Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Sah? SAH!


__ADS_3

Kalisa dibuat gamang, sudah seminggu waktu berlalu tetapi Rama tidak bisa dihubungi. Setiap kali Kalisa mencoba, hanya ada suara operator yang mengatakan pengguna nomor itu sedang sibuk, atau bahkan diluar jangkauan alias tidak aktif. Sedangkan ia sudah menyerahkan berkas-berkas pernikahan kepada ayahnya, itu sesuai dengan persetujuan Rama.


Kini Kalisa beserta anak-anak sudah ada dirumah orang tuanya, dua hari lagi pesta pernikahan akan di adakan dirumah ini.


Hati Kalisa semakin dibuat was-was, sekaligus bertanya-tanya apa yang direncanakan oleh Rama.


Usaha apa yang akan lelaki itu lakukan sebenarnya?


Di tengah kegelisahan nya, pintu kamar Kalisa diketuk, lalu di susul suara sang ibunda meminta izin untuk masuk.


"Masuk Bu, pintunya tidak dikunci." Balas Kalisa sambil menetralkan kembali mimik mukanya. Yang tadinya gelisah, berusaha ceria.


Ibu masuk dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tuanya.


Beliau ikut duduk ditepian ranjang, dimana putrinya berada.


"Ada apa Bu?" Tanya Kalisa.


Ibu lebih dulu mengambil telapak tangan anaknya untuk beliau genggam. Mengusap-usap punggung tangan itu, mengalirkan segenap rasa sayang.


"Lis... Kamu tidak marah pada ibu dan ayah kan?" Tanyanya, semenjak pulang ke rumah. Kalisa jadi irit sekali bicara. Eh bukan, tetapi semenjak berita pernikahannya.


Kalisa menunduk sebentar, jawaban apa yang sebenarnya ibunya inginkan? Haruskah ia jujur kalau ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini? Kalau dengan jujur bisa merubah keadaan, ia pasti akan lakukan.


Wanita itu akhirnya menggelengkan kepalanya.


"Aku sama sekali tidak marah atau apapun itu Bu." Jawab Kalisa seraya tersenyum ke arah ibunya. Tak ingin membuat wanita yang telah melahirkan nya bersedih, hanya karena tak ketersediaan nya.


Karena kali ini ia sudah pasrah. Tak tahu harus seperti apa. Ia tak bisa berharap lagi pada lelaki bernama Rama.


Lillahi ta'ala saja. Batinnya berbicara.


Namun ibu tetap tidak bisa dibohongi, kesedihan di wajah Kalisa tidak dapat ditutupi. Beliau melepaskan genggaman itu, lalu memeluk putrinya.


"Maafkan ibu dan ayah yah Lis. Kami berdua hanya ingin yang terbaik untukmu nak. Karena sakitmu, sakitnya kami juga. Dan bahagiamu, adalah bahagia kami juga." Ucap ibu dengan mengelus punggung Kalisa.


Tak dapat membendung lagi, akhirnya cairan bening yang sedari tadi sudah menganak sungai, mengalir tanpa bisa dicegah. Semoga ini memang jalan terbaik dari sang Kuasa untuknya.


Dengan begitu, ia bisa melupakan kembali cintanya pada Rama.


******

__ADS_1


Akhirnya hari itu telah datang, hari yang sama sekali tidak diinginkan oleh seorang Kalisa. Ingin menghindar, tetapi ia bisa apa?


Ia cukup kecewa pada Rama, karena nyatanya ucapan lelaki itu tidak dapat di percaya. Semuanya hanya omong kosong belaka.


Ruangan dirumah Kalisa sudah di hias dengan sederhana. Acara sakral itu akan di adakan beberapa jam lagi, dirumah ini.


Berkali-kali tim MUA meminta Kalisa untuk tidak menangis, agar tugas mereka cepat selesai. Tetapi Kalisa seakan tak mendengar.


Hanya karena satu kata, yaitu kecewa.


Namun begitu keteguhan hatinya kembali, ia mengelap cairan bening itu dengan perlahan. Ia menghentikan isak tangis nya yang tak berguna sama sekali. Hingga akhirnya tim MUA bisa segera menyelesaikan tugas mereka.


Setelah selesai berdandan Kalisa ditinggal seorang diri di kamar pengantin nya, terdengar suara riuh dari luar, karena seperti nya acara sakral akan segera dimulai.


Tanpa permisi, tiba-tiba anak lelakinya masuk ke dalam kamar. Kalisa langsung menerbitkan senyum manisnya untuk sang putra sulung. Reyhan.


Bocah lelaki itu mendekat, duduk disamping Kalisa lalu memeluk sang bunda erat.


"Bunda cantik hari ini." Ucapnya jujur, ia mendongak lalu menatap lekat wajah Kalisa yang dipenuhi riasan tipis.


"Benarkah?" Tanya Kalisa, lalu Reyhan mengangguk cepat.


"Bunda... Bunda akan menikah dengan om baik kan?" Tanya Reyhan, membuat perputaran waktu di dunia Kalisa seakan terhenti. Hatinya yang sedari tadi sudah ia kuatkan harus goyah kembali, hanya karena mendapati pertanyaan seperti ini.


"Bunda... Bunda pasti akan bahagia." Ucap Reyhan sungguh-sungguh.


Mendengar itu bibir Kalisa jadi melengkung. Lalu mengusak kepala Reyhan dengan gemas.


"Kita yang akan bahagia, bukan hanya bunda." Ucap Kalisa, lalu mengecup kepala anaknya cukup lama.


******


Suara keramaian semakin terdengar di telinga Kalisa, sejak kepergian putra sulungnya.


Kalisa tidak tuli, atau memiliki riwayat penyakit pendengaran. Dengan jelas ia mendengar, diluar sana, sebentar lagi akan di adakan ijab qobul, itu artinya dia sudah benar-benar pasrah. Ia tidak bisa lagi menolak takdir ini, bahwa sebentar lagi ia akan kembali menjadi seorang istri.


Yang mana, ia tidak tahu bagaimana bentuk wajah calon suaminya, bekerja sebagai apa, tinggalnya dimana, bahkan namanya saja ia tidak tahu.


Saking fokusnya ia pada pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab sendiri, ia tak mendengar bahwa acara sakral itu sedang dilangsungkan.


Hingga akhirnya suara riuh orang berteriak.

__ADS_1


Sah?


"SAH." Jawab mereka kompak.


Seketika air mata Kalisa mengalir begitu saja. Ingin rasanya ia berteriak, melepaskan sesak di dada.


Ya Allah... Benarkah aku akan bahagia? hanya kalimat itu yang terus ia tanyakan pada hatinya.


Sekali lagi, pintu kamarnya telah dibuka oleh seseorang, dan itu adalah ibundanya. Ia yakin sang ibu kini akan menjemputnya, menyerahkan nya pada lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Lis..." panggil ibu penuh kelembutan.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Kalisa melihat ke arah ibunya, ia mengangguk. Menandakan bahwa ia siap untuk keluar, bertemu dengan semua orang.


Ibu menuntun Kalisa keluar dari rumah, karena acara itu memang di adakan di teras depan.


Dan disana ia bisa melihat, punggung orang yang baru saja sah menjadi suaminya, dengan melihat punggung itu saja, air matanya tak berhenti untuk menetes.


Dengan langkah perlahan, ia mulai mendekat, begitu sampai, ia segera menunduk dan duduk disamping lelaki itu.


"Selamat yah kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan untuk tukar cincin." ucap pak penghulu.


Lelaki itu tersenyum ramah, lalu mengambil cincin untuk dipasangkan di jari manis istrinya.


Ia mencoba meraih tangan kiri Kalisa, tak dipungkiri keringat dingin sudah sedari tadi membanjiri telapak tangannya hingga basah. Gugup, begitulah yang ia rasa.


Awalnya wanita itu ragu, namun perlahan ia menyerahkan juga jari manisnya untuk di pasangkan cincin kawin, tanpa mau melihat ke arah sang suami.


Begitu selesai, Kalisa mencium tangan suaminya dengan takdzim, membuat lelaki itu melengkung kan bibirnya tak habis-habis.


Setelahnya barulah ia mencium kening Kalisa cukup lama. Mengalirkan, betapa bahagianya ia dengan hari ini, hari yang ia nanti.


Begitu ciuman dikeningnya usai, Kalisa sedikit mendongak berniat untuk mengintip wajah suaminya. Lelaki itu tersenyum manis sekali, sedangkan mata Kalisa langsung membola, rasanya ia begitu tak percaya.


"Mas Rama?" desisnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


Dah kan sah?


__ADS_2