Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Menantang


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu Kalisa dan Rama menjadi pasangan suami istri. Dan sudah begitu banyak yang terjadi, karena kedua orang itu sudah sama-sama saling menerima satu sama lain, dan sepakat mengubur masa lalu, hanya untuk dijadikan pion di masa depan.


Untuk sementara, mereka menempati rumah Kalisa yang dulu, saat wanita itu masih menjadi istri Hendri.


Dan Rama tak keberatan sama sekali, justru setiap hari, wanita itu tak berhenti untuk mengulum senyum, tanda bahagia itu tak pernah habis ia dapatkan.


Ungkapan rasa syukur begitu membuncah, ia teramat bahagia, bisa bersatu dengan lelaki sebaik dan sesempurna Rama. Bagaimana lelaki seperti itu dibuang sia-sia? Sungguh hanya wanita bodoh yang melakukannya.


Pagi ini, Rama terlihat memakai pakaian santai. Setelah mengurus pekerjaannya dari rumah dan meminta izin pada Hilal, ia berniat melangkah ke dapur untuk melihat sang istri yang tengah membuat sarapan.


Saat sampai di dapur, dengan lembut dua tangan kekar itu melingkar sempurna di perut Kalisa. Tahu siapa pelakunya, wanita itu mengulum senyum, lalu mencubit lengan Rama.


"Aww!!" Lelaki itu mengaduh, saat satu capitan melandas. "Bunda kok jahat si, Papanya dicubit, kan sakit." Keluh Rama dengan bibir pura-pura mencebik. Dan Kalisa hanya terkekeh mendengar itu, merasa lucu.


"Habisnya Papa nakal." Melanjutkan kegiatannya, memasukan sayur ke dalam panci, Kalisa sedang membuat sup.

__ADS_1


"Kan meluk doang, Sayang. Kalo kaya gini baru nakal." Ucapnya seraya memegang dada sang istri dibalik jilbab, dengan gerakan cepat.


"Mas ih! Masih pagi udah mesum." Cibir Kalisa.


Dan Rama hanya terkekeh, lalu mengecup pipi kiri sang istri sekilas. "Anak-anak udah pada mandi belom, Bun?" Tanyanya melesak ke ceruk leher Kalisa. Ia sudah seperti ulat keket yang menempel pada dedaunan. Kesana-kemari, mengikuti setiap langkah Kalisa.


"Sudah, mereka sedang siap-siap. Mas bagaimana, kenapa masih pake baju biasa? Emang nggak kerja?" Tanya Kalisa, karena sang suami belum memberitahunya. Padahal ia sudah menyiapkan satu setel kemeja lengkap dengan jasnya.


Rama mengangguk, membuat bahu itu merasa geli. "Enggak, aku lagi pengen sama kamu di rumah, hari ini jangan ke toko yah." Pinta Rama, tetapi justru terdengar seperti rengekan di telinga Kalisa.


"Eum apa yah? Kita melakukan yang enak-enak saja bagaimana?"


"Apa maksudnya enak-enak?" Kalisa menuangkan bubuk kaldu, lalu mulai mengaduk-aduk.


"Membuat adik untuk May." Bisik Rama membuat Kalisa merasa geli, bahkan bulu halus dalam tubuhnya meremang seketika.

__ADS_1


"Mas..."


Dan percakapan mereka terhenti, begitu Reyhan memanggil Kalisa. "Nda, May minta dikuncir tuh." Bocah kecil itu melongok di pintu dapur, tanpa berniat masuk.


"Oh iya, sebentar ya sayang. Mas kamu tungguin sup aku dulu yah, bentar lagi mateng." Dan secepat kilat Rama menahan lengan itu.


"Bunda disini aja, selesaikan masakannya. Biar May, Mas yang urus." Lelaki itu mengulum senyum, lalu menatap sang putra sulung yang tengah melakukan hal yang sama.


Lihat, perhatian kecil seperti inilah yang membuat Kalisa benar-benar terus jatuh cinta pada suaminya.


Dengan tersenyum lebar, ia mengusap lembut pipi Rama. Pipi yang di tumbuhi bulu-bulu halus. "Makasih yah."


Dan lelaki itu kembali mencodongkan wajahnya ke telinga Kalisa. "Makasihnya nanti aja, kalo lagi berdua." Bisiknya menggoda lalu terkekeh kecil.


Sedangkan Kalisa tak mau kalah, ia balas menantang Rama. "Siap, aku tunggu di kamar kalo anak-anak udah pada berangkat ke sekolah."

__ADS_1


"Kalisa!!!"


__ADS_2