
POV author
Hari Selasa.
Tepat hari ini, Rama berserta keluarga kecilnya pindah ke ibu kota. Semua barang-barang yang akan dibawa sudah masuk ke dalam mobil.
Tak hanya satu, melainkan dua mobil sekaligus. Satu untuk barang-barang, dan satu lagi untuk mereka berempat.
Mereka semua akan memulai babak baru. Dengan satu kesatuan, keluarga yang utuh.
Terlihat, sebelum pergi, Astri, Maya dan ibu Hendri kompak mendatangi rumah Kalisa. Mereka mengucapkan salam perpisahan, sebagai bentuk kasih sayang mereka terhadap wanita dengan dua anak itu.
Astri menghambur ke pelukan Kalisa, karena tak tahan akhirnya dia menangis, menangis haru, melihat sang sahabat akhirnya sudah kembali bahagia seperti dulu. Bersama Rama, Astri yakin, Kalisa bisa mendapatkan lebih banyak kebahagiaan.
"Janji, Kal. Kamu harus sering-sering main kesini." Rengek Astri diantara tangisnya, dia sudah sesenggukan. Hingga Kalisa dengan setia mengelus punggung Astri secara perlahan.
"Insyaallah, As." Balas Kalisa tak kalah haru, tetapi ia lebih bisa menjaga emosionalnya, Kalisa hanya mengelap pinggiran matanya, lalu menarik Astri dari pelukan.
"Kamu pun harus janji, saat aku kembali, kamu harus sudah punya calon suami." Ucap Kalisa dengan uluman senyum, ia sudah bahagia, dan ia juga ingin melihat Astri bahagia seperti dirinya.
"Aku tidak mau memikirkan itu, Kal." Cebik Astri.
__ADS_1
"Harus, kamu harus memikirkan itu. Atau aku tidak akan datang." Balas Kalisa dibubuhi ancaman, menggoda wanita itu agar secepatnya menikah, dan membina rumah tangga.
Astri berdecak keras, dan Kalisa justru terkekeh melihat itu.
Lantas, wanita itu menghadap ke arah mantan mertua dan mantan adik iparnya. Kalisa mengulum senyum, senyum yang sangat cerah. Baru kali ini, ibu Hendri melihatnya setelah sekian lama.
Sama halnya dengan Astri, ibu Hendri pun tak bisa menahan laju air mata itu. Cairan bening itu langsung mengalir deras, merasa bahagia akhirnya Kalisa bisa kembali merasakan bahagia, meski bukan dengan putranya.
"Ibu." Panggil Kalisa dengan suaranya yang bergetar. Lalu tanpa ba bi bu, Kalisa langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
Wanita yang selalu membimbingnya.
Keduanya sama-sama terisak. Ibu Hendri benar-benar sudah menganggap Kalisa sebagai putrinya.
"Jangan lupakan ibu ya, Kal. Benar kata Astri, kamu harus sering-sering datang. Bawa cucu-cucu ibu ke rumah." Ucap ibu seraya mengusap kepala Kalisa. Berharap, wanita ini masih sudi bertemu dengannya.
Dan wanita itu secepatnya mengangguk, dia menggerakkan tangannya meminta Reyhan dan May mendekat.
"Jika ada waktu, kita pasti main ke rumah ibu. Iya kan anak-anak?" Kalisa menoleh, Reyhan dan May kompak mengangguk dengan senyum mengembang.
"Iya, Nek. Kakak sama Adek nanti main kok ke rumah nenek." Ucap Reyhan meyakinkan, lalu keduanya kompak memeluk kaki sang nenek.
__ADS_1
Hingga Rama pun ikut bergabung. Dia mengusap bahu wanita paruh baya itu dengan lembut, membuat ibu Hendri mendongak.
Rama tersenyum ramah. "Saya yang akan bawa mereka ke hadapan ibu, ibu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Doakan saja kami, agar senantiasa dijadikan orang yang bersyukur. Karena pada saat kita bersyukur, kita akan merasa bahagia. Sebaliknya, kita tidak akan merasa bahagia, saat kita tidak pandai-pandai bersyukur." Jelas Rama, dan langsung disambut pelukan hangat oleh ibu Hendri.
Dalam hati wanita tua itu lekas berandai-andai. Andai Hendri dulu bersikap seperti ini, andai Hendri tak bertindak ceroboh, andai Hendri, andai Hendri, andai Hendri.
Dan masih banyak andai-andai yang lain.
"Terimakasih, Nak Rama. Terimakasih sudah mencintai Kalisa dan anak-anaknya. Tolong jaga mereka yah." Pinta wanita tua itu. Dan langsung dijawab anggukan oleh Rama.
"Pasti, Bu. Apapun akan saya lakukan untuk mereka. Karena mereka sudah menjadi tanggung jawab saya." Rama melirik Kalisa, yang dilirik sudah senyum-senyum, dengan rona merah di pipinya.
Membuat Rama selalu gemas, akhirnya tangan kekar itu menempel pada bahu Kalisa, Rama menarik tubuh itu untuk direngkuhnya.
"Kami pamit ya, Bu." Ucap Rama, melirik ke arah Astri dan juga Maya yang kompak tengah mengulum senyum.
Dan semua kenangan itu tertutup rapat hari ini. Kenangan manis, pahit, haru, sakit semuanya terkubur dalam-dalam.
Terbawa oleh harapan indah di depan sana.
Bismillah...
__ADS_1
Semua indah pada waktunya. Kita mulai kehidupan baru di ibu kota. Kehidupan harmonis, tanpa ada lagi campur tangan orang ketiga.
Hanya ada Rama dan Kalisa.