
PLAK!!!
"Biadab kamu Kalisa!" pekik Hendri penuh amarah.
Kalisa memegangi pipi kirinya yang terasa kebas akibat tamparan dari Hendri, matanya memerah siap menumpahkan segala sakitnya selama ini. Baru kali ini Hendri berani melakukan kekerasan dalam rumah tangga mereka. Tangan kekar yang biasanya mendekapnya kini malah memberi rasa sakit yang begitu terasa sampai ke hati.
Dari untuk pertama kalinya, perkataan lelaki yang menemaninya selama delapan tahun itu terdengar sangat menyakitkan. Kalisa meneguk ludahnya dengan susah payah. Menahan sesak didadanya, seperti ada sebuah batu besar yang kini tengah mengganjal disana.
Kalisa membelakangkan rasa sakit itu terlebih dahulu, dengan berani ia menatap lelaki yang telah menamparnya tadi. Tatapan yang nanar dan begitu bersahabat dengan kekecewaan.
"Ada apa?" tanya Kalisa dengan tatapan berani, untuk apa lagi takut pikirnya. Bila hati bahkan anggota tubuh pun sudah ikut tersakiti.
Mata Hendri menyalang dengan tajam. Membalas tatapan mata Kalisa sama beraninya. Bahkan kini semakin diselimuti kabut amarah yang sebentar lagi meledak. Ia mengeratkan gigi-giginya, berusaha untuk tidak melakukan kekerasan lebih dari ini. Bagaimana pun Kalisa tetaplah orang yang dicintainya.
"Jujur padaku, kamu yang sudah membuat bisnis Mas hancur Kal? " tanyanya dengan tegas. Bahkan matanya melotot hampir keluar saat mengucapkan kalimat itu.
Kalisa tersenyum miring, ia mengerti sekarang, ternyata ada tukang adu dirumah ini. Karena ia tadi tak berpikir untuk mengunci kamarnya, ia yakin pasti Sela mendengar percakapannya bersama sang sahabat. Astri. Dan mengadukannya pada Hendri.
"Kau sudah tahu? " Kalisa balik bertanya. Hendri kembali mengepalkan tangannya, merasa tak percaya orang yang ia cintai selama ini berani menghancurkan bisnis yang sudah dibangunnya mati-matian. Ia kecewa pada Kalisa, bisa-bisanya wanita yang ia anggap lemah itu semakin berani padanya.
"Ternyata benar, kamu yang melakukannya? Untuk apa Kalisa, untuk apa kamu melakukan ini? " bentaknya, urat diwajah Hendri terlihat jelas, menunjukkan betapa geramnya ia saat ini pada wanita bernama Kalisa.
Air mata Kalisa turun dengan sendirinya, namun segera ia tepis. Karena ia tak ingin terlihat lemah didepan Hendri.
"Untuk apa? Itu untuk semua rasa sakitku Hendri. Untuk semua sesak yang ku dapat darimu. Untuk jiwa yang kamu hancurkan berkali-kali. Untuk segala kepercayaan yang kamu remuk berkeping-keping."
__ADS_1
Plak!!!
"Hentikan omong kosongmu Kalisa." pekik Hendri seraya kembali menampar pipi Kalisa. Setan sudah merasuki dirinya. Perkataan Kalisa menyulut kembali emosi yang tak bisa lagi untuk dibendung. Lahar amarah sudah sampai dipuncak ubun-ubun.
Air mata Kalisa turun dengan deras. Tak hanya hatinya, tapi kini fisiknya juga terasa perih. Tamparan Hendri benar-benar sangat kuat, hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan setetes darah.
"Keputusanku sudah bulat sekarang, setelah kamu melahirkan maka talak jatuh kepadamu saat itu juga." ucap Hendri dengan menggebu-gebu.
Deg!
Sudut hati Kalisa terasa nyeri mendengar kata perpisahan itu. Meskipun ini tujuannya, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa perpisahan adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia tak pernah membayangkan hari ini akan datang, dan sekeras apapun ia menepis itu semua, maka takdir itu akan datang dengan sendirinya. Kalisa mengusap kasar air matanya, bendera perang dari Hendri sudah berkibar. Itu artinya ia harus menerima tantangan itu, hari ini ia anggap selesai. Ya, Hendri dan ia selesai.
"Tak perlu berlama-lama Hendri, kamu bisa menceraikanku sekarang juga." ucap Kalisa dengan bibir yang terus bergetar menahan tangis. Sudut bibirnya terasa perih, sama halnya dengan hati.
Kalisa kembali menyunggingkan senyum remeh. Senyum yang terlihat sangat menyebalkan dimata Hendri.
Cih!
"Apa istri keduamu juga tidak memberitahu kalau sebenarnya aku tidak hamil? "
Duarrr!!!!
Mata Hendri membelalak. Bulat, seolah ingin loncat keluar. Kenyataan apalagi ini? Kenapa Kalisa bisa setega ini padanya, menipunya dengan pura-pura hamil. Bahkan bisnisnya pun hancur karena wanita yang dengan penuh kekhilafannya terus ia sakiti.
Kemana Kalisa yang dulu. Kemana Kalisa yang selalu menangis ketika tak sengaja ia sakiti, kemana Kalisa yang lemah lembut tutur katanya. Kemana Kalisa yang pandai memaafkan orang yang sudah menyakitinya?
__ADS_1
Hendri mengusap wajahnya kasar. Kembali menatap wanita dihadapannya dengan tatapan tak percaya.
"Jadi semuanya hanya pura-pura? " tanyanya dengan sengit, tangannya terus terkepal. Keringat membanjiri tubuh keduanya meskipun AC menyala tanpa kendala.
"Bukankah kebaikanmu juga sebuah kepura-puraan Hen? Bukankah semuanya hanya kebohongan belaka? Aku tahu kamu sudah membagi cintamu, aku tahu kamu mempertahankan aku hanya karena bisnismu itu, aku tahu kamu tak berani menceraikan aku karena kamu merasa takut, bagaimana saat hidupmu tanpa aku disisimu, kamu takut hartamu hilang, bukan lagi cinta, bukan lagi sebuah ketulusan Hendri. Aku tahu, aku tahu semuanya." pekik Kalisa dengan penuh derai air mata. Luruh sudah segala yang berkecamuk dihatinya. Ia ikhlas sekarang untuk melepas Hendri. Untuk May dan Reyhan, ia sudah memikirkan ini, Hendri tetaplah sosok ayah untuk kedua anaknya, tetapi bukan lagi menjadi sosok imam yang harus ia taati. Ia dan Hendri cukup sampai disini.
Hendri diam, perlahan cairan bening turun dari sudut matanya. Ia sadar, kini hatinya telah mendua, diam-diam ia juga membenarkan apa yang Kalisa ucapkan. Ia salah, prekdisinya tentang hidup bahagia dengan dua istri itu salah. Kepercayaan dirinya tentang adil juga menyleweng jauh, karena nyatanya ia tetap berat sebelah.
Saat Hendri diam dan tak merespon, Kalisa berjalan ke arah ranjang, tepatnya didepan nakas. Ia membuka laci nakas itu dan lekas mencari sesuatu. Setelah dapat ia segera meraih benda itu dan melemparkannya ke arah Hendri.
Prakkk!!!
Amplop itu jatuh diatas lantai, tepat dibawah kaki Hendri, disana bertuliskan dari pengadilan agama. Perlahan Hendri merunduk dan meraih amplop coklat itu. Membuka dan membacanya secara detail.
Surat cerai? Lirih Hendri. Air matanya kembali luruh. Jadi, Kalisa sudah menyiapkan ini. Sebuah kejutan yang tak pernah terduga akan ia dapatkan dari cinta pertamanya. Orang yang sudah menemaninya selama ini sudah begitu tega.
Kalisa tak kalah sedihnya, ia menggigit bibir bawahnya agar tak menangis histeris dengan pemandangan kamarnya saat ini. Lelaki tercintanya terkulai lemas dilantai. Menangis pilu atas perbuatannya, Kalisa menutup mulutnya dengan satu tangan, tak kuat menahan tangis ia segera berlari ke kamar mandi dan mengunci diri.
"Kita sudahi semuanya Hendri, kita cukup sampai disini."
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1