
POV Sela
Aku harus berlari lebih cepat lagi, tak peduli mas Hendri mengejarku atau tidak, yang terpenting adalah aku harus pergi jauh dari tempat dimana aku benar-benar tidak di hargai lagi.
Kalau sampai aku bertemu lagi dengan mas Hendri, aku yakin hari itu juga aku akan berakhir, aku telah berani menendang kepunyaan nya yang berharga itu dengan sekuat tenaga. Bagaimana mungkin aku akan terlepas kalau mas Hendri sudah begitu murka.
Tanpa memperdulikan penampilan ku yang compang-camping, bahkan hanya berlapis kain taplak meja yang sempat ku ambil dari rumah kontrakan itu. Aku berlari sekuat tenaga, bahkan lelehan air mata yang membasahi pipi tak lagi jadi penghalangku untuk berhenti.
"Aku harus pergi dari sisi mas Hendri, aku tidak boleh lemah lagi, bahkan ia tidak pernah berbuat baik padaku, untuk apa kamu bertahan Sela? Untuk apa kamu terus di sisinya? Sungguh itu tidak ada gunanya." Gumamku pada diri sendiri. Aku kecewa pada diriku ini, kenapa mau saja di manfaatkan oleh orang seperti Hendri, kenapa tidak pergi dari dulu, kenapa baru sekarang, saat hati ini benar-benar terluka aku baru menyadari nya.
Aku berlari ke arah jalan raya, dimana tempat orang dan juga kendaraan berlalu lalang, kalau pun aku tertangkap, aku masih bisa untuk minta tolong. Namun naas, aku tidak memperhatikan sekitar, hingga...
"Awas!!!"
"Akhhh!!!"
Tubuhku terpelanting ke pinggiran, sedangkan motor itu menabrak trotoar, aku dan pengendara itu sama-sama menghindar. Tubuhku terasa nyeri, namun sebisa mungkin aku bangkit, aku tidak ingin kalau mas Hendri sampai menemukan ku.
"Mba, kamu tidak papa?" Tanya seseorang.
Aku menoleh ke asal suara, mata ku membola begitu melihat siapa yang sedang bertanya keadaanku. Tapi detik selanjutnya hatiku sedikit berbunga, mataku berbinar seakan mendapatkan penyelamat.
"Astri."
"Sela?"
Ucap kami bersamaan, aku melihat begitu banyak tanda tanya di mata wanita itu. Mungkin dengan melihat keadaan ku ia jadi bingung, namun tiba-tiba dia menyunggingkan senyum. Apa dia bahagia melihatku yang seperti ini? Jelas, dia kan sangat benci padaku. Tapi kali ini tidak ada waktu untuk berdebat. Aku ingin meminta pertolongan nya.
"Heuh, apa kau sudah menderita Sela?" Tanya Astri dengan nada sinis, aku hanya bergeming mendapati pertanyaan itu dari Astri, ku usap perlahan lelehan air mata yang masih mengalir sesekali, lalu mencoba berdiri.
"Astri aku mohon, aku ingin minta bantuan mu." Ucapku dengan nada memelas, ku lihat dia acuh, aku meraih pergelangan tangan nya.
Namun segera di tepis oleh Astri, seolah ia jijik padaku. Hubunganku dengan wanita satu ini memang benar-benar tidak baik.
"Untuk dasar apa aku membantumu?" Tanyanya, dia melipat tangan di dada. Menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku tahu ini tidak mudah, meyakinkan Astri untuk menolong orang yang sudah merusak rumah tangga sahabat nya.
"Astri aku tahu aku sudah banyak salah. Tapi aku mohon, untuk satu kali ini saja. Bantu aku, tolong bawa aku bersamamu. Dan bantu aku atas dasar kita sesama wanita, satu spesies yang saling ingin melindungi, karena...."
"Karena apa?" Potong Astri tidak sabaran.
Aku ragu untuk mengatakannya, tapi kalau tidak begini Astri pasti akan menolak untuk menolong ku.
"Karena aku tidak mungkin di biarkan hidup oleh mas Hendri." Sambung ku, tak tahan akhirnya aku menangis lagi, aku benar-benar sangat rapuh sekarang, aku belum pernah menemukan orang yang benar-benar peduli padaku. Apa itu semua karena perbuatan ku sendiri? Jadi orang-orang memilih untuk tidak peduli?
Kedua netra milik Astri membulat mendengar penuturan ku, antara percaya atau tidak. Tapi apa yang ku katakan adalah fakta. Mas Hendri adalah lelaki terbejat yang pernah ku temui, dan nelangsanya dia juga lelaki yang ku cintai. Aku mengatupkan tangan ku di depan dada, memohon dengan sorot mata yang begitu mengiba.
"Baiklah, ikut aku." Ucap Astri. Akhirnya aku mendapat pertolongan juga. Aku mengusap kedua mataku yang masih basah, buru-buru aku mengikuti langkah Astri menuju motornya.
Aku akan benar-benar berubah setelah ini, aku akan jadi wanita baik, wanita yang tidak merebut kebahagiaan milik wanita lain. Aku janji, aku janji.
*******
POV author
__ADS_1
Kalisa masih belum bisa membujuk Reyhan tentang sang ayah, Hendri. Hingga akhirnya wanita itu mengalah, dan memilih untuk kembali pelan-pelan memberi pengertian.
Pagi ini Kalisa memasak nasi goreng mata sapi untuk dirinya sendiri dan juga kedua anaknya. Mereka bertiga sudah duduk di meja makan.Dilihatnya Reyhan masih berwajah dingin, takut Kalisa akan membahas lagi tentang lelaki bernama Hendri itu. Kalisa jadi tak enak hati, ia mengusap kepala Reyhan terlebih dahulu.
"Kak, maafin nda yah. Hari ini nda nggak bahas ayah lagi deh, tapi Rey makan yah." Ucap Kalisa dengan suara lembut. Rey langsung menatap sang bunda yang duduk disampingnya. Binar jernih itu terlihat begitu menyimpan banyak luka, tapi tetap saja berusaha tersenyum demi kebahagiaan bundanya.
"Iya, Rey makan. Bunda juga makan yah." Balas Reyhan, Kalisa tersenyum hangat. Ia segera memeluk kepala si sulung, lalu mengecupnya dengan begitu banyak. Merasa tak ingin ada yang iri, Kalisa berbalik ke samping lalu meraih tubuh gadis kecilnya juga untuk di peluk.
"Bunda sayang kalian, jangan pernah tinggalin bunda ya sayang."
Keduanya lalu mengangguk dalam dekapan wanita yang telah melahirkan mereka.
*****
Siang ini Rama sedang berada di kantornya, ia sedang melihat beberapa berkas yang belum ia tanda tangani, dan beberapa proyek yang akan mereka jalani. Ditengah kesibukannya ia masih sempat mengirimi Kalisa sebuah pesan, kalau ia akan mengajak ketiga orang itu makan siang bersama di restoran.
Saat jam istirahat itu telah tiba, Rama buru-buru menyambar kunci mobilnya, melangkah dengan langkah penuh senyum ramah seperti biasanya, kebetulan ia juga berpapasan dengan Hilal yang akan pergi ke lantai dasar, dimana kantin kantor berada.
"Ram, kamu mau pergi kemana?" Tanya Hilal basa-basi, padahal ia sudah bisa menebak tempat tujuan bos sekaligus sahabatnya ini. Kemana lagi kalau bukan menemui sang calon istri.
Rama tersenyum lebar, senyum yang sangat mengerikan bagi pria jomblo seperti Hilal.
"Aku akan menemui calon istri dan calon anak-anak ku." Jawab Rama dengan masih tersenyum. Pria ini benar-benar tak ingin menanggalkan lengkungan sempurna di bibirnya, jika sudah menyangkut tentang Kalisa.
Cih! Apa pernyataan cinta dia sudah diterima? Hilal membatin.
Setahunya, wanita bernama Kalisa itu masih menutup diri dan menjaga jarak pada Rama, itu terbukti dari apa yang ia lihat selama ini. Rama hanya bisa mengajak pergi anak-anaknya sedangkan emaknya dirumah. Sebenarnya Rama mau menikah dengan siapa? Dengan Kalisa apa dengan anak-anaknya?
"Oh, aku kira mau kemana, kalau tau jawabanmu seperti itu, tadi-tadi tidak usah aku tanya." Balas Hilal, melerai obrolan tidak penting ini. Perutnya juga tidak bisa dibohongi, ia sudah sangat lapar.
"Hahaha. Dahhh... Jomblo." Ledeknya sekali lagi, sebelum ia benar-benar pergi.
Ck! Sialan kau Ram.
******
Sesampainya di restoran pelayan langsung menunjukkan tempat duduk yang sudah dipesan oleh Rama, meja bundar dengan 4 kursi. Pas dengan jumlah mereka.
Rama menarik kursi terlebih dahulu untuk Kalisa, Kalisa yang masih merasa belum terbiasa, menjadi begitu canggung, diperlakukan seistimewa ini.
"Mas, tidak perlu aku bisa sendiri." Ucap Kalisa tak enakan.
"Tapi aku suka melakukan nya untukmu." Balas Rama, tak ingin apapun yang ia lakukan di tolak oleh wanita di hadapannya.
"Tapi aku merasa tidak enak dengan anak-anak." Kilah Kalisa, mengatakan anak-anak sebagai alasannya.
"Anak-anak apa kalian keberatan?" Tanya Rama pada dua bocah yang sedang menyaksikan perdebatan antara bunda dan om baik mereka.
Keduanya menggeleng, merasa tidak masalah sedikitpun. Kalisa berubah jadi salah tingkah kalau begini, ia segera duduk tak ingin bicara lagi dengan Rama, yang ada nanti pipinya akan berubah memerah, dan itu akan lebih memalukan lagi.
Rama tersenyum senang, Reyhan dan May bisa diajak kerja sama juga rupanya. Kalau begini, pasti akan lebih mudah mendapatkan hati Kalisa.
Mereka memesan beberapa hidangan makanan yang ada di buku menu, sang pelayan dengan cekatan menulis pesanan yang Rama sebutkan satu persatu.
__ADS_1
Hingga beberapa menit setelah pelayan pamit, kemudian makanan yang mereka pesan, mulai di tata di meja.
Mereka berempat mulai makan dengan tenang, hanya ada suara Rama yang beberapa kali menanyakan pada May, Reyhan dan juga Kalisa.
Apakah makanan nya enak?
Kalau kurang tambah lagi yah.
Kalau masih ada yang mau di pesan bilang saja pada om Rama.
Dan masih banyak lagi yang tidak bisa author sebutkan, karena mas Rama banyak banget nanyanya.
Selesai makan siang, Rama mengajak mereka bertiga untuk mengobrol santai sebentar, lebih tepatnya ia akan menasihati Reyhan, ia sudah dengar dari Kalisa mengenai Reyhan yang belum bisa menerima Hendri kembali.
"Rey, May sini duduk lebih dekat dengan om." Ucap Rama.
Reyhan dan May menurut, keduanya merapatkan kursi agar lebih dekat dengan Rama. Melihat pemandangan itu Kalisa jadi tersenyum, hanya sekali menitah ternyata kedua anaknya langsung menuruti apa yang diinginkan Rama.
"Rey, apa Rey tahu siapa yang membuat Rey ada di dunia ini?" Tanya Rama untuk mengawali.
Reyhan langsung menatap kesamping, dimana wajah Rama lebih dekat dengannya.
"Allah." Balasnya.
Rama tersenyum lebar, ia mengusap kepala Reyhan dengan begitu sayang. Lalu memberikan jempolnya, menandakan jawaban Reyhan adalah benar.
"Benar, Allah adalah Dzat yang membuat kita ada di dunia, tapi tetap melalui sebuah perantara. Dan siapa perantara itu? Rey bisa menjawabnya?"
Reyhan mulai mengerti arah pembicaraan Rama, ia membuang muka nya, menatap ke bawah meja dimana kakinya tengah berayun.
"Bunda dan ayah." Jawabnya lirih.
"Benar, Rey benar lagi. Perantara Rey bisa berada di dunia adalah ayah dan bunda. Jadi sepatutnya kita hormati keduanya bagaimana pun sikap mereka. Karena itu adalah wujud terimakasih dan rasa berbakti kita kepada mereka. Rey mengerti?"
Reyhan diam, dalam lubuk hatinya ia begitu menyayangi sang ayah. Namun bila ingat tentang bundanya yang selalu menangis, rasa sayang itu seakan sirna entah kemana. Bulir air mata dari netra Reyhan mengalir, ia terus menunduk tak ingin Kalisa melihatnya.
Dengan sedikit ragu ia mengangguk, menandakan ia mengerti apa yang Rama ucapkan.
"Kalau begitu, hormati kembali ayah Hendri. Bukankah beliau adalah ayah yang sudah membuat Rey bisa ada di dunia?" Ucap Rama, tak hentinya tangan Rama mengelus kepala Reyhan, yang kini sudah mulai sesenggukan ditempat nya.
Mendengar ucapan Rama, Reyhan kembali mendongak, menatap Rama yang tersenyum ke arahnya, lalu menatap bundanya yang sedang melakukan hal yang sama.
"Apa bunda tidak akan menangis lagi jika Rey memaafkan ayah?" Tanyanya.
"Bunda malah akan bahagia jika Rey bisa memaafkan ayah. Bukankah Rey senang jika melihat bunda tersenyum manis seperti itu?" Ucap Rama sambil memandang sekilas wanita pujaannya, Kalisa kembali tersenyum melihat putranya yang juga ikut memandang ke arahnya.
Reyhan mengangguk.
"Kalau begitu, maafkan lah ayah Hendri. Karena beliau akan tetap menjadi ayah Rey dan May meski beliau bukan lagi suami dari bunda." Ujar Rama, kali ini ia mengusap kepala dua bocah itu sekaligus.
"Lalu, apakah om baik akan jadi suami bunda selanjutnya?"
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...