Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Lowongan pekerjaan


__ADS_3

POV Sela


Aku semakin mengeratkan pelukanku pada guling, tak berniat sama sekali untuk bangun pagi-pagi buta begini. Walaupun ku rasakan ranjang disebelah ku telah kosong, ku yakin mas Hendri bangun lebih dulu untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku kembali memejamkan mata, berniat untuk melanjutkan tidurku, karena aku tadi sempat terbangun kala ranjang sedikit bergoyang.


Belum lama aku kembali ke alam mimpi tiba-tiba tubuhku sudah basah kuyup dan disusul teriakan mas Hendri memenuhi gendang telingaku. Aku kaget bukan kepalang, aku terduduk dengan nafas sedikit tersengal, karena ada air yang masuk ke rongga hidung ku. Bagaimana tidak, mas Hendri hanya mengguyur bagian atasku saja.


Lelaki tampan yang selalu ku puja itu menatapku dengan marah, entah kesalahan apalagi yang sudah ku perbuat hingga pagi-pagi begini, ia sudah menarik urat siap melahapku.


Brak!


Ia membuang gayung ke lantai dengan keras, ku yakin gayung itu sudah remuk sekarang, seperti hatiku saat ia selalu membentak, bahkan berlalu kasar, aku menunduk takut, tak berani menatap wajahnya lagi. Ingin rasanya aku menangis, tetapi sebisa mungkin aku tahan, aku tidak ingin semakin dibuat bahan lelucon oleh mas Hendri.


"Otakmu ini dipakai tidak sih?" Tanyanya dengan ketus sambil menunjuk-nunjuk kepalaku dengan kesal. Aku bergeming, tak ada satu kata pun keluar dari mulutku, aku membiarkan dia untuk bicara lagi. Toh jika aku balas aku malah semakin di caci maki.


"Sudah jam berapa ini? Dan kamu malah masih enak-enakan tidur? Sudah susah, tidak mau ibadah, terus hidupmu buat apa hah?" Bentaknya, aku tersadar aku belum pernah melakukan sholat lagi, bahkan aku lupa bacaannya. Tapi kenapa mas Hendri tiba-tiba peduli aku sholat atau tidak? Padahal selama aku hidup dengannya ia tidak pernah seperti ini.


"Maaf." Ucapku lirih. Mataku sudah benar-benar berkaca-kaca. Tak bisa juga aku keluarkan.


"Maaf, maaf. Bangun, sholat dan masak sana. Habis itu siap-siap cari kejra. Jadi wanita itu seperti Kalisa, sudah cantik, Sholehah selalu mengerti aku pula. Dasar pemalas." Gerutu mas Hendri, aku hanya bisa meremat remat tanganku, menelan ludahku getir, merasa tak enak hati selalu dibandingkan dengan Kalisa. Lagi pula jika benar adanya Kalisa seperti itu, lalu untuk apa kamu berselingkuh denganku malam itu?


"Sudah sana!" Bentaknya lagi, membuat lamunanku buyar seketika, aku cepat-cepat bangkit dari ranjang dan keluar kamar.Dari pada di maki-maki terus olehnya. Mending menghindarkan yah?

__ADS_1


Tak dipungkiri ada rasa ingin pergi juga dari sisi mas Hendri, tapi saat memikirkan kesalahanku, aku mengubur dalam niatanku, kasihan juga lelaki ku itu, masa iyah aku tega meninggalkan nya sendiri dalam keadaan kesusahan begini. Terlebih rasa cintaku ini sudah semakin membesar, meskipun mas Hendri makin kesini makin bertindak kasar. Layaknya kita berdua bukanlah pasangan.


*****


POV Hendri


Setelah berpakaian rapih, aku melangkah menuju meja makan yang berada di dapur. Ku lihat disana Sela sedang menata dua piring nasi goreng untukku dan untuknya. Beruntung nya Sela sempat ikut Kalisa, jadi ia bisa masak begini karena bantuan Kalisa pastinya. Kalau saja tidak, pengeluaran ku pasti akan semakin membengkak, karena sela sama sekali tak pandai memasak.


Aku memakan makanan yang dimasakan oleh Sela, walau rasanya hambar tapi tetap aku telan juga. Aku menurunkan sedikit egoku, kalau tidak begini bagaimana aku bisa makan nanti diluar, sedangkan persediaan uangku semakin menipis. Aku berniat mencari kerja lagi pagi ini, meskipun badanku masih terasa sakit semua. Biarlah yang penting aku cepat mendapatkan pekerjaan.


Aku meneguk air putih yang disodorkan Sela hingga tandas, mengelap pinggiran bibirku, lalu selesai.


"Kamu bereskan saja, aku berangkat dulu. Kamu ambil kunci ganda ini. Tidak usah manja, punya mulut kamu tinggal bertanya." Balasku seraya melempar kan satu kunci ganda pintu kontrakan ini pada Sela, dengan gelagapan ia menangkap kunci itu.


Lalu ia menyodorkan tangan berniat menyalimi tanganku, tapi aku enggan sekali bersentuhan dengannya, akhirnya tanpa pamit aku keluar dari rumah. Tak peduli pada perubahan mimik muka Sela.


Bismillah....


Aku menaiki angkutan umum untuk sampai dijalan raya, tempat dimana gedung-gedung tinggi menjulang hampir menembus langit itu berada. Dengan semangat yang menggebu, aku memantapkan hati kalau hari ini aku pasti akan mendapatkan pekerjaan. Ya, aku pastikan hari ini aku mendapatkan nya.


Setelah merasa sudah dikawasan perusahaan, aku meminta pada pak supir untuk menepi. Membayar sesuai ongkos yang biasa ku berikan. Lalu melangkah penuh semangat dari satu gedung ke gedung lain untuk menanyakan ada pekerjaan atau tidak? Setidaknya menjadi office boy pun tidak papa.

__ADS_1


Hingga entah di jam berapa, tapi aku yakin ini masih cukup pagi, aku berhenti di depan sebuah gedung perusahaan.


Aku mengamati perusahaan itu, seperti perusahaan yang baru saja diresmikan, karena sejauh aku memantaunya perusahaan ini tadinya belum ada, hanya bangunan yang sedang di apiki oleh para tukang kuli bangunan. Akhirnya seperti mendapat kesempatan emas, aku melangkah ke pos satpam untuk bertanya. Kalau benar begitu, kan Alhamdulillah.


"Pagi pak?" Ucapku pada pak satpam, aku membaca namanya sekilas yang tertera di baju seragamnya. Pak Toto begitulah bunyinya.


"Pagi mas. Ada yang bisa saya bantu?" Balasnya sambil bertanya apa keperluan ku datang kemari.


"Begini pak, sepertinya perusahaan ini baru yah? Apa masih ada lowongan pekerjaan nya pak?" Tanyaku tak ingin berbasa basi lagi.


"Oh iya mas, baru dua Minggu yang lalu sih. Tapi kalau buat staff kantor nya udah penuh mas, adanya juga tinggal satpam atau nggak OB. Itu pun kurang satu orang lagi. Kalau satpam, buat nemenin saya gitu." Balas pak Toto, aku tersenyum sumringah, seperti mendapat angin segar, nggak apalah nggak jadi staff kantor yang berkedudukan tinggi, yang penting kan halal pekerjaan nya.


"Kalau begitu saya mau pak, saya harus kemana yah pak naro lamaran nya?" Aku begitu antusias.


"Mas kasih saya aja, nanti saya taruh dibagian HRD, baru deh nanti mas dihubungi untuk interview. Palingan juga nunggu 1 atau 2 hari." Ucapnya lagi, dan aku semakin tersenyum lebar.


"Baik pak, ini saya titip lamarannya yah." Aku menyerahkan satu amplop coklat berisi surat lamaran ku pada pak Toto, lelaki paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya setelah itu aku pamit dengan hati yang berbunga, kembali melangkah untuk mencari pekerjaan yang lain. Siapa tau ada yang langsung diterima bekerja.


*****


Udah ah, aku benci sama mas Hendri 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2