Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Dua Putra Berharga


__ADS_3

Rama tak bisa membendung rasa bahagia di hatinya. Hingga dengan cepat dia keluar dari dalam mobil untuk menemui sang ayah yang duduk di kursi roda.


Dengan air mata yang menderas, Rama bersimpuh di hadapan Akbar. Membuat pria paruh baya itu merasa heran, karena dia menganggap bahwa Rama adalah Kama.


"Kama, ada apa, Nak?" tanya Akbar dengan kening yang berkerut. Sementara Rama terus menangis kencang dengan kepala yang berada di atas paha ayahnya.


"Ayah," lirih Rama dengan sesenggukan. Dan hal tersebut semakin membuat Akbar merasa heran, dia melihat ke arah Afifah—istri Kama. Dan wanita itu hanya bisa tersenyum, karena dia yakin lelaki yang ada di hadapannya adalah saudara kembar suaminya yang sudah hilang puluhan tahun lalu.


Ya, Kama sudah memberitahu dia lebih dulu.


Dan ketika Kama serta keluarga kecil Kalisa keluar dari mobil. Akbar langsung dibuat terperangah, karena putranya ada dua.


"Kamu?" ujar Akbar dengan suara yang tersendat, dia terus memperhatikan Kama yang tengah berjalan ke arahnya, dan semua itu membuat dia semakin yakin bahwa lelaki yang sedang bersimpuh ini adalah putranya juga. "Rama? Kamu Rama?"


Mendengar namanya dipanggil Rama langsung mengangkat kepala, dengan air matanya yang terus jatuh, Rama mengangguk sambil berkata. "Aku putramu, Ayah. Aku putramu."

__ADS_1


Tanpa segan Akbar langsung meminta Rama memeluknya. Pertemuan ini benar-benar mengharu biru, hingga membuat semua orang ikut merasa sedih campur bahagia.


"Anak ayah, kamu anak ayah," kata Akbar dengan bangganya. Mata tuanya yang sudah keriput terus mengeluarkan cairan bening, apalagi saat mengingat mendiang sang istri yang selalu mendapatkan penderitaan saat menikah dengannya.


Lama mereka saling menumpahkan kerinduan, akhirnya Rama menarik diri, karena dia ingin memperkenalkan Kalisa dan kedua anaknya.


"Ayah, ini Kalisa, istriku. Dan dua anak itu adalah cucu ayah. May dan Reyhan," ucap Rama dengan bibir yang senantiasa bergetar.


Kalisa langsung berinisiatif untuk menyalimi tangan mertuanya, begitu pun juga dengan May dan Reyhan.


"Itu sudah menjadi kewajibanku, Ayah. Dan asal Ayah tahu, aku juga sedang hamil lagi, aku hamil anak kembar," balas Kalisa dengan tutur katanya yang senantiasa lemah lembut.


Akbar langsung dibuat takjub. "Masya Allah, benarkah, Nak? Kalau begitu ayo kita masuk, jangan terlalu lama berdiri di sini. Kamu dan anak-anak pasti kelelahan."


Semua orang langsung mengangguk setuju, dengan sigap Rama memegang kursi roda Akbar dan mendorongnya. Mereka masuk dan duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Afifah pergi ke dapur untuk membuatkan minum, sementara Kalisa mulai mengajak anaknya berkenalan dengan kedua anak Afifah.


"Aku sudah memenuhi janjiku 'kan, Yah? Aku sudah membawa Kak Rama pulang," ujar Kama, yang membuat sang ayah menoleh ke arahnya.


Akbar mengangguk cepat. "Iya, Nak. Terima kasih sudah membawa kakakmu pulang ke sini dan bertemu dengan ayah. Ayah akan merasa sangat berdosa andai tak bisa bertemu Rama sebelum ayah meninggalkan dunia ini. Apa yang harus ayah katakan pada ibumu kelak?"


Rama langsung menggenggam tangan Akbar yang terasa cukup dingin. "Jangan bicara yang tidak-tidak, Ayah. Allah begitu menyayangi kita, jadi Allah pasti sudah menyiapkan hari ini. Lagi pula aku tidak akan marah, karena aku tahu ini semua bukan salah ayah."


Akbar langsung tertunduk setelah mendengar kata-kata Rama. Ya, Kama pasti sudah menceritakan perihal ibunya, nenek dari Rama dan Kama yang tega memisahkan mereka semua.


"Maafkan nenekmu ya, Ram. Ayah tidak tahu kalau dia bisa sejahat itu pada ibu kalian," balas Akbar dengan rasa penyesalan yang menggunung.


Namun, Rama yang memiliki hati seluas samudera, persis seperti ibunya. Lagi-lagi membalas itu semua dengan senyuman, bahkan dia memberi kode pada Kama untuk sama-sama memeluk tubuh ayah mereka.


Pecah, tangis Akbar kembali menguap. Dia terus sesenggukan sambil memeluk kedua putranya yang berharga.

__ADS_1


__ADS_2