Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Bisa tanpa sosoknya


__ADS_3

"Mas kita mau kemana?" Tanya Sela disela-sela langkahnya mengikuti Hendri dari belakang.


Hendri diam, tak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan wanita kurang ajar yang telah membuat rumah tangga nya hancur itu. Ia hanya fokus pada jalan yang ia lalui, sebenarnya ia juga bingung akan kemana. Untuk saat ini, ibu juga pasti belum mau untuk menerimanya tinggal dirumah.


"Mas aku cape, kita istirahat dulu aja yah." Keluh Sela, membuat Hendri tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap tajam ke arah Sela. Wanita itu melipat bibir nya kedalam, takut untuk membalas tatapan mata Hendri yang sudah seperti akan menerkamnya.


"Maaf mas, tapi aku benar-benar lelah." Ucap Sela jujur, lalu menunduk. Ia berkata seperti itu karena ia memang sangat lelah, terlebih Hendri memintanya untuk membawa dua buah tas besar milik Hendri dan juga dirinya. Sedangkan lelaki itu hanya diam dan terus berjalan tanpa memperdulikan nya yang kesusahan.


"Aku tidak menyuruhmu mengikuti ku, kalau kau mau pergi silahkan. Tinggalkan aku sendiri wanita ja*lang." Ketus Hendri, bahkan kini ia tega melontarkan kata-kata itu pada Sela. Sela meneguk ludahnya,mendengar cacian Hendri terhadap dirinya. Namun rasa cinta membuatnya lemah, ia terima dikata-katai seperti itu, biar saja. Yang penting ia bisa tetap bersama dengan suaminya.


"Aku ikut denganmu mas." Ucap Sela dengan pelan.


"Heuh, bagus. Aku jadi tidak perlu menyewa pembantu nanti."


*******


Dua hari setelahnya, Kalisa masih diliputi rasa sedih yang begitu mendalam. Bukan hanya dia, tetapi juga Reyhan yang sudah mengerti bahwa kini Hendri telah pergi dari rumah. Ibu Hendri sengaja menginap, agar Kalisa tak merasa sendiri, dan lekas bangkit dari keterpurukan nya. Bahkan beliau yang mengurusi segala keperluan May, dan membiarkan Kalisa fokus untuk memberi pengertian pada Reyhan.


Kalisa duduk disisi ranjang anaknya, mengamati Reyhan yang kini sudut matanya selalu basah. Ia tahu untuk pertama kali memang akan sulit, tetapi untuk kedepannya ia yakin keluarga kecilnya bisa. Bisa berdiri kokoh tanpa sosok suami dan sosok seorang ayah.


"Rey," panggil Kalisa, ia memegang pipi putranya, lalu mengusapnya dengan sayang.


"Nda..." Rengek Reyhan. Ia menatap wajah Kalisa yang berusaha tersenyum agar bisa kuat bersama. Kedua netra bocah itu sudah berkaca-kaca, dengan satu kedipan mata saja, maka air mata itu akan jatuh membasahi pipinya.


"Kenapa? Kenapa Rey tidak mau makan? Apa Rey mau melihat bunda sedih?" Tanya Kalisa, ia sedang membujuk sekarang, dari yang ia ketahui dari mantan mertuanya, Reyhan menolak untuk sarapan. Bahkan enggan untuk masuk sekolah.


Reyhan menggeleng, tanda ia tidak ingin melihat bundanya sedih. Tapi tak dipungkiri, kepergian ayahnya adalah sesuatu yang membuat hati suci bak embun itu terluka.


"Kalo begitu ayo kita sarapan. Dari kemarin Nda perhatikan Rey susah untuk makan. Apa Rey mau sakit?" Tanya Kalisa lagi, dan Reyhan kembali menjawab dengan gelengan. Kalisa tersenyum, lalu meraih tangan mungil malaikat kecilnya. Mengecupnya dalam, mengalirkan kasih sayang yang begitu besar. Mulai saat ini, tugasnya bertambah, disamping menjadi seorang ibu, ia juga harus menjadi sosok ayah untuk kedua anaknya.


"Nda sayang banget sama Rey, sama May. Jadi nda mohon. Jangan buat nda sedih ya sayang." Ucap Kalisa. Reyhan langsung memeluk tubuh bundanya dengan erat.


"Ayo kita makan, Nda suapi." Ujar Kalisa, kali ini Reyhan mengangguk, lalu Kalisa meminta Reyhan bangkit dari ranjang, menggandeng tangan bocah tampan itu menuju meja makan. Dan disana sudah ada ibu yang sedang menyuapi putri kecilnya, May.

__ADS_1


*****


Selesai mengantar Reyhan ke sekolah, Kalisa berusaha membuang pikiran jenuh itu dengan pergi ke toko. Sedangkan ibu sudah pamit pulang sebelum Kalisa mengantar Reyhan.


"Assalamualaikum Tik?" Ucap Kalisa begitu sampai di toko nya.


Atikah yang sedang membereskan barang-barang sontak menghentikan sejenak aktivitas nya, lalu menjawab salam bosnya.


"Waalaikumussalam mbak. Mbak ngapain cape-cape ke toko. Kenapa nggak istirahat dirumah aja?" Tanya Tika, ia begitu prihatin dengan apa yang terjadi pada bosnya. Bahkan ia sebagai sesama wanita juga merasakan sakit, walaupun hanya sekedar mendengar ceritanya. Karena isu perceraian Kalisa telah merambah kemana-mana. Biasalah mulut tetangga, baru satu detik posting yang nyinyir sudah sekampung.


Kalisa tersenyum, merasa senang pegawainya juga perhatian padanya,"Nggak papa Tik, suntuk juga dirumah." Balas Kalisa lalu melepas genggaman tangannya pada May. Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam. Pasti akan berkutat dengan mainannya.


Tika manggut-manggut lalu membalas senyuman Kalisa, benar-benar wanita yang tegar batinnya.


"Yaudah Tik saya masuk dulu yah." Pamit Kalisa dan mulai melangkah, tetapi sebelum benar benar masuk Tika kembali memanggil nya.


"Eh mbak mau minum nggak? Nanti saya buatin." Tawar Tika, tetapi dijawab gelengan oleh Kalisa. Ia tak mau merepotkan orang lain, jika ingin minum ia pun bisa mengambilnya sendiri.


"Astri?" Gumam Kalisa.


Belum sempat menghubunginya balik, Astri kembali melakukan panggilan.


"Hallo, kenapa As?" Tanya Kalisa.


"Lo dimana Kal?" Bukannya menjawab Astri malah balik bertanya.


"Aku di toko, kalau ada perlu kesini saja yah. Pelanggan ku sedang lumayan ramai." Ujar Kalisa lalu di iyakan oleh Astri. Akhirnya panggilan terputus dengan kesepakatan bahwa Astri akan menyusul Kalisa ke toko.


Lima belas menit cukup untuk seorang Astri sampai di toko milik sahabat nya. Ia mengendarai motor matic yang baru di cicilnya bulan lalu. Ia melepas helm, menaruhnya di spion lalu melangkah menghampiri Kalisa yang sudah duduk manis didepan tokonya.


"Assalamualaikum ahli surga." Ucap Astri.


"Waalaikumussalam. Aamiin." Balas Kalisa, lalu menarik satu kursi meminta Astri untuk duduk disana. Astri tersenyum lebar, merasa tenang karena Kalisa kini telah berpisah dengan Hendri. Itu artinya satu rencananya telah berhasil, tinggal satu rencana lagi. Yaitu membuat Kalisa bisa bersatu dengan Rama. Ya, lelaki itu sangat tepat untuk wanita bernama Kalisa menurutnya.

__ADS_1


"Kamu kesambet apa As, senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Kalisa sambil mengecek suhu tubuh Astri dengan menempelkan tangannya di dahi wanita cantik itu.


Astri menarik tangan Kalisa dari dahinya.


"Ish, emang gue sakit apa Kal sampe diperiksa segala." Cebik Astri. Ia melipat tangannya didada seolah kesal.


Tapi Kalisa hanya tertawa. Lalu geleng-geleng kepala.


Lalu detik selanjutnya, Kalisa pamit untuk mengambil minum terlebih dahulu, kali ini ia tak membuatnya, ia hanya mengambil orange jus yang sudah ada dalam kemasan botol yang tersimpan di lemari pendingin.


Astri menerima minuman itu dari tangan Kalisa. Meneguknya dengan cepat karena ia memang sangat haus.


Kalisa kembali duduk, mereka sama-sama diam bingung ingin membahas apa.


"Kal." Panggil Astri. Dan Kalisa hanya ber hemmm ria.


"Jujur, gue turut prihatin dengan semua yang udah terjadi dalam rumah tangga lo. Tapi, gue juga nggak mangkir, kalo gue seneng, gue bahagia lo akhirnya bisa lepas dari Hendri. Gue doain yah, semoga lo dapet yang lebih baik dari dia." Ucap Astri dengan tulus. Membuat Kalisa kembali mengulas senyum manisnya. Sudut hatinya memang masih terasa sakit, tapi ada sudut yang lain yang merasa lega.


"Aku belum memikirkan sampai sejauh itu As. Aku rasa aku masih ingin berlama-lama sendiri dulu sampai luka ini sembuh." Balas Kalisa.


Astri mengerti, ia mengusap lengan sahabat nya itu.


"Kal, kadang memang kita itu takut untuk memulai kembali. Tapi percayalah, jika rasa sakit itu ingin segera sembuh, maka dibutuhkan obat penawarnya."


"Aku tau As. Tapi aku tidak tahu kapan aku akan bisa menerima obat penawar itu. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin membahagiakan anak-anak ku dulu. Membangkitkan kembali semangat mereka, meyakinkan pada May dan Reyhan kalau kita akan baik-baik saja tanpa dia." Terang Kalisa, sudut matanya kembali mengembun. Astri yang menyadari itu langsung mendekat dan memeluk Kalisa. Memberitahu pada wanita itu kalau ada dia sampingnya. Ia siap sedia menjadi pendengar terbaik untuk sahabat nya saat ia berkeluh kesah.


"Terus kapan lo mau kasih tau bokap sama nyokap lo Kal?" Tanya Astri setelah melerai pelukan itu.


Kalisa menggeleng, ia bingung harus bercerita darimana. Kedua orangtuanya pasti akan shock. Terlebih ayahnya, karena sebelum menikah dengan Hendri, beliau memang sudah beberapa kali mengingatkan Kalisa untuk tidak melanjutkan hubungannya, karena sang ayah sudah menyiapkan lelaki pilihannya. Anak sahabat jauhnya.


"Aku tidak tahu As, tapi aku harap. Mereka tidak akan kecewa dengan keputusanku."


Ayah, Ibu. Maafkan Kalisa.....

__ADS_1


__ADS_2