Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Sebuah jamuan


__ADS_3

Pagi hari, Rama sudah bersiap ke kantor. Mual-mual sudah dilewatinya beberapa menit yang lalu. Bahkan kini, setiap pagi lelaki itu juga ikut meminum susu hamil milik Kalisa.


Mereka menyetok semakin banyak, supaya semuanya tercukupi. Kalisa dan bayi kembarnya, serta Rama yang menanggung gejala kehamilan istrinya.


"Dia mengajakku bertemu, Mas." Ucap Kalisa.


Setelah semalam keduanya sama-sama menjelaskan, Rama dan Kalisa terlihat semakin terbuka. Ingin memupuk kembali rasa percaya satu sama lain.


"Kapan, Sayang?" tanya Rama, seraya mengendus-endus aroma tubuh Kalisa, sesuatu yang menjadi kebiasaan barunya.


"Nanti siang." Kalisa menatap wajah Rama yang berjarak cukup dekat dengan wajahnya, lalu memberikan kecupan manis di bibir seksi lelaki itu.


Rama mengulum senyum. "Bunda mulai nakal. Tapi Papa suka."


Mendengar itu, Kalisa terkekeh, lalu semakin bersemangat menggoda suaminya. Wanita itu beberapa kali memajukan wajahnya, tetapi tidak jadi mencium Rama, hingga membuat lelaki itu kesal.


Dan akhirnya, Rama menahan tengkuk Kalisa, dan menggigit gemas bibir wanita itu. Bibir Kalisa terlihat memerah, dan itu semua adalah perbuatan Rama.


"Kalau Humairah mau menemuinya, temuilah. Yang penting Humairah ingat pesan, Mas. Apapun yang dia katakan, jangan percaya." Ucap Rama sambil mengelus puncak kepala Kalisa.


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum, dia sudah memikirkan semuanya.


"Papa tenang aja, Bunda si kembar pasti bisa mengusir ulat bulu yang akan menempel di rumah tangga kita."


Melihat Kalisa yang begitu ceria, bahkan sangat percaya padanya, membuat Rama lagi-lagi bersyukur memiliki wanita satu ini. Rama mengecup kening Kalisa dalam dan cukup lama, mengalirkan cinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu, di sebuah cafe, satu ruangan VVIP sudah dipesan oleh Erina, tempat dimana dia dan Kalisa akan bertemu.


Wanita muda itu datang lebih dulu, dia duduk dengan elegan di sebuah kursi, menunggu istri dari mantan suaminya.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Kalisa terlihat datang dengan seorang pelayan yang menunjukkan meja Erina. Wanita dengan jilbab merah maroon itu tersenyum ramah.


Sementara Erina hanya memasang wajah datar, dalam hatinya terus berkata, " Ternyata ini wajah asli istri Mas Rama. Hih, cantik aku kemana-mana."


"Mbak Erina?" Sapa Kalisa, dan Erina hanya menganggukkan kepala.


Kalisa menarik kursi dan duduk di sana, keduanya berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Erina menatap Kalisa dan mulai memindai penampilan ibu hamil itu, sementara Kalisa bersikap setenang mungkin.


"Mbak." Kalisa melambaikan tangannya, meminta pelayan untuk mendekat.


Ibu hamil itu memesan beberapa makanan dan minuman untuk mengusir canggung. "Mbak Erina, mau pesen juga?" tanya Kalisa.


"Aku orange juice saja." Ujarnya singkat.


Dan setelah pelayan itu pergi membawa pesanan Kalisa, kini Erina buka suara. "Aku tidak mau berbasa-basi denganmu, aku menyempatkan waktuku yang sempit ini untuk memberi penjelasan, bahwa Mas Rama akan kembali padaku." Jelasnya dengan melipat kedua tangan di depan dada.


"Maksud, Mbak?" Kalisa pura-pura bodoh.


"Kamu sudah lihat foto itu kan? Itu foto ku dan Mas Rama seminggu yang lalu, Mas Rama itu masih mencintaiku, dan kamu cuma pelariannya."


Erina mulai berakting dengan sebaik mungkin. Tetapi Kalisa tak memberi reaksi berlebihan, malah terkesan begitu santai.


"Oh yah? Lalu aku harus apa?" tanya Kalisa dengan kening yang berlipat-lipat, semakin pura-pura tak paham.


"Tinggalkan Mas Rama sekarang juga!" cetus Erina akhirnya.


Dia memandang Kalisa sengit.


"Kenapa harus aku yang meninggalkannya? Bukankah kamu bilang, kalau dia masih mencintaimu? Lebih baik, kamu suruh dia saja."


Kalisa menumpu dagunya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Erina menelan salivanya dengan kasar. Ternyata menghadapi Kalisa tak seperti yang dia bayangkan.


"Dia itu orangnya tidak enakan, aku sangat hafal dengan sifatnya."


Mendengar itu, giliran Kalisa yang tertawa kecil, menertawai ucapan Erina yang terasa begitu konyol.


Erina mengernyit, dan Kalisa tiba-tiba memasang wajah datar dengan picingan mata yang menajam.


"Kalau kamu begitu hafal dengan sifat Mas Rama, harusnya dulu kamu sadar, kamu tidak mungkin menyakiti apalagi sampai meninggalkan dia demi orang lain, karena semua itu adalah sesuatu yang paling dia benci, sebuah pengkhianatan." jelas Kalisa dengan gamblang.


Dia menarik satu sudut bibirnya, menatap Erina sinis.


"Apa maksud kamu?" pekik Erina tak terima.


"Maksudku? Berhentilah mengganggu kami, karena mas Rama sudah tidak ada di masa itu, rasa cinta dan sayangnya terhadap kamu sudah hilang bersama pengkhianatan yang kamu lakukan. Dan sekarang hanya aku satu-satunya wanita yang dicintai mas Rama."


Kalisa kembali menunjukkan taringnya, membuat Erina kehabisan kata-kata. Tetapi seolah tak punya malu, wanita itu terus memutar otak.


"Hah, aku tidak percaya, aku yakin Mas Rama masih mencintaiku, dan kamu itu hanya pelampiasannya."


"Terserah, kalau kamu percaya ucapanku itu bagus, kalau tidak pun aku tidak apa-apa, tidak ada untung dan ruginya. Terimakasih atas jamuannya Nyonya Erina, maaf aku tidak bisa berlama-lama denganmu, karena aku sudah ditunggu oleh suami tercintaku."


Kalisa bangkit, lalu meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dia melangkah ke arah pintu, dan tiba-tiba Rama sudah ada di sana, dengan sengaja Kalisa menarik tengkuk Rama, dan memberikan kecupan manis di bibir lelaki itu.


Erina meremat kuat tangannya, dengan kepulan asap kekesalan. Dan sebelum benar-benar pergi, Kalisa kembali bersuara.


"Nyonya Erina yang terhormat, ada sebuah pesan istimewa untukmu, semoga suka." Kalisa berucap ceria, lalu menggandeng tangan Rama untuk keluar.


Lelaki itu terlihat mengulum senyum, dia mengecup pipi Kalisa sebelum benar-benar pergi dari sana.


Sementara Erina langsung meraih ponselnya, dan membuka pesan dari akun sosial media Kalisa. Di sana, foto Rama yang tengah bertelanjang dada, dengan bibir yang tengah menikmati leher jenjang Kalisa berhasil memancing kemarahan Erina.

__ADS_1


"Aarghhh! Wanita sialan!"


__ADS_2