
Besok siangnya Hendri kembali ke rumah sakit untuk bertemu Kalisa, ia langsung kesana karena berpikir Kalisa belum pulang. Ia merasa bersalah karena kemarin sama sekali tak memandang ke arah istri tuanya itu. Ia hanya berpikir tentang Marsela dan calon anak mereka.
Lelaki itu menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa, tetapi begitu sampai dikamar rawat Kalisa. Wanita yang ia cari sudah tidak ada disana. Dan kamar itu sudah nampak dirapihkan. Kebetulan ada suster yang lewat, ia menghentikan nya dan mencoba bertanya.
"Sus, pasien yang di rawat di kamar ini kemana yah?" tanya Hendri, raut wajah cemas tercetak jelas disana.
"Oh Ibu Kalisa ya pak? Sebelum bapak kesini Ibu Kalisa sudah lebih dulu dijemput oleh satu orang perempuan dan satu laki-laki pak. " terang sang suster dengan jujur.
Air muka Hendri berubah seketika mendengar satu lelaki telah menjemput istrinya. Siapa? Jika supir taksi dia rasa tidak mungkin sampai ikut masuk ke dalam. Mengenai perempuan yang di maksud suster itu, ia yakin perempuan itu adalah Astri. Tangan Hendri sedikit mengepal.
"Pak? " panggil suster melihat Hendri hanya diam saja, namun sorot matanya berapi-api.
"Oh ya sus apa laki-laki itu masih muda? " tanya Hendri lagi.
"Perkiraan saya sih, seumuran bapak. Dan sebelumnya saya minta maaf ya pak saya tidak bisa lama-lama, masih banyak pasien yang harus ditangani." pamit sang suster. Hendri hanya mengangguk lalu suster itu berjalan meninggalkan Hendri dengan segala pemikirannya, pemikiran mengenai siapa lelaki yang telah menjemput Kalisa. Kenapa bisa?
Tanpa menunggu waktu lagi, Hendri segera berlalu dari rumah sakit itu, menancap gas mobilnya supaya cepat sampai dirumahnya. Ia berharap lelaki itu masih disana, karena ia akan menghajar habis lelaki yang berani mendekati istrinya.
****
Hendri memarkir mobilnya dengan asal, namun ketika sampai tidak ada satu pun kendaraan dirumahnya. Apa itu artinya lelaki itu sudah pulang? Ia melangkah dengan kaki lebar, memasuki rumah dan mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang. Namun tampak tak ada siapa-siapa.
Lelaki itu berjalan kembali ke kamar Kalisa, tanpa mengetuk pintu ia langsung menyelonong masuk.
"Ayah? " panggil Reyhan, pria kecil itu sedari tadi menemani bundanya. Begitu pulang ia menyambut wanita yang telah melahirkannya dengan suka cita.
Hendri tersenyum ke arah Reyhan dan Kalisa. Namun senyum itu sama sekali tak terbalas oleh wanita yang dicintainya. Ia mencoba mendekat. Ia tahu ia sudah membuat hati Kalisa kecewa kemarin.
__ADS_1
Ia mendudukan diri disamping Kalisa. Bersamaan dengan itu Astri masuk dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih ditangannya.
Wanita itu sama sekali tak menganggap Hendri ada, karena ia tak menyapanya, bahkan melewatinya begitu saja.
"Kal maafkan aku yah? " tangan wanitanya sudah ia genggam namun segera ditarik kembali.
Astri menaruh bubur dan air putih itu diatas nakas. Lalu memandang ke arah Reyhan, seperti meminta pengertian untuk meninggalkan kedua orang tuanya sebentar.
Wanita cantik itu menggandeng pria kecil untuk keluar kamar. Menyisakan dua orang dewasa yang masih dilanda kekalutan yang sama sekali belum berakhir.
"Untuk apa kau datang? " ucap Kalisa, pandangan matanya lurus ke arah jendela yang ada dikamarnya.
Hendri mendesah pelan "Aku datang untukmu Kal, maafkan aku kemarin aku tak kembali ke rumah sakit lagi, karena Sela sama sekali tak mau ditinggal." balas Hendri, gurat-gurat sendu menyelimuti wajah tampannya.
"Heuh."
"Kalisa bukan seperti itu. Kamu tahu kan Sela sedang hamil? "
"Aku jelas tahu, itukan perbuatan harammu." Kalisa langsung menjawab.
"Sayang, walaupun begitu bayi itu tetap anakku kan. Kamu sendiri yang bilang." masih saja Hendri mencari pembelaan saat dirinya sudah terpojokkan.
Kalisa beralih menatap Hendri dengan tajam, ia tak percaya bisa-bisanya Hendri mengingatkan hal yang seperti itu kepada dirinya. Seakan ia memberi tahu bahwa rasa sakit yang Kalisa terima bukanlah kesalahannya.
"Lalu? Reyhan dan May kau anggap siapa? Apa mereka bukan anakmu lagi? Kau bilang seperti itu seakan kamu tidak memiliki anak dariku? Dia juga butuh waktumu! Tak puaskah wanita ular itu memiliki waktumu yang hampir sebulan penuh? Tak bisakah ia berpikir bahwa kamu pun punya tanggung jawab yang lain yaitu aku dan anak-anakku? Oh tidak aku ralat, yang membutuhkanmu disini hanya anak-anakku. Sedangkan aku tidak! " ucap Kalisa sedikit berapi-api. Ia tak mau Reyhan dan May kehilangan waktu bersama ayahnya hanya karena wanita ular yang katanya sedang mengandung anak suaminya itu.
"Sayang, bukan maksudku seperti itu. Mungkin kemarin Sela ingin menjengukmu. " kalimat yang membuat Kalisa berdecih dalam hati.
__ADS_1
"Heuh! Kau masih membelanya? Jelas-jelas Astri bilang sebelumnya wanita pujaanmu itu datang untuk menjemput mu. Kau mana tahu, yang kau tahu kan hanya kebaikannya. Sedang busuknya masih tersimpan rapih belum ia tunjukkan dihadapanmu."
Hendri diam, ia tak bisa menemukan kata yang pas untuk membalas omongan Kalisa. Namun, seketika ia teringat akan lelaki yang menjemput istrinya itu. Ia melupakan kata-kata Kalisa yang membahas kedatangan Marsela, lalu berniat untuk bertanya tentang siapa sebenarnya lelaki yang bersama Kalisa.
"Siapa lelaki yang menjemputmu? " tanya Hendri, nada bicara nya sedikit dingin.
Kalisa terlebih dahulu membuang pandangannya "Kau tidak perlu tahu, karena itu bukan urusanmu! "
"Aku ini suamimu Kal, aku berhak tahu siapa saja yang dekat denganmu, terlebih itu lelaki."
"Oh yah? Benarkah begitu? Kau masih suamiku? Atau hanya ayah dari anak-anakku?"
"Kalisa jangan membahas yang lain, aku ingin kamu menjelaskan siapa dia, itu sudah cukup! "
"Heuh, kau yang membuatku seperti ini Hendri!Kamu yang membuat aku tidak percaya lagi padamu, kamu yang membuatku lebih memilih pergi dengan orang lain. Karena denganmu hanya luka yang aku dapat. Bukan lagi sebuah kebahagiaan!" nafas Kalisa sedikit terengah ia kembali mengatur emosinya. Ia baru saja pulih. Ia tak mau kembali sakit dan membuat anak-anaknya khawatir.
"Aku sakit pun karena siapa? Sadarkah kamu? Sakitku ini karena dirimu, kamu tak hanya menyiksa batinku, tapi juga jiwaku."
Hendri tercenung memikirkan semuanya. Memang akar kesalahan adalah dirinya. Namun kenapa ia tak bisa merebut kembali hati Kalisa. Kenapa dia begitu bodoh dalam menghadapi sikap Sela yang malah membuat Kalisa tersingkirkan dalam hidupnya.
"Ku mohon, bertindak adil sedikit saja. Karena mengambil waktumu sepenuhnya bukan lagi hal yang mudah." Cetus Kalisa dengan air mata yang kembali mengalir. Ia masih ingat jelas, bagaimana Reyhan menangis, karena akhir-akhir ini, waktunya dengan sang ayah tak lagi ada.
"Jangan buat aku mengemis waktumu untuk anak-anak. Karena yang terpenting bukanlah kebahagiaanku, tapi mereka. Anakmu dan anakku."
...****************...
Kasih semangat buat Kalisa 😍😍😍
__ADS_1