Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Hatiku lega


__ADS_3

3 bulan kemudian...


POV Kalisa


Tiga bulan telah berlalu, itu artinya masa Iddah ku pun hampir habis, aku mengalami masa-masa sulitku dengan sangat nikmat, karena perasaan ku tak lagi tertekan, hatiku begitu lega telah melepas dan mengikhlaskan nya untuk orang lain. Tapi yang menjadi kesakitan ku selama ini hanya tangisan Reyhan, sesekali aku memergoki anak lelaki ku itu tengah terisak, membenamkan wajah ke dalam bantal, wajah yang senantiasa ceria itu terlihat murung, dan tak secerah biasanya, tetapi Alhamdulillah... Seiring berjalannya waktu kini semuanya berangsur membaik, anak-anak ku kembali bisa mengkondisikan hati mereka, bisa menerima keputusan ku yang lebih dulu meminta pisah dari ayah mereka. Mas Hendri.


Tak jarang mas Hendri menanyai kabarku dan anak-anak, bahkan ia menelponku berkali-kali tapi tak pernah aku angkat, aku hanya mengiriminya pesan bahwa kedua anaknya baik-baik saja, untuk apa menelpon jika hanya kabar yang ingin ia tanya? Dan mengenai nafkah, ia juga tak lupa. Sudah 2 kali ia mentransfer uang ke rekening ku, meski jumlahnya tidak banyak, aku terima itu semua, karena aku tidak mau menghalangi nya dari tanggung jawab untuk menafkahi kedua anaknya.


Ayah dan ibuku hanya tinggal seminggu dirumahku kala itu, karena ayah memang mengurus perkebunan, ia tak enak hati jika harus menitipkan perkebunan itu terlalu lama pada saudara kami. Jadilah kini hanya tinggal aku, May dan juga Reyhan. Tanpa sosok laki-laki dewasa dalam rumah kami, awalnya ayah juga memintaku untuk pulang ke kampung halaman, tetapi aku menolak permintaan beliau. Lagi pula, rumah serta tokoku ada disini, insyaallah... Dengan toko itu aku bisa menghidupi Reyhan dan May. Kehidupan yang layak, sama seperti sebelum aku bercerai dari mas Hendri.


Untuk saat ini, dan entah sampai kapan aku belum mau membuka hati. Meskipun aku tak memungkiri beberapa kali mas Rama memberikan perhatiannya untukku, bahkan untuk kedua anakku. Pernah waktu itu May sakit, badannya menggigil tengah malam, aku tak tahu harus meminta bantuan siapa karena aku pun belum lancar mengemudi mobil, menghubungi Astri pun rasanya tak mungkin, jadi dengan sangat terpaksa aku mengganggu jadwal istirahat mas Rama, aku menghubungi nya dan dengan tangan terbuka ia siap mengulurkan pertolongan itu. Bahkan ia juga kerap menghibur Reyhan, tiap seminggu sekali membawa anak-anak ku itu jalan-jalan, dan untuk kesekian kalinya, aku bersyukur pada Allah, Rey dan May tidak menolak mas Rama, keduanya malah terlihat sangat senang karena ada yang perhatian pada mereka. Meskipun waktu di awal perjumpaan ketiganya, Rey sedikit ketus, tapi mas Rama tidak mempermasalahkan itu, ia malah terus berusaha membujuk Reyhan, dan akhirnya malah Reyhan yang semakin ingin mengenal.


Mas Rama memang baru-baru ini pindah ke daerah sini, dia bilang dia membuka cabang perusahaan nya di dekat sini. Jadi alasan itulah mengapa sekarang ia mudah untuk menemui ku. Rela mengorbankan waktu nya yang sudah sempit mengurus perusahaan dengan membawa anak-anak ku pergi walau hanya sekedar untuk melihat kebun binatang ataupun pergi makan siang di restoran ayam.


Tin tin...


Suara klakson mobil membuyarkan aku dari lamunan yang panjang, tentang kilas balikku di 3 bulan ke belakang, ku sibak gorden kamarku melihat siapa yang datang. Aku tersenyum, ternyata mas Rama. Pasti mau menjemput May dan Reyhan karena hari ini hari Minggu.

__ADS_1


Aku menyempatkan diri untuk melihat pantulan wajahku di meja rias, merasa tak ada yang kurang aku mulai melangkah untuk keluar rumah. Berjalan ke arah gerbang yang masih ku kunci, karena sebelum aku keluar maka gerbang pun akan senantiasa dalam kondisi seperti itu.


Mobil mas Rama masuk ke pekarangan rumah, lalu dengan cepat ia keluar, memberi senyum cerahnya, secerah matahari pagi ini.


"Assalamualaikum?" Ucapnya dengan lembut, suara yang terkadang membuat hatiku bergetar tak menentu.


Astaghfirullah... Tidak, aku belum siap lagi untuk menerima cinta.


"Waalaikumussalam." Balasku dengan tersenyum tipis.


Aku mempersilahkan mas Rama untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah, tempat menunggu May dan Reyhan seperti biasa.


"Dorrr."


Aku mengusap dadaku sedikit terkejut dengan tingkah usil May dan Reyhan, bahkan putri kecilku ini sudah bisa mengikuti kakaknya ternyata.


"Kakak, adek, bikin nda kaget aja." Ucapku sambil pura-pura mencebik.

__ADS_1


Keduanya malah tertawa, renyah seakan tanpa beban apa-apa.


"Om Rama udah dateng nda?" Tanya Reyhan. Dan aku mengangguk, entah sihir apa yang di pakai mas Rama hingga anak-anak ku betah sekali berlama-lama main dengannya. Binar kesedihan di mata Reyhan pun kini telah sirna, kalau May, putri kecilku itu hanya ikut-ikut saja dengan kakaknya.


Dua bocah itu langsung berlari keluar tanpa menunggu izinku lagi, mereka memang sudah aku dandani sebelum mas Rama datang, bahkan mereka sudah sarapan, tadinya aku juga mau mengajak mas Rama sarapan bersama, tapi katanya ia juga sudah sarapan, jadi yasudahlah...


Aku keluar kembali untuk melepas kepergian dua bocah kesayangan ku, karena aku memang tidak pernah ikut, takut saja kalau banyak omongan tetangga yang tidak enak didengar. Apalagi, hanya berempat kami pergi, kecuali ada Astri, mungkin aku ikut pun tidak masalah. Tapi kini Astri sibuk mengurusi toko bajunya, ya dia buka toko kecil-kecilan dirumah. Sudah malas katanya bekerja di perusahaan.


"Kal, kali ini ikut yah." Pinta mas Rama begitu aku sudah berdiri di samping May.


"Maksud mas, aku ikut kalian pergi?" Tanyaku memastikan, dan mas Rama mengangguk, pun dengan Reyhan dan May yang sepertinya sudah kompak ingin aku ikut pergi.


Aku menimang sebentar, rasanya aku masih belum pantas untuk pergi dengan lelaki lain, aku tidak ingin banyak gunjingan tentang diriku, seperti ini saja mereka sudah banyak menerka-nerka, apalagi kalau sampai aku benar ikut pergi, ah lebih baik nanti saja, masih banyak waktu untuk pergi bersama dengan mereka bertiga.


"Maaf ya mas, aku belum bisa ikut. Aku berharap kamu mengerti." Ucapku dengan hati-hati, ku lihat mas Rama mengangguk, malah ia tersenyum mengerti sekali keadaan ku.


"Rey, May, jalan-jalan nya sama om dulu yah. Nanti baru sama nda , nda janji untuk nanti nda akan selalu temenin Rey sama May jalan-jalan." Ujarku sambil mengusap kepala dua anakku dengan perhatian, aku menunduk, lalu menginstruksikan agar dua bocah itu menciumku, dengan cepat bibir mereka sudah nemplok dipipi kanan dan kiri ku.

__ADS_1


Setelah itu aku benar-benar melepas kepergian mereka bertiga, dengan senyum yang terus mengembang, bahkan rasanya tak ingin surut dari bibirku meski mobil mas Rama telah hilang dari pandangan.


*******


__ADS_2