
POV Rama
Pagi kembali menyapa. Aku segera bergegas bangun, untuk menunaikan shalat Subuh. Ku lirik Kalisa sekilas, namun tetap ku biarkan dia terlelap nyenyak dalam tidurnya, karena dia dalam massa datang bulan.
Tak butuh waktu lama, aku membersihkan diri. Aku keluar dari kamar mandi, dan di ujung sana, aku mendapati istriku sudah duduk dengan memegangi pakaian shalatku.
Dengan rambut panjang tergerai, dia mengulum senyum, serta menatapku teduh. Hatiku kembali berdesir, aku melangkah dengan seutas handuk yang melilit pinggangku.
Ku kira Kalisa tidak akan bangun secepat ini. Ternyata, wanitaku tetap memprioritaskan aku, tetap membuatku merasa menjadi nomor satu, dalam setiap keadaannya.
Alhamdulillah...
"Mas, ini bajunya." Ucapnya lembut, dan aku langsung meraih uluran itu, tak hanya sekedar menerima baju, tapi aku juga menyempatkan diri untuk mengecup mesra bibir Kalisa.
Ku selipkan anak rambut yang menjuntai tak beraturan itu ke belakang telinga.
"Terimakasih, Sayang." Balasku dan langsung dijawab anggukan olehnya.
"Oh ya, nanti sekalian antar Reyhan dan May ke sekolah barunya. Humairah ikut Mas ke kantor yah." Ucapku lagi sebelum melangkah ke ruang ganti.
Kalisa menatapku dengan raut wajah penuh tanda tanya, untuk apa? Mungkin seperti itu, jika mulut indah itu mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Mas mau mengenalkanmu, Kal. Biar semua orang tahu, kalau kamu milik seseorang yang bernama Ikhsan Rama." Aku menjawab kebingungannya. Mengatakan fakta, bahwa aku bersyukur, aku bangga, aku bahagia memilikinya.
Dan ingin semua orang tahu itu.
"Yang lelaki juga boleh mengenalku, Mas?" Tanyanya menggoda, lengkap dengan senyum genit, membuatku gemas, lalu memencet hidungnya.
"Mas akan suruh mereka tutup mata." Balasku tak main-main dan dia justru terkekeh.
Kekehan yang membuatku tidak tahan untuk tidak mencium bibirnya.
Kalisa mendorong dadaku, saat ciumanku terasa semakin menuntut, kalau dilanjutkan mungkin aku harus kembali mandi besar.
"Sudah ih sana." Kalisa mendorong tubuhku hingga masuk ke ruang ganti, dan aku hanya mampu menurut meski hati tidak rela, kalau saja tidak sedang palang merah, ingin rasanya aku membawanya ke nirwana.
Selesai dengan pakaian, aku keluar, ku lihat Kalisa masih setia duduk di tempatnya. Entah menunggu apalagi.
Aku mendekat, dan dia kembali mengulurkan tangannya, sajadah, dia memberikanku sebuah sajadah. "Anak-anak sudah aku bangunkan, Mas. Mereka menunggu di mushola kecil di bawah." Terangnya.
Lagi, aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk ini, aku kecup keningnya dalam sebelum melenggang keluar.
Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menatap Kalisa setelah menyelesaikan kecupanku. "Sayang, apa kamu sudah membaca do'a di hari pertama kamu mendapat datang bulan?" Tanyaku.
__ADS_1
Sebisa mungkin, aku ingin mengajarkan hal-hal kecil yang aku tahu. Walaupun aku sendiri sadar, aku bukanlah orang yang pandai.
Kalisa mengangguk dengan mengulas senyum. "Sudah, Mas."
"Alhamdulillah, coba beritahu Mas bagaimana doanya." Pintaku.
Dan dia langsung menengadahkan tangan. Menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.
Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulilah 'ala kulli haalin, wa astaghfirullah min kulli dzanbin.
"Segala puji bagi Allah atas segala persoalan, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari segala dosa."
Kalisa mengatupkan kedua tangannya lalu mengusap wajah setelah berucap aamiin, aku tersenyum mengusak puncak kepalanya bangga. "Masyaallah, pintar sekali istri, Mas. Sini Mas kasih hadiah." Aku mencondongkan wajah.
Kalisa mendelik, dan dengan cepat, aku langsung mencium pipi kanannya. Mata indah itu berubah melayu, dengan rona merah tergambar malu-malu.
"Masa hadiahnya cuma satu." Cebik Kalisa, seraya menjauh dari tubuhku.
Dan kini, aku yang berganti membelalakkan mata. Gemas, aku langsung menangkap tubuh Kalisa, dan memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajahnya.
__ADS_1