Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Muntah-muntah


__ADS_3

Kalisa menghela nafas panjang. Dia mengangkat kepalanya, dan menatap Rama dengan uluman senyum. Rama mengecup puncak kepala Kalisa dan menggenggam tangan wanita itu.


Membuat Kalisa percaya, dirinya bisa membantu untuk memberi penjelasan pada Reyhan dan May, agar kedua anak itu mau memberi pengertian pada sang ayah.


Setelah merasa sedikit lega, keduanya keluar dari kamar, seperti biasa Rama akan selalu merangkul bahu Kalisa ketika sampai di ambang pintu dapur.


Terlihat kedua anak mereka sudah menunggu, seperti mentari pagi ini, wajah Reyhan dan May nampak begitu cerah ceria.


"Bunda sama Papa, ayo buruan, Adek udah laper," ucap si kecil May, dengan memegangi perutnya.


Ekspresi lucu, membuat Kalisa dan juga Rama kompak terkekeh.


"Iya, Sayang. Ayo kita makan," balas Kalisa, dia mendudukkan dirinya begitu Rama menggeser kursi untuknya.


Namun, tidak dengan lelaki itu, belum sempat dia mendudukkan diri di samping Kalisa, tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk, karena mencium aroma nasi yang begitu menyeruak ke indera penciumannya.


Rama merasa mual.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Kalisa cemas.


Sedangkan Rama tak tahan, belum sempat menjawab pertanyaan Kalisa, lelaki satu ini sudah berlari ke arah wastafel dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.


Oek, oek, oek!


"Bunda, Papa kenapa?" tanya Reyhan pada Kalisa. Kedua bocah itu kompak berdiri. Sedangkan Kalisa bingung untuk menjawab, karena dia pun tidak tahu, waktu di kamar Rama masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Sayang, kalian makan duluan aja, Mbak Darmi tolong temani anak-anak dulu yah." Setelah mengatakan itu, Kalisa buru-buru menghampiri Rama.


Lelaki itu terlihat masih berusaha memuntahkan sesuatu yang terasa tercekak di tenggorokannya.


Oek, oek!


"Kamu kenapa sih, Mas?" Kalisa mengusap-usap tengkuk Rama dengan perasaan khawatir. Kenapa bisa tiba-tiba begini, batinnya.


Rama membasuh mulutnya, karena rasa mual itu sudah mulai mereda. Nafasnya terdengar memburu, dia berbalik dan Kalisa segera mengecek suhu tubuh lelaki itu.


Kening, pipi, leher. Semua terasa normal!


Rama menangkap pergelangan tangan Kalisa, lalu mengecupnya sekilas. "Aku tidak apa-apa, Sayang." ucap Rama, tak ingin membuat istrinya khawatir.


Namun, terlambat. Kalisa tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


"Aku tidak tahu, Kal. Saat mencium aroma nasi, tiba-tiba rasanya mual. Tapi percayalah, aku tidak apa-apa." Rama mengusak puncak kepala Kalisa, dan dibalas usapan lembut di pipinya.


"Benaran?"


Rama mengangguk cepat, untuk meyakinkan wanita beranak dua itu.


"Yaudah, sekarang kita sarapan, nanti minum obat yah. Kalau Mas ngerasa nggak enak badan, Mas nggak usah ke kantor." Kalisa mulai menunjukkan sisi cerewetnya, tetapi semua itu tidak lebih dari sebuah ungkapan rasa sayangnya pada Rama.


Mendengar itu, Rama terkekeh. "Iya, Sayangku."

__ADS_1


Akhirnya Rama dan Kalisa kembali ke meja makan. Belum juga sampai, hal itu terulang kembali, Rama langsung berlari pontang-panting ke arah wastafel dan menepuk-nepuk tengkuknya.


Membuat Kalisa mengernyitkan keningnya, sebenarnya Mas Rama kenapa?


Kalisa hendak menyusul, tetapi tiba-tiba tangannya dicekal dari arah belakang, Kalisa menoleh dan ternyata Mbak Darmi yang menahannya.


"Bu."


"Ada apa, Mbak?"


Mbak Darmi lebih dulu mengulum senyum. "Sepertinya ibu harus periksa." ucapnya lembut.


Namun, Kalisa belum mengerti maksud ucapan Mbak Darmi. Wanita itu menautkan kedua alisnya.


"Periksa? Periksa apa maksudnya? Apa maksud Mbak, Mas Rama perlu periksa ke dokter?" tanya Kalisa meminta kejelasan.


Dan Mbak Darmi menggeleng. "Bukan, Bu. Tapi ibu."


Netra Kalisa membulat, dengan mulut yang sedikit menganga. "Kenapa saya?"


Lagi-lagi Mbak Darmi tersenyum, membuat Kalisa semakin bingung.


"Karena sepertinya ibu hamil."


Deg!

__ADS_1


Hamil?


__ADS_2