
Pov Sela
Mas Hendri membantuku untuk berjalan karena kini kakiku benar-benar belum bisa aku gunakan. Aku baru saja diperiksakan ke klinik terdekat oleh Mas Hendri.
Dokter sudah memberikan obat dan juga salep yang berfungsi sebagai pereda nyeri, sekaligus agar luka itu cepat mengering.
Lagi-lagi gara-gara Kalisa. Wanita sialan dan pembawa sial. Umpatku.
Begitu sampai rumah Kalisa langsung menyambut kami. Ia bahkan membukakan pintu, licik sekali. Terlihat baik hanya didepan Mas Hendri.
Kami bertiga duduk disofa. Kalisa terus saja menempel pada Mas Hendri membuat lelaki itu kini berada ditengah-tengah kami.
"Mas gimana keadaan Sela, apa dia baik-baik saja? " tanya Kalisa, aku kan yang sakit kenapa dia bertanya kepada suaminya, kenapa tidak padaku saja, aku yakin dia itu cari perhatian dan hanya pura-pura.
Wajahnya dibuat sekhawatir mungkin, tapi aku merasakan kini dia sedang meledekku. Menyumpahiku agar lukaku lebih parah dari ini.
Cih!
"Alhamdulillah nggak papa Kal. Kal tolong nanti jaga Sela yah, Mas benar-benar ada pekerjaan hari ini." pinta Mas Hendri dan itu membuatku menggeleng. Aku tidak setuju. Kalisa mana mungkin akan menjagaku, yang ada dia puas mengerjaiku.
"Mas? " rengekku, aku tidak mau ditinggal, terlebih dengan wanita kurang ajar bernama Kalisa.
"Sel, tolonglah. Aku banyak pekerjaan, Bima sudah menghubungiku dari tadi dan kamu tahu itu." balas Mas Hendri. Dia sedikit meninggikan pita suaranya, kesal begitulah kira-kira.
Ku lihat Kalisa memasang wajah datar. Sama sekali tidak keberatan. Tapi jangan-jangan dia sudah menyiapkan sebuah rencana untukku. Ahh aku tidak mau lagi celaka olehnya. Cukup semalam dan tadi pagi saja.
"Kal, " panggilnya lagi.
"Iya Mas, aku bakal jagain Sela. Aku juga bakal ingetin dia minum obatnya. Kamu tenang aja yah." ujar Kalisa semanis mungkin. Dasar munafik. Ingin sekali aku berteriak seperti itu.
"Oiya Mas, aku tadi udah sarapan duluan sama anak-anak. Karena aku nggak masak aku jadi beli nasi bungkus deh didepan." Ah informasi yang sangat tidak penting.
"Iya nggak papa Kal. Tapi kamu beli buat kami berdua juga kan? " tanya Mas Hendri melirikku sebentar.
Kalisa melipat bibirnya kedalam "Yah maaf Mas, aku kira kalian sarapan diluar. Jadi aku nggak beli buat kalian. Aku cuma beli buat aku, May dan juga Reyhan." tuturnya.
Hih, wanita ini pasti sengaja. Bukannya lupa atau bagaimana.
__ADS_1
Pov Kalisa
"Yaudah nanti Mas sarapannya dijalan aja ya, ini udah siang. Biar sarapan Sela aku yang belikan." ucapku dengan yakin, sambil bergelayut manja ditangannya.
Mas Hendri mengusap kepalaku dan tersenyum, uh dia luluh. Sedangkan Sela lagi-lagi berdecih tidak terima. Pemandangan yang menyejukan mata.
"Mas? " panggil Sela.
"Apalagi sih Sel? Kalisa sudah baik padamu, lalu apalagi? " sedikit membentak karena Sela lagi-lagi merengek kepadanya. Aku yakin Mas Hendri sudah mempercayaiku, jadi dia tak keberatan sama sekali jika Sela ditinggal sendiri dirumah bersama seorang Kalisa.
Setelah Mas Hendri mengantarkan Sela ke dalam kamarnya ia langsung pamit untuk berangkat bekerja. Aku membantu ia membawa tas kerjanya.
"Mas hati-hati yah." ucapku sambil menggandeng tangannya hingga ke teras depan. Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Pasti Kal, kamu pun baik-baik yah dirumah. Jaga Sela." balasnya.
Heuh! Menjaganya? Sudi juga tidak.
Tapi aku iyakan saja. Aku menyalimi tangan Mas Hendri sebelum lelaki itu benar-benar pergi.
Setelahnya aku kembali masuk ke dalam rumah dengan riang gembira, sebelum melangkah ke arah kamar. Aku terlebih dahulu melakukan sesuatu. Hihi.
****
Pov Sela
Eh ngomong-ngomong sarapanku mana yah? Apa Kalisa sudah membelikannya? Aku bangkit dari pembaringanku dengan perlahan, melihat ke arah nakas tidak ada apa-apa, bahkan segelas air pun tak tersedia disana.
Akhirnya aku berjalan tertatih menuju pintu, berniat untuk keluar mencari air untuk membasahi tenggorokanku.
Ceklek! Ceklek! Aku memutar-mutar kenop pintu dari gerakan pelan, hingga tidak sabaran.
"Kenapa ini? " tanyaku pada diri sendiri.
Ceklek! Ceklek!
"Oh ****! " Aku mengumpat, pintu kamarku dikunci? Aku mencoba membukanya lagi, tapi nihil kamar ini benar-benar dikunci dari luar.
__ADS_1
Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan istri pertama dari suamiku?
Astaga, Kalisa!!!!
Aku menggedor-gedor pintu tersebut berharap ada anak Kalisa yang mendengar, dengan begitu aku bisa keluar.
Setelah 20 menit berlalu, tak ada satupun yang membukakan aku pintu. Tenagaku hampir habis karena mengebrak-gebrak pintu dengan sekuat tenaga. Tenggorokan ku juga terasa kering karena belum teraliri oleh air.
"Kau keterlaluan Kalisa!!!! " pekikku dari dalam kamar. Semuanya terasa sunyi, hanya ada suaraku dirumah ini.
Sepertinya semua orang telah pergi.
Tiba-tiba terbesit sebuah ide. Aku baru ingat, aku punya Mas Hendri, aku harus menghubunginya sekarang juga. Karena lelaki itu pasti bisa menolongku dari perbuatan keji istri pertamanya.
Aku kembali berjalan ke arah ranjang, mencari ponselku kesana-kemari. Semua sudut aku jelajahi. Tapi kemana dia? Kenapa tidak ada?
"Persetan kau Kalisa!!! Ahhh."
Nafasku terengah-engah, semakin berteriak semakin membuat tenggorokanku sakit. Ponselku tidak ditemukan. Tidak ada makanan dan minuman. Aku harus apa Ya Tuhan? Aku sangat lapar.
Aku bergidik ngeri dengan pikiranku sendiri, haruskah aku melakukan ini? Tapi aku sangat haus. Masa bodolah yang penting dahagaku ini hilang. Dan aku tidak akan mati.
Akhirnya dengan terpaksa aku berjalan ke arah kamar mandi. Aku langsung menyalakan keran dan minum air itu tanpa peduli. Ahhhh kenapa nasibku jadi sial begini.
Setelah merasa cukup puas, aku terduduk di closet, menatap seisi ruang kamar mandi, aku menangis tersedu-sedu meratapi diriku.
Namun, ketika aku ingin berteriak tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Sesuatu yang benar-benar sedang aku butuhkan.
"Roti? Itu rotikan? " gumamku, lalu mendekat ke arah roti yang digantung dengan kresek putih.
Aku sama sekali tidak curiga kenapa roti itu di dalam kamar mandi, rasa lapar benar-benar mengalahkan segalanya, dengan segera aku menggapai roti tersebut.
Ah akhirnya ada makanan juga. Aku cepat-cepat membukanya, aku sama sekali tidak meneliti lagi roti itu, dengan rasa tidak sabar aku langsung melahapnya begitu saja. Dan...
"Uwekkkkk.... "
"Roti basi? "
__ADS_1
******
Slow up, jangan lupa baca juga karyaku yang satunya #Cintalelakibiasa sudah part 70 yah 🌷🌷🌷🌷🌷