia cinta.
Awalnya Kalisa tersentak kaget, namun lama-kelamaan ia menikmati pelukan dari Rama, bahkan membalasnya tak kalah erat.
Kalisa menyinggung kan senyumnya dibalik dada Rama.
"Jangan marah-marah terus sayang... Bukankah kamu senang aku sudah berjuang?" Ucap Rama, membuat Kalisa jadi ingat kembali tentang pembicaraan nya dengan Rama hari itu.
"Jadi ini yang kamu sebut berjuang?" Tanya Kalisa seraya mendongak, menatap lekat Rama yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
Rama mengangguk.
Mengingat itu, ditambah mimik wajah Rama yang terlihat lucu, Kalisa jadi terkikik pelan.
"Istriku kenapa tertawa?" Tanya Rama.
Kalisa tak memperdulikan pertanyaan Rama, ia malah terus tertawa membayangkan wajah tegang Rama saat menjabat tangan ayahnya.
Rama yang kesal akhirnya membungkam mulut istrinya dengan sebuah ciuman.
Kalisa seperti tersengat listrik. Tubuhnya langsung menegang saat mendapat serangan ciuman dadakan.
Lama, semakin lama Kalisa terbuai dengan ciuman lembut yang Rama berikan. Hingga sedikit demi sedikit ia membalas ciuman itu.
Namun Rama masih diambang batas sadar, ia mengajak Kalisa untuk melaksanakan sholat Sunnah terlebih dahulu.
Begitu selesai ia berbalik dan menghadap kan Kalisa ke arahnya, ia berdoa, meminta kebaikan pada Allah untuk pernikahannya yang kedua ini.
Lalu meniup ubun-ubun istri tercintanya. Selesai dengan itu, Rama mencium kening Kalisa dalam, mengalirkan cintanya yang begitu tulus.
Keduanya saling melempar senyuman, bukti kebahagiaan yang tak dapat mereka jabarkan.
Rama membantu Kalisa membuka mukenanya. Setelah selesai perlahan ia bisa melihat kecantikan dzohir istrinya.
Rambut panjang yang sedikit bergelombang itu ia usap pelan hingga ujungnya, aroma wangi shampoo seketika menguar, memanjakan indera penciumannya.
__ADS_1
Pipi Kalisa tidak bisa untuk tidak merona, perlakuan Rama yang begitu memanjakan nya membuat ia semakin terbuai.
Rama mengikis jarak, menjangkau bibir yang tadi sudah ia cicipi. Semakin lama, dirinya merasa tak puas, ingin juga menjangkau yang lainnya.
Tapi sebelum itu, Rama lebih dulu membopong tubuh Kalisa untuk berbaring di atas ranjang.
Kalisa merasa geli begitu Rama menjilati lehernya yang sudah terekspos bebas.
"Mas geli..." ucap Kalisa menggeliat-geliat seperti cacing yang tersiram air asin.
Rama tersenyum, ia semakin gencar untuk mencumbui istrinya. Dengan Kalisa yang merespon seperti itu malah membuat gairah Rama bertambah.
Alhasil lelaki itu dengan cepat mengungkungnya.
Menatap lekat netra jernih itu, dan menguncinya dalam. Tak hanya Rama, Kalisa juga melakukan hal yang sama. Ia sudah ikhlas menyerahkan segalanya untuk suaminya, Rama.
Lalu entah di detik berapa keduanya berhasil menyatu, dalam peraduan cinta yang seirama.
Doa terus mereka rapalkan di tiap desah nikmat yang mereka terima, tak lupa juga rasa syukur karena telah di satukan menjadi pasangan di dunia. Dan semoga bisa di persatukan kembali di akhirat-Nya. Dengan tujuan, yaitu berusaha bersama-sama meraih surga.
Akhirnya, segala kesakitan itu telah berakhir. Terganti oleh rasa bahagia yang tiada tara.
Keduanya percaya bahwa semua telah di atur oleh sang pembuat takdir, mereka di uji seperti ini, semata-mata karena di dalamnya mengandung banyak hikmah.
Allahku... Terimakasih, telah memberi ku penawar atas segala rasa sakit yang telah aku derita. Terimakasih telah mengirimkan dia sebagai imamku.
Imam yang akan setia mendekapku ketika aku dalam keadaan takut.
Imam yang dengan sabar mengajariku, bagaimana menjadi sosok ibu sekaligus istri yang lebih Sholehah.
Yang akan dengan mudah mengulurkan tangannya, saat aku tak tentu arah.
Ikhsan Rama, cinta terakhir dan cinta terbaik untuk Kalisa ♥️
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
End yah?
Curhat :
Dd othor abis jadi tukang sate dadakan 🤤
Btw, Minnal Aidin wal Faizin buat kalian yang merayakan hari raya idul Adha 🙏✨✨✨
Tolong maafkan segala kesalahan dd, baik yang nggaa di sengaja, dan tidak disengaja. Pokoknya aku tuh nggak sengaja aja yah bikin salahnya😂😂😂 khilaf begitu bahasa cancikk nya🙃
__ADS_1
Kebanyakan sate, jadi agak eror🤣 yang lain dah pada nyate belon?