
Pov Hendri
Aku sedikit aneh sih dengan sikap Kalisa yang terang-terangan meminta kita untuk bercinta. Tapi aku juga tak mau ambil pusing, aku tak lagi bertanya, takut-takut menyinggung perasaannya. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Ada rasa sedikit bersalah saat Kalisa membisikku agar aku tak mencium Sela, karena pada kenyataannya aku sudah lebih dulu melakukannya. Ya meskipun sebelum kami sampai dirumah ini.
Setelah Kalisa berlalu ke kamarnya, aku beranjak dan meminta izin untuk keluar menyusul istri pertamaku. Karena aku tak mau Kalisa lama menunggu. Aku meminta Sela, agar membereskan barang-barang esok hari saja.
"Sel, aku pamit yah. Sudah bereskan esok saja." ujarku, membalik badan dan berniat melangkah keluar dari kamar Sela.
Tapi dia malah memelukku dari belakang. Erat.
"Mas," panggilnya.
"Kenapa Sel?" tanyaku sambil mengusap tangannya yang melingkar diperutku.
"Cium dulu." ucapnya manja, aku berbalik ke arahnya. Ia tersenyum kegirangan.
Aku meraih dagunya "Maaf ya Sel, malam ini aku milik Kalisa." ucapku, dia memanyunkan bibirnya merasa tidak terima.
"Iya aku tahu, tapi apa salahnya. Orang cuma cium aja." protes Sela.
"Jelas salah lah Sel, sudahlah besok aku tidur dikamarmu. Jadi jangan ganggu aku malam ini." ujarku menenangkannya, agar ia berhenti merengek seperti bocah.
Aku elus perutnya yang masih rata. "Jaga dia." singkatku, lalu berlalu meninggalkan Sela dikamarnya.
****
"Kenapa lama sekali sih Mas? Kamu habis apa? " hardik Kalisa begitu aku baru saja menutup pintu. Ia sudah memakai lingerie kesukaanku.
Aku langsung melangkah dan memeluknya dari belakang, berharap rasa kesalnya hilang.
"Maaf sayang, tadi Sela bertanya ini dan itu jadi aku jawab dulu." kilahku.
Kalisa berbalik menghadapku, memainkan jarinya didadaku "Kamu nggak ngapa-ngapainkan? " tanyanya manja, suaranya erotis sekali ditelinga.
"Nggak sayang, malam ini aku milikmu." ia tersenyum, lalu dengan nakal ia membuka kancing kemejaku.
__ADS_1
Aku pasrah saja dengan apa yang dilakukannya. Tak dipungkiri, aku juga sudah rindu bercinta dengan Kalisa.
Pov Kalisa
Setelah aku membuka kancing kemejanya, aku berusaha merayunya. Mendudukan ia diatas ranjang dengan aku dipangkuannya.
Matanya terlihat sangat lapar, mendamba akan tubuhku yang hanya tertutup kain tipis lingerie kesukaannya.
"Mas suka? " tanyaku begitu pagutan kami terlepas berburu udara yang berkejaran bebas. Dan kurasakan benda pusakanya kini mulai mengeras.
Ia mengangguk lalu kembali meraup bibirku. Ganas.
Aku sama sekali tidak menikmatinya. Aku pura-pura saja, karena aku hanya ingin Hendri masuk kembali dalam permainanku yang diperankan oleh ia sendiri.
Nafasnya memburu, dengan tak sabar ia membawaku ke peraduan surga dunia yang akan segera kami capai.
Ia membuang semua yang melekat ditubuhnya. Begitu pun dengan aku, Hendri sendiri yang membukanya.
Kilatan mata memuja kembali aku lihat. Pusaka yang ia bangga-bangga kan pun kini sudah berdiri tegak. Siap untuk mengoyak.
"Kamu siap sayang? " tanyanya.
Dan...
"Uwekkk, uwek."
Pov Hendri
Aku langsung mendongak menatap lagi wajah Kalisa begitu mendengar ia seperti ingin muntah.
"Sayang kenapa? " tanyaku khawatir.
"Aku tidak papah Mas." balasnya sedikit lesu, membuatku merasa tak nyaman untuk melanjutkan kegiatan ini. Padahal rasa itu sedang ada dipuncaknya. Tinggal sedikit lagi, nirwana kita gapai bersama.
"Kamu yakin Kal? " tanyaku lagi, dan Kalisa mengangguk.
Baiklah, akhirnya tega tak tega aku berniat melanjutkan percintaan kami yang tertunda. Karena bayangan miliknya yang sudah basah begitu menggairahkan. Rasa ingin menghentaknya kuat-kuat membuatku ingin gila.
__ADS_1
Aku kembali fokus pada Kalisa, begitu aku ingin menancapkan benda pusakaku "Uwek, uwek." Kalisa langsung mendorong tubuhku dengan keras dan berlari ke arah kamar mandi.
Ah sial!
Aku mengikutinya, dengan membawakan jubah mandi milik Kalisa agar ia tidak kedinginan dengan tubuh telanjangnya.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa? Apa benar kamu sudah sembuh? " aku memijat mijat tengkuknya.
"Nggak tahu Mas, aku kaya gini dari pagi pas kamu berangkat." ujar Kalisa, ia berkumur-kumur, begitu ia berbalik aku membantunya untuk memakai jubah itu.
"Yasudah besok kita periksa lagi yah." ucapku lalu menggendongnya untuk ku bawa kembali ke atas ranjang.
Aku meletakan Kalisa dengan hati-hati.
"Mas maaf yah." ucapnya merasa bersalah. Ya sebenarnya aku kecewa, lagi-lagi aku gagal bercinta dengan Kalisa. Hasratku benar-benar masih tinggi, jadi aku putuskan nanti aku selesaikan dikamar mandi. Karena tidak mungkin aku ke kamar Sela sedangkan Kalisa sedang seperti ini.
"Tidak apa-apa sayang. Kita istirahat saja." menyelimutinya, lalu meminta izin untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
*****
Pov Sela
Sialan!
Kalisa membohongiku, dia bilang kamar ini sudah dibersihkan, tapi begitu aku naik ke atas ranjang, dibawah selimut debu masih berserakan. Dan pastinya itu akan membuat tubuhku gatal-gatal.
Belum lagi kamar mandi yang terasa bau tae kucing. Membuatku benar-benar mual.
Aku tidak mungkin menggedor kamar mereka. Karena Mas Hendri sudah mewanti-wantiku agar tidak mengganggunya. Pasti mereka sedang asyik bercinta.
Ah Dasar Kalisa wanita sialan! Awas kau!
Aku banyak-banyak mengumpat dalam hati, aku tidak mungkin berteriak didalam kamar ini karena itu akan menimbulkan keributan dan akhirnya aku yang dimarahi Mas Hendri.
Dengan perasaan kesal campur jijik akhirnya aku membersihkan kamar ini sendiri. Sudah lelah malah harus mengerjakan ini semua. Hariku benar-benar sial karena Kalisa.
Ahhhhhh!!!
__ADS_1
******
Gimana? Enak Sela?