Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Perasaan Gagal


__ADS_3

Hari ini aku berniat untuk tidak berangkat ke toko, biarkan sajalah. Biar Atikah pegawai ku yang mengurusi semuanya, karena kebetulan hari ini juga Ibu Mertuaku dan juga Maya adik Mas Hendri akan datang menemuiku. Aku tau itu karena memang Maya sebelumnya sudah menelpon bahwa mereka berdua akan datang kemari.


Mereka beralasan ingin menjenguk May dan Reyhan. Padahal aku pun juga sudah tau, pasti mereka akan membahas Mas Hendri dan juga aku tentunya.


Aku menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut mereka, menyiapkan berbagai macam camilan, dan masakan untuk makan siang kami bersama. Sedangkan May sedang main dirumah tetangga, tepatnya disebelah. Dan si besar Reyhan masih berada disekolahnya. Aku bersyukur sekali aku diberi kesempatan memiliki anak-anak yang begitu patuh dan penurut sekali seperti mereka berdua. Sungguh idaman bukan memiliki keturunan seperti itu?


Setelah aku selesai menyiapkan semuanya. Suara gerbang rumahku bergerak. Sepertinya ada yang masuk. Dan mungkin itu adalah Ibu dan juga Maya yang sudah sampai. Aku segera membuka pintu sebelum Ibu mertua dan adik iparku mengetuknya.


Ternyata benar ketika aku sudah membuka pintu, tiga pasang bola mata sedang menuju ke arahku. Dan salah satu pemiliknya adalah gadis kecilku yang sudah diapit nenek dan tantenya. Aku tersenyum ke arah Ibu dan juga Maya. Masya Allah, aku turut bahagia melihat mereka yang begitu peduli padaku, sampai mereka yang mengunjungiku kesini.


"Ibu." ucapku seraya tersenyum manis ke arahnya. Aku menyalami tangan yang penuh kekuatan itu dengan takdzim. Ibu membalasku dengan pelukan hangatnya sekilas.


Lalu aku menuntun mereka untuk masuk, dan aku memilih sofa untuk perbincangan kami kali ini. Aku mempersilahkan wanita berbeda generasi didepanku untuk duduk.


"Ibu, sama Maya mau minum apa?" tanyaku dengan lembut.


"Ibu air putih aja Kal." balas Ibu.


"Aku gausah Mba, nanti gampang aku ambil sendiri." Maya menimpali. Aku mengangguk, lalu pamit ke dapur untuk mengambil air putih yang dipinta mertuaku tadi.


"Silahkan Bu." ucapku seraya menyodorkan gelas bening berisi air putih kepadanya.


"Na... May atuk." ucap manja putriku dengan menguap, sepertinya dia sudah tidak tahan ingin segera tidur siang.


"May mau bobo yah? " tanyaku, seraya mengusap rambut ikalnya. Ia hanya mengangguk lalu mengucek matanya yang mulai memerah.


"Yaudah Kal, tidurin May dulu saja, Ibu sama Maya tunggu disini." ujar Ibu kepadaku. Beliau mengusap kepala May dengan sayang.

__ADS_1


"Baiklah Bu, tunggu sebentar yah. Ini gadis kecilnya Nda udah nggak tahan yah." pamitku sambil terkekeh.


Aku menggendong May ke kamarnya. Setelah cuci kaki dan lain sebagainya. Aku langsung menaikan tubuh mungilnya diatas kasur. Aku melantunkan sholawat pembawa tidur kesukaannya. Dan tak butuh waktu lama mata indahnya sudah terpejam. Aku mengecup keningnya terlebih dahulu, lalu bangun dengan hati-hati takut ia terbangun kembali karena gerakanku.


Setelahnya aku langsung melangkah kembali untuk menemui Ibu dan juga Maya. Begitu aku duduk, Ibu langsung bertanya padaku.


"Kamu sehat Kal? " tanyanya sambil menepuk bahuku pelan.


Aku mengangguk lalu tersenyum ke arahnya.


"Muka Mbak Kalisa keliatan agak pucet loh, Mbak sakit? " timpal Maya mengomentari keadaanku.


Aku menggeleng lemah.


"Aku tidak papa Bu, Sya."


Meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Ya fisikku memang baik-baik saja bukan? Yang sakit itu hatiku.


"Benar Bu, Kalisa sehat." balasku.


"Jangan disembunyikan lagi Kalisa, sebenernya ada apa?" tanya Ibu kepadaku. Mata tuanya memandangku dengan iba.


Deg!


Aku menunduk, aku bingung. Haruskah aku bercerita semuanya pada Ibu dan Adik Iparku. Haruskah mereka tau tentang masalahku bersama Mas Hendri?


Memang rasanya juga sakit bila harus memendam ini sendirian.

__ADS_1


Aku meremat jari-jariku, perasaan tidak karuan itu kembali muncul. Akhirnya mengalirlah lagi air mataku. Namun segera ku usap kembali. Aku tidak mau dua wanita ini berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku bisa mengatasi perasaan ini sendiri. Kamu bisa Kalisa.


'Ya Allah, aku kuat. Aku tidak lemah, ku mohon jangan buat aku seperti ini' gumamku dalam hati.


"Kal." panggil Ibu.


Aku mendongak ke arahnya, ku lihat ada gurat kekecewaan juga diwajahnya. Entah sebab apa aku juga tidak tahu.


"Maafkan Ibu ya Kal." ucapnya lemah.


"Maafkan Ibu yang gagal mendidik anak Ibu, maafkan Ibu yang tidak bisa menjadikan dia laki-laki yang baik untukmu Kalisa. Hingga kini kamu dan anak-anakmu yang menjadi korbannya, ini semua salah Ibu Kal." sambung Ibu. Beliau menunduk, sedangkan Maya diam seribu bahasa dan hanya bisa mengusap punggung tua milik Ibunya.


Aku mendongak, menatap ke arah mertuaku, ku lihat mata Ibu juga basah. Dan benarkan perkiraanku, Ibu sudah tau, dan ini pasti dari Mas Hendri ataupun dari para tetanggaku.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, air mataku juga ikut bercucuran, bukan! Bukan karena rasa sakitku, melainkan karena melihat Ibu Mertua ku yang menangis karena telah merasa gagal mendidik putranya.


'Ya Tuhan... ' lirihku.


Aku memantapkan hati.


"Kalisa tidak papa Bu, Kalisa bisa terima ini semua, ini takdir Kalisa. Dan semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan Ibu. Kalisa mohon Ibu percaya lah pada Kalisa, bahwa Kalisa bisa melewati ini semua." ujarku dengan suara bergetar menahan haru, karena begitu pedulinya Ibu Mertuaku kepadaku.


'Lihat Mas, bukan hanya aku saja yang kecewa, kamu lihat! Orang yang telah melahirkan dan membesarkanmu juga merasa telah gagal'


Akhirnya Ibu memelukku, dan ku balas pelukannya, pelukan yang selalu menghangatkan dan terasa nyaman. Pelukan yang selalu mereka butuhkan di setiap keadaan, pelukan seorang yang tersayang. Ibu ❤


*************

__ADS_1


Mbak Kal ❤



__ADS_2